Di samping ilmu tafsir yang dikenal sebagai teori penafsiran Kitab Suci al-Qur’an di kalangan komunitas Muslim, jauh sebelum itu sudah dikenal pula sebuah teori yang diasosiasikan kepada salah seorang utusan  Dewa dalam mitologi Yunani kuno.

Utusan Dewa itu bernama Hermes. Dalam mitologi Yunani kuno, dialah yang diberi tugas untuk menyampaikan dan menjelaskan pesan-pesan Dewa kepada seluruh umat manusia.

Menurut sebagian pendapat, Hermes itu tidak lain dan tidak bukan adalah Nabi Idris a.s. yang dikenal sebagai seorang nabi dan rasul dalam keyakinan umat Islam. Pendapat ini misalnya dikemukakan oleh pakar tafsir M. Quraish Shihab, sebagaimana yang beliu kutip dari keterangan Muhammad Thahir ibn 'Asyur.

Dari nama Hermes tersebut muncul-lah istilah "hermeneutika". Hermeneutika itu sendiri merupakan kata yang berasal dari bahasa Yunani, hermeneuine dan hermenia, yang masing-masing berarti menafsirkan dan penafsiran.

Istilah tersebut dalam berbagai bentuknya dapat dibaca dalam sejumlah literatur peninggalan masa Yunani kuno, seperti Organon karya Aristoteles yang di dalamnya terdapat risalah terkenal Peri hermeneias (tentang penafsiran).

Ia juga digunakan dengan bentuk nominal dalam epos Oediptus at Colonus, beberapa kali muncul dalam tulisan-tulisan Plato, dan pada karya-karya para penulis kuno, seperti Xenophon, Plutarch, Euripides, Epicurus, Lucretius, dan Longinus.

Sebagai sebuah metode, hermeneutika digunakan pertama kali di kalangan sebagian cendikiawan Kristen Protestan sekitar tahun 1654 M. Mereka itu adalah yang tidak puas dengan penafsiran gereja terhadap teks Perjanjian Lama dan Baru.

Tidak heran jika The New Encyclopedia Britannica menjelaskan bahwa hermeneutika adalah The study of the general principle of Biblical interpretation to discover the truths and values of the Bible (Studi atas prinsip-prinsip umum tentang penafsiran Bibel untuk mencari kebenaran dan nilai-nilai kebenaran Bibel)

Sikap kritis terhadap Gereja semakin dipertajam dengan lahirnya filsafat rasionalisme, empirisme, dan positivisme. Menurut penganut filsafat itu, Kitab Suci harus didekati dan diterangkan seturut keterangan rasional. Teks Kitab Suci tidak berbeda dari karya sastra lainnya.

Karena itu dalam penyelidikan atau interpretasi, teks itu mesti diperlakukan sama dengan karya sastra yang lainnya. Semua hal yang tidak dapat dimasuki rasio manusia mesti disingkirkan dari teks Kitab Suci, agar manusia sampai pada inti, pesan atau maknanya bagi manusia kini dan di sini.

Dalam bingkai ini lahirlah filsafat interpretasi, atau mungkin lebih tepat teori interpretasi, yang dalam khazanah filosofis disebut hermeneutika.

Jadi, pada mulanya hermeneutika merupakan sebuah teori yang dikembangkan oleh sebagian aktifis Gereja Protestan untuk merekonstruksi penafsiran Kitab Suci mereka. Dimana jauh sebelumnya dikuasai oleh otoritas Gereja yang menganggap bahwa hanya mereka yang boleh menafsirkan Kitab Suci.

Seiring dengan perkembangan zaman, hermeneutika pun ikut berkembang pula. Dari awalnya yang hanya dikenal sebagi sebuah teori interpretasi teks Kitab Suci, sampai merambah ke berbagai bidang-bidang lainnya. Dalam hal ini, hermeneutika dapat dikelompokkan kepada enam pembagian.

Pertama, hermeneutika sebagai teori penafsiran Kitab Suci (theory of biblical exegesis). Ini merupakan praktek tertua dari hermeneutika. Dan atas dasar inilah munculnya hermeneutika yang merupakan sebagai tata cara untuk menafsirkan dan menjelaskan Kitab Suci umat Kristen.

Kedua, hermeneutika sebagai metodologi Filologi Umum (general philological methodology). Pada fase ini, hermeneutika bukan lagi hanya sebatas teori interpretasi teks Kitab Suci, akan tetapi sudah berkembang kepada usaha untuk menyelidiki konteks histori dari teks tersebut.

Yang menjadi penting disini adalah, bahwa sang penafsir tidak lagi hanya menarik nilai-nilai moral dari suatu teks, tetapi juga mampu memahami “roh” yang berada di balik teks, dan kemudian menterjemahkannya secara rasional sesuai konteks yang berlaku.

Ketiga, hermeneutika sebagai ilmu tentang semua pemahaman bahasa (science of all linguistic understanding). Periode ini menganggap hermeneutika sebagai sebuah seni dalam memahami. Sebagai sebuah seni, hermeneutika harus menampakkan interpretasi yang baik dan indah.

Keempat, hermeneutika sebagai landasan metodologis dari ilmu-ilmu kemanusiaan (methodological foundation of geisteswissenchaften). Ilmu-ilmu kemanusiaan itu membutuhkan pemahaman lebih dari pada yang lainnya.

Oleh karena itu, ilmu seperti seni, sastra, pertunjukan, tulisan, antropologi, psikologi, sejarah, politik, dan lain-lain, harus dimulai dengan memahami manusia itu sendiri yang dianggap sebagai subjek sekaligus objek dari ilmu tersebut.

Keilma, hermeneutika sebagai pemahaman eksistensial dan fenomenologi eksistensi (phenomenology of existence and existential understanding). Pada periode ini, hermeneutika bukan lagi sekedar menyelidiki  manusia secara zahir, akan tetapi ia sudah masuk kepada pembahasan eksistensi dari manusia.

Keenam, hermeneutika sebagai sistem penafsiran (system of interpretation). Periode ini mengembalikan hermeneutika kepada asal mulanya. Jika pada periode sebelumnya hermeneutika berkembang dan ke berbagai aspek, maka periode ini hermeneutika dianggap kembali sebagai sistem penafsiran.

Jadi, fase ini mengembalikan hermeneutika kepada teori atau kaidah interpretasi. Oleh karenanya, apa yang disebut sebagai hukum, buku, mimpi, dan lain-lain adalah merupakan tanda yang mesti diinterpretasikan.

Demikianlah sekelumit pembahasan mengenai hermeneutika. Semoga dapat mencerahkan dan memahamkan para pembaca sekalian.

Sepanjang pembacaan saya terhadap hermeneutika, ternyata tidak ada yang salah dengannya, seperti tuduhan sebagian kalangan. Bahkan apa yang disebut sebagai ilmu tafsir dalam khazanah keilmuan Islam, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan hermeneutika itu sendiri.

Hal senada juga diungkapkan oleh Komaruddin Hidayat, misalnya. Sebagai sebuah teori interpretasi, "maka sesungguhnya hermeneutika juga dikenal dalam tradisi Islam yang dikenal dengan istilah ilmu tafsir."

Akan tetapi walaupun demikian, semuanya dikembalikan lagi kepada para pemaca sekalian. Ini hanyalah opini dan pendapat saya pribadi. Dalam sistem demokrasi semua bebas berpendapat dan memilihnya sesuai dengan keinginan, selama hal tersebut bisa dipertanggungjawabkan.