Sastra di Indonesia sudah mulai berkembang sejak abad ke-20. Sejak saat itu sampai dengan sekarang, perkembangan sastra terbagi ke dalam masing-masing angkatan atau dikenal dengan periodisasi sastra. Periodisasi sastra penting adanya karena dengan periodisasi sastra dapat memudahkan kita dalam mengenal dan mengikuti perkembangan sastra dari masa ke masa. 

Dengan adanya periodisasi sastra, baik sastrawan maupun penikmat karya sastra dapat mengetahui ciri khas atau karakteristik pada setiap angkatan sastra. Karakteristik sastra pada setiap angkatan juga dapat diketahui melalui karya sastra yang hadir pada angkatan tersebut. 

Pada angkatan 2000 misalnya, periodisasi sastra angkatan ini ditandai dengan munculnya pengarang-pengarang perempuan. Meskipun sebenarnya pengarang perempuan sudah ada sejak zaman dahulu, tetapi pada angkatan ini isu yang diangkat oleh para pengarang terkesan lebih berani. Karakteristik sastra pada angkatan ini juga tidak terlepas dari persoalan-persoalan yang dibahas melalui karya sastra angkatan 2000. Untuk mengetahui karakteristik sastra angkatan 2000, maka perlu diketahui karya-karya sastra yang hadir pada saat itu.

Berbicara tentang sastra tentu tidak terlepas dari karya-karya sastra. Melalui karya sastra inilah siapapun dapat melihat perkembangan sastra dari masa ke masa. Melalui karya sastra ini juga, para pengarang mengekspresikan pemikiran maupun perasaan mereka tentang apa saja, termasuk keadaan sosial pada masanya dan karena itu sastra dapat dikatakan sebagai cerminan budaya masyarakat. 

Dengan adanya karya sastra juga menghadirkan perkembangan dalam dunia sastra baik dari segi pemikiran, tokoh, bahkan jenis karya sastra itu sendiri. Pada sastra angkatan 2000 misalnya, pemikiran atau ideologi yang diangkat banyak memuat persoalan perempuan. 

Hal ini ditandai dengan banyak munculnya tokoh pengarang perempuan yang mengangkat hal-hal yang bertemakan gender, perkelaminan, seks, dan feminisme. Kemudian jenis karya sastra pada angkatan ini didominasi oleh novel, cerpen, hingga munculnya sastra cyber. Berikut merupakan karakteristik sastra angkatan 2000 beserta karya sastra yang mewakilinya:

1. Kemunculan Kaum Perempuan

Kemunculan kaum perempuan sudah hadir sejak dulu, tetapi pada sastra periode reformasi sampai dengan sekarang (termasuk angkatan 2000) kemunculan kaum perempuan mulai menjadi pusat perhatian karena tema pada karya yang mereka angkat. Di antara pengarang perempuan itu adalah:

-Ayu Utami,

-Djenar Mahesa Ayu,

-Dewi Lestari,

-Oka Rusmini,

-Rieke Diyah Pitaloka,

-Helvy Tiana Rosa,

-Asma Nadia.

2. Sastra Perkelaminan

Sastra perkelaminan merupakan nama atau sebutan yang muncul atas fenomena munculnya pengarang perempuan dengan mengangkat wacana yang sama dalam karya mereka. Sastra ini juga membahas tentang ideologi patriarki, feminism, dan seks. Berikut merupakan karya sastra yang memuat perihal sastra perkelaminan:

-Novel Saman (1998)

Ayu Utami menulis beberapa karya, salah satunya yang cukup menuai pro kontra adalah novel Saman. Novel ini dianggap menjadi tonggak kebangkitan para pengarang perempuan. Novel ini menuai pro dan kontra dikarenakan menuai kritik juga penghargaan dari para pengamat sastra. Dalam novel ini, Ayu Utami dianggap sangat berani berbicara secara terang-terangan mengenai seks.

-Novel Nayla (2005)

Nayla merupakan novel karya Djenar Mahesa Ayu. Novel ini mengambarkan penyimpangan gender yang tidak biasa yaitu perempuan sebagai pelaku kekerasan verbal.

-Tarian Bumi (2000) dan Kenanga (2003)

Novel ini merupakan novel karya Oka Rusmini. Melalui novel ini, Oka Rusmini menggugat tradisi adat, budaya, dan agama yang selalu memojokkan perempuan.

3. Muncul Karya Populer yang Mudah Dipahami Pembaca

Karya sastra tidak jarang menimbulkan banyak tafsir yang membuat pembaca kesulitan memahami isinya. Namun pada sastra angkatan 2000, muncul banyak karya sastra yang mudah dipahami pembaca. 

Karya sastra yang muncul ini semakin mudah dipahami pembaca karena mengangkat isu-isu yang ringan dan lazim diketahui oleh kebanyakan orang. Selain itu karya sastra pada angkatan ini juga banyak divisualisasikan, salah satunya melalui fim. Berikut merupakan karya popular yang muncul pada sastra angkatan 2000:

-Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy

-Laskar Pelangi karya Andrea Hirata

-Perahu Kertas karya Dewi Lestari

4. Muncul Sastra Cyber

Sastra cyber adalah segala bentuk kegiatan atau aktivitas sastra yang menggunakan medium internet. Pada angkatan 2000 seiring dengan berkembangnya digitalisasi dalam hal apa saja, sastra pun mengalami digitalisasi dalam wujud karyanya. Jika sebelumnya karya sastra kita ketahui dalam bentuk media cetak, kini berkembang menjadi media digital. Berikut merupakan media-media digital yang memfasilitasi adanya sastra cyber:

-Wattpad

-Webtoon

-Alternate Universe di Twitter

Melihat karakteristik dan karya sastra pada sastra angkatan 2000, dapat dikatakan sastra angkatan 2000 sebagai sastra modern. Hal ini dikarenakan pada sastra angkatan 2000, perkembangan yang ada mulai mengacu pada modernisasi sastra-sastra angkatan sebelumnya. 

Modernisasi pada sastra angkatan 2000 pun terjadi pada berbagai aspek, misalnya dari segi kepenulisan, tema cerita yang diangkat, dan bentuk ataupun jenis karya sastra itu sendiri. Dapat disimpulkan bahwa perkembangan sastra yang hadir pun sejalan dengan perkembangan zaman dari masa ke masa.