Dalam artikel sebelumnya dengan judul, “Mengenang Tirtokoesoemo: Ketua Pertama Boedi Oetomo” (Qureta.com), penulis telah memberikan deskripsi singkat mengenai Bupati Karanganyar (yang kelak dihapuskan dan tahun 1936 menjadi bagian wilayah Kebumen) bernama R.A.A. Tirtokoesoemo yang juga adalah seorang ketua pertama Boedi Oetomo.

Melalui tulisan berikut, penulis akan memperkenalkan sosok Bupati Karanganyar pengganti R.A.A. Tirtokoesoemo, yaitu putra sulungnya yang bernama Iskandar Tirtokoesoemo. Kedua nama ini tidak begitu banyak dikenal oleh generasi muda di wilayah Kabupaten Kebumen mengingat tidak adanya sumber-sumber dokumen yang dapat dijadikan rujukan yang menuliskan kisah dan ketokohan serta kontribusi mereka di era kolonial.

Melalui pengkajian berita dan artikel surat kabar berbahasa Belanda, didapati sejumlah informasi penting yang patut diketahui oleh generasi muda mengenai masa lalu di saat wilayah Karanganyar masih berdiri sendiri sebagai sebuah kabupaten mandiri bersama Kebumen. Artikel ini sekaligus berusaha mengisi kekosongan narasi mengenai tokoh dan pemimpin serta kehidupan sosial di Kabupaten Karanganyar era kolonial.

Sumber informasi yang berharga mengenai riwayat hidup singkat Iskandar Tirtokoesoemo didapatkan dalam sebuah berita koran dengan judul, “Karanganjar’s Regent: De plechtige uitreiking van de Gele Song-Song” (Bupati Karanganjar: Upacara Khidmat Penyerahan Songsong Kuning) yang dimuat oleh harian De Locomotief (06-11-1931).

Sebelum memasuki riwayat ringkas dan kontribusi Iskandar Tirtokoesoemo, kita menilik terlebih dahulu judul dan isi berita tersebut. Judul berita tersebut di halaman pertama koran De Locomotief (06-11-1931). Apa itu “Songsong kuning” (gele songsong)? Songsong adalah sebuah istilah untuk payung kehormatan yang diberikan kepada seorang pejabat publik karena berbagai jasa yang telah dilakukannya di era kerajaan dan era kolonial.

Di era kolonial, para pejabat publik seperti bupati masuk dalam kategori Inlands Bestuur alias birokrasi pelaksana pemerintahan kolonial di daerah. Sementara birokrasi pelaksana di pemerintahan pusat dikategorikan Binenlads Bestuur yang dijabat oleh orang Belanda.

Bagi para pejabat publik di wilayah Inlands Bestuur yang telah berjasa baik bagi berjalannya roda pemerintahan maupun kemakmuran rakyat dan wilayah yang dipimpinnya makan akan mendapatkan bukan hanya kenaikan jabatan melainkan payung kehormatan yang disebut “songsong kuning/emas”.

Sebagaimana pemerintahan Aroenbinang VII (1909-1936) yang menjabat sebagai Bupati Kebumen dilaporkan menerima penghargaan songsong kuning pada tahun 1922 (Teguh Hindarto, “Songsong Kuning di Rumah Pusaka Kabupaten Kebumen, Milik Siapa?” – inikebumen.net), demikianlah masa pemerintahan Iskandar Tirtoekoesoemo pada tahun 1931 menerima penghargaan songsong kuning.

Koran  De Locomotief membuka laporannya dengan memberikan deskripsi suasana kemeriahan pagi di bulan November 1931 sbb:

“Kota Karanganjar yang tenang sudah bergerak pagi ini dan secara bertahap jumlah (orang yang) penasaran di alun-alun yang dihiasi bendera meningkat dari ratusan menjadi ribuan, karena tidak hanya pihak berwenang dan pejabat, namun juga orang kecil, ingin menyaksikan peristiwa luar biasa yang dialami Kandjeng Bupati. 

Hari ini adalah hari di mana bupati Karanganjar, Tuan R.A.A Iskandar Tirtokoesoemo, yang dicintai oleh rakyat kabupatennya dan dihormati oleh semua orang, akan diberikan keputusan yang memberinya izin untuk memakai dan menampilkan songsong kuning (het dragen en voeren van de gele songsong”

Upacara penyerahan songsong kuning dihadiri oleh bupati lama Magetan berusia 84 tahun yang adalah juga ayah mertua Bupati Karanganjar. 

Selain itu dihadiri pula Bupati Bojonegoro, Bantul, Kebumen, Kutoardjo, Poerworedjo, Banyumas, Cilacap, Purbolinggo, Semarang dan Brebes, kepala dan semua petugas lainnya dari Gombong, Asisten Residen Cilacap, Banyumas, Purwokerto, Karanganyar, Kebumen, serta berbagai inspektur, calon inspektur, anggota kekuasaan kehakiman, administrator perusahaan terdekat, perwakilan perdagangan dari Cilacap, perwira Cina, patih, orang pribadi, wedono, asisten wedono dan beberapa pejabat rendah pribumi.

Kita bisa membayangkan keramaian di alun-alun Karanganyar dan pendopo kabupaten di mana ada “dua ratus mobil (eentwee honderd tal auto’s) membawa masuk para tamu”. 

Lagu kebangsaan belanda Wilhelms dan gamelan bahkan iringan musik jazz dari Yogya menghantarkan iring-iringan rombongan memasuki pendopo sebagaimana dikatakan, “Een jazz-band uit Jogja en gamelanmuziek”. Penulis berita menggambarkan suasan hari itu sebagai, “Seluruhnya memberikan tampilan ceria dan menyenangkan” (Het geheel gaf een vroolijken en prettigen aanblik).


Selebihnya koran De Locomotief melaporkan sambutan dari Residen Banyumas (Karanganyar pernah menjadi wilayah Karesidenan Bagelen, Kedu, Banyumas kemudian kembali ke Kedu) W. Ch Andriaans bergantian dengan Asisten Residen Karanganyar serta pidato jawaban dari Bupati Karanganyar serta penyerahan songsong kuning dan surat keputusan.

Iskandar Tirtoekoesoemo lahir di Buitenzorg (sekarang Bogor) pada tanggal 31 Januari 1884. Menikah dengan seorang putri dari mantan bupati Magetan R.M. Kartoadinegoro. 

Pada waktu riwayat ini ditulis, Bupati Magetan yang baru bernama R.M.A.A Hadiwinoto adalah saudara istri Iskandar Tirtokoesoemo, sehingga bupati Karanganyar adalah saudara ipar bupati Magetan dan berada dalam hubungan keluarga yang sama dengan bupati Brebes R.T. Pringgohaditirto, yang menikah dengan saudara perempuan bupati dari Karanganjar.

Setelah menyelesaikan sekolah dasar kemudian memasuki H.B.S. Setelah mengunjungi Semarang, pada usia 17 di bulan Mei 1901 Tirtoekoesoemo ke Belanda, di mana ia menerima H.B.S. mengunjungi Leiden dan pada tahun 1905 lulus ujian akhir H.B.S selama lima tahun dengan hasil yang mengesankan.

Dia ingin terus belajar untuk menjadi seorang insinyur di Delft, tetapi tidak bisa mendapatkan izin dari orang tuanya dan dia harus kembali ke Jawa, karena keluarganya lebih suka melihatnya menjadi oegawai negeri di negeri asalnya.

Sejak usia muda, Tirtoekoesoemo sangat antusias dengan olahraga, seperti tenis, sepak bola, menunggang kuda, kegel (bowling), dll. Ia adalah salah satu pendiri asosiasi sepakbola HBS Go-Ahead yang terkenal di Semarang dan sekarang menjadi ketua kegelclub (klub bowling) di Gombong dan hobinya merawat  kuda, sapi, rusa, burung dll.

Iskandar Tirtoekoesoemo kembali ke Jawa pada tahun 1905 dan menjadi anggota afdeling B di Weltevreden hingga tahun 1906, setelah itu ia melayani ayahnya sebagai seorang magang (penulis yang tidak dibayar) selama 6 bulan. Karier resminya dimulai dari sini.

Pada bulan Agustus 1907 ia dipercaya untuk meengawasi pegawai sementara di Algemeene Rekenkamer (Kamar Audit Umum). Dengan keputusan residen Batavia pada Mei 1908 ia diangkat sebagai patih juru tulis di afdeling Stad en Voorsteden (Kota dan Pinggiran Kota) Batavia dan Tuan Cornelis. 

Dengan surat keputusan yang sama pada November 1908 diikuti pengangkatannya sebagai asisten wedono kecamatan Pasar Senen, distrik Weltefvreden, afdeling Stad en Voorsteden (Kota dan Pinggiran Kota).

Dengan Keputusan Pemerintah Juni 1911, ia diangkat sebagai Inlandsch Officier van Justitie (Jaksa Pengadilan Umum Pribumi) dengan jabatan adjunct-hoofdjaksa (wakil ketua jaksa) di Dewan Pengadilan di Batavia. Dia tetap dalam posisi ini hanya beberapa bulan. 

Pada bulan Desember 1911, ia diberhentikan dengan hormat untuk menerima pengangkatannya oleh Residen Kedoe sebagai Asisten Wedono dari distrik Kemoedjan, distrik Poering, Kabupaten Karangandjar, afdeling Kebumen.

Bekerja selama tiga bulan, kemudian diangkat menjadi Bupati Karanganjar berdasarkan Keputusan Pemerintah No. 3 tanggal 12 April 1912 dengan No. 3. Sebagai bentuk penghargaan atas jasanya, ia pertama kali dianugerahi gelar “Ario” dan kemudian “Adipati” dan sekarang diberi hak untuk memiliki Songsong Kuning. Selama masa pemerintahannya, kontribusi dari pemerintah dan penduduk menciptakan Rumah Sakit Pribumi “Nirmolo”.

Sedikit catatan mengenai keberadaan Ziekenhuis Nirmala atau masyarakat menyebutnya dengan Panti Raga Nirmala. Dalam sebuah artikel berjudul, “Het Inlandschen Ziekenhuis Nirmala te Karanganyar” (Rumah Sakit Pribumi di Karanganyar) yang dimuat harian Bataviasch Nieuwsblad, (10-07-1925) disebutkan demikian:

“Melanjutkan pekerjaan almarhum ayah dan pembimbingnya, bupati Karanganyar saat ini yaitu Raden Toemengoeng Aria Iskandar Tirtoekoesoemo pada bulan Januari 1919 mendirikan asosiasi nirmala yang bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat/komunitas pribumi dalam pengobatan Eropa dan memberikan bantuan untuk orang sakit serta mengalami luka”

Artikel inipun memberikan laporan perihal tarikh berdirinya rumah sakit pribumi ini, “Nirmala didirikan 1 Januari 1919, namun peletakan batu pertama untuk rumah sakit baru dapat dilakukan pada 3 Desember 1922 sementtara pembukaan dilakukan pada 15 Juni 1924 dan disusul aula wanita diresmikan pada 30 April 1925”

Sejak tahun 2018, keberadaan bangunan Nirmala menjadi Puskesmas Karanganyar (Teguh Hindarto, Ziekenhuis Nirmala (RS Nirmala): Monumen Kemandirian Perawatan Kesehatan Masyarakat Karanganyar, historyandlegacy-kebumen.blogspot.com).

Sedikit catatan mengenai kegemaran memelihara hewan termasuk kuda, menghantarnya menjadi seorang bupati yang piawai mengelola keberadaan perlombaan balapan kuda. Dalam sebuah berita dengan judul, “Hippische Sport in Karanganjar” (Lomba Pacuan Kuda di Karanganyar) yang dimuat oleh harian De Preanger Bode (20-07-1918) dibuka dengan kalimat sebagai berikut:

“Di antara balapan tahunan di kota-kota kecil kami, yang ada di Kabupaten Karanganjar, Afdeling, menempati urutan pertama (een eerste plaats in)” (Teguh Hindarto, “Lomba Pacuan Kuda di Karanganyar Lama” – historyandlegacy-kebumen.blogspot.com)

Kiranya uraian singkat mengenai keberadaan Iskandar Tirtokoesoemo dapat semakin melengkapi narasi historis Karanganyar saat masih berdiri sebagai kabupaten mandiri yang pada saat Iskandar Tirtokoesoemo menjabat dan menerima Songsong kuning penduduknya sebanyak 400.000 jiwa dan disebut sebagai kabupaten yang, “zeer dicht bevolkt is” (berpendudu sangat padat).