Apa yang terlintas dalam benak Anda ketika ditanya tentang pertahanan? Sebagian besar pasti menjawab militer, tentara, perang, Sun Tzu dan hal-hal lain terkait perang. Jawaban seperti itu memang tidak salah.

Bicara pertahanan pasti terkait dan identik dengan militer. Kita pasti mengenal nama Sun Tzu seorang ahli seni perang dari China, begitu juga nama seorang Jenderal Clausewitz yang menulis buku On War, buku yang sangat fenomenal tentunya.

Sederet nama-nama besar dalam kancah militer dunia, sebut saja Khalid Bin Walid, Muhammad Al Fatih, Napoleon, Jullius Caesar, Jengkhis Khan, Jenderal Soedirman, Jenderal Douglas MacArthur, Jenderal Vo Nguyen Giap. Kiprah mereka dalam lintasan sejarah telah memberikan banyak pengetahuan dalam dunia militer dan perang.

Ilmu pertahanan pada masa modern sekarang ini bukan lagi menjadi domain militer semata. Begitu banyak keterlibatan ilmu pengetahuan lain yang menjadi bagian dari ilmu pertahanan tersebut. Kelompok masyarakat di luar militer tentu saja masih kesulitan dalam memahami bagaimana relasi konsep pertahanan sebagai ilmu yang terikat dan terkait dengan seluruh ilmu pengetahuan yang ada pada saat ini.

Untuk mengenal apa dan bagaimana ilmu pertahanan, tentu kita harus melihat dari sisi epistemologis terlebih dahulu. Pertahanan sebagai ilmu tentu saja lahir dari berbagai peristiwa yang telah dialami pada masa lalu, yang pada akhirnya melahirkan asal usul dan kemudian berkembang menjadi strategi, meningkat menjadi ilmu dan seni perang yang pada akhirnya menjadi Ilmu Pertahanan berikut hubungan dengan ilmu-ilmu lainnya. (Makmur Supriyatno :2014, Tentang Ilmu Pertahanan).

Ilmu pertahanan berbicara dalam ruang lingkup dan materi yang menjadi bagian dari ilmu pertahanan itu sendiri. Sebut saja manajamen pertahanan, kebijakan pertahanan, kerja sama pertahanan, strategi pertahanan, diplomasi pertahanan, pertahanan dalam negeri, ekonomi pertahanan, strategi pertahanan, intelijen pertahanan, geografi pertahanan, nilai-nilai pertahanan dan tentang geopolitik, yang keseluruhannya berkaitan erat dengan pertahanan.

Sangat menarik ketika kita membuka discourse bagaimana mengkaji berbagai hal tentang pertahanan. Sedikit demi sedikit akan terbuka pemahaman kita bahwa ternyata pertahanan itu tidak sekedar bicara tentang sebuah ancaman yang mengganggu kedaulatan bangsa dan negara.

Akan tetapi pertahanan ternyata merupakan ilmu pengetahuan yang memberikan sumbangsih yang luar biasa bagi stabilitas keamanan dunia yang pada akhirnya menjadi manfaat bagi kemanusiaan dan kesejahteraan.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa sampai hari ini selalu saja ada ancaman antar negara dengan negara, maupun antara negara dengan kelompok bukan negara (non-state actor). Oleh karena itu, sebuah negara mutlak memerlukan sistem pertahanan yang melibatkan seluruh sumber daya yang dimiliki oleh negara tersebut.

Bagi Indonesia sendiri, kemampuan dalam mengelola berbagai sumber daya yang ada menjadi sangat penting. Mengapa tidak, kekayaan alam kita menjadi alasan bagi pihak lain untuk datang ke Indonesia. Fakta sejarah sudah cukup membuktikan, bagaimana Portugis dan Belanda menjajah bangsa ini hanya karena urusan rempah rempah.

Dalam menganalisa ancaman yang pasti dan akan dihadapi negara kita, baik dari dalam maupun dari luar negeri, mesti kita sikapi dengan menggunakan kerangka analisis ilmu pertahanan bersama dengan aspek ekonomi dan diplomasi.

Adapun maksud dari kerangka analisis tersebut adalah untuk menunjukkan betapa signifikannya ilmu pertahanan dalam menentukan eksistensi, kedaulatan dan integritas teritorial suatu negara, termasuk Indonesia.

Pengertian dan Hubungan Ilmu Pertahanan dengan Berbagai Ilmu Lainnya

Mengutip The Liang Gie dalam ensiklopedi ilmu-ilmu yang menyebutkan bahwa ilmu terdiri dari 6 (enam) rumpun besar, yaitu ilmu pengetahuan pasti, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan hayati, ilmu pengetahuan kejiwaan, lmu pengetahuan kemasyarakatan dan ilmu pengetahuan kebahasaan. Bahwa kemudian dari rumpun ilmu di atas akan muncul 2 (dua) segi murni, yaitu pengetahuan dan terapan.

Ilmu militer dan ilmu perang pada masa sekarang ini hanyalah bagian dari Ilmu Pertahanan. Ilmu pertahanan jauh lebih luas dari ilmu tersebut. Secara akademis sampai saat ini memang belum ditemukan defenisi yang tepat untuk menjelaskan apa Ilmu Pertahanan itu sendiri.

Akan tetapi beberapa pakar ilmu pertahanan sudah mencoba memberikan defenisi tentang Ilmu Pertahanan, seperti pendapat Brigjen Purn Makmur Supriyatno yang menyatakan bahwa Ilmu pertahanan merupakan ilmu yang mempelajari bagaimana mengelola sumber daya dan kekuatan nasional pada saat damai, perang dan pada saat sesudah perang, guna menghadapai ancaman militer dan non militer terhadap keutuhan wilayah, kedaulatan negara, dan keselamatan segenap bangsa dalam rangka mewujudkan keamanan nasional.

Pertahanan bukanlah suatu ilmu yang berdiri sendiri, ada hubungan yang begitu erat dengan berbagai ilmu lainnya, seperti filsafat, politik, antropologi, demografi, ekonomi, sejarah, hukum, ilmu negara, ilmu kebumian, ilmu pasti, bahasa dan juga psikologi.

Dalam tulisan kali ini, tentu saja tidak bisa menguraikan semua relasi Ilmu Pertahanan dengan berbagai ilmu pengetahuan yang telah disebut di atas. Namun untuk memberikan gambaran, saya akan coba uraikan bagaimana relasi Ilmu pengetahuan dengan filsafat. Kemudian dalam hubungan dengan ilmu lainnya akan saya uraikan dalam artikel berikutnya.

Hubungan dengan Filsafat

Bahwa kemajuan teknologi sekarang ini telah berhasil menemukan dan menciptakan berbagai jenis senjata pemusnah massal. Tragedi bom atom Hiroshima dan Nagasaki menjadi awal munculnya senjata pemusnah ini. Senjata senjata kimia yang sangat berbahaya di mana efek perusaknya lebih dahsyat dari bom atom juga telah berhasil diciptakan.

Kondisi ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Pemusnah massal hanya akan mengakibatkan kerusakan dunia, tidak peduli siapa negara yang menggunakannya dan ditujukan kepada negara yang mana. Yang pasti dunia yang akan menanggung risikonya.

Perang memang bicara tentang menghancurkan dan atau membunuh musuh. How to destroy enemy’s and the armed forces and to occupancy the enemy’s territorial adalah tujuan perang.

Filsafat kemudian menjadi relasi utama dengan ilmu pertahanan. Aspek kemanusiaan dan alam semesta pada hakikatnya tidak boleh dirusak. Perang menjadi media perusak yang paling berbahaya.

Pikiran-pikiran tentang kenapa harus perang? Kenapa harus membunuh manusia? Kenapa perdamaian menjadi hal penting yang harus dijaga oleh seluruh umat manusia? Pemikiran-pemikiran inilah kemudian yang menjadikan filsafat dalam pertahanan dan perang menjadi penting.

Perang bisa diintervensi oleh Filsafat dengan cara positif. Salah satunya adalah kemunculan hukum internasional yang bisa mengatur bagaimana sesungguhnya perang dijalankan. Norma-norma perang, hukum humaniter adalah hasil hasil pemikiran yang bertujuan menyelamatkan manusia dari penderitaan perang. (Makmur Supriyatno :2014, Tentang Ilmu Pertahanan).

Tulisan ini bisa menjadi pemantik awal bagi pembaca untuk tertarik mengenal dan memahami Ilmu Pertahanan. Ilmu Pertahanan ternyata memiliki banyak dimensi. Menangkal ancaman yang dapat mengganggu keutuhan wilayah ternyata tidak semata mata domainnya militer, sebagai anak bangsa kita berkewajiban untuk bahu-membahu bersatu menjaga kedaulatan Indonesia.