Baru bertemu satu-dua kali, bahkan mungkin hanya online saja, atau baru beberapa minggu berkenalan dan  langsung yakin bahwa dia  adalah  soulmate kita? Jika ya, ada kemungkinan bahwa  kita adalah korban mirroring  dan love bombing seorang psikopat.

Harap dicermati bahwa kata 'jatuh cinta' diletakkan di  dalam tanda kutip karena natur kata ini bagi psikopat berbeda dari  natur kata tersebut bagi yang bukan psikopat atau yang kadar psikopatiknya rendah. Perlu juga digarisbawahi bahwa tulisan ini hanya akan membahas  fase awal  dari proses pendekatan cinta seorang psikopat.

MIRRORING

Arti mirroring menurut Cambridge Dictionary  adalah to be very similar to something alias menjadi serupa dengan sebuah hal. Teknik mirroring dipakai psikopat di fase awal 'jatuh cinta'. Hasilnya positif bagi si psikopat karena kita semua, termasuk korbannya,   cenderung menyukai orang yang punya banyak persamaan dengan kita.

Berkaitan dengan teknik ini Gary Cundiff, seorang konselor pernikahan,  menjelaskan bahwa  psikopat mengumpulkan data yang detil tentang kepribadian kita, ‘mencuri’nya lalu menjadikannya sebagai kepribadiannya. Hal ini akan membuat orang yang dia incar merasa ‘menjadi satu’ dengan  dirinya  karena banyaknya kesamaan yang mengikat.

Claudia Moscovici adalah korban psikopat dan ia menulis buku berjudul ‘Dangerous Liaisons: How to Recognize and Avoid Psychopathic Seduction.’ Ia mengonfirmasi Cundiff  dengan mengatakan bahwa untuk memenangkan hati korban, psikopat akan berpura-pura menjadi diri  si korban  dan akan menyukai apapun tentang dia.

Oleh karena itulah, korban psikopat biasanya cepat menyebut partner psikopatnya itu sebagai soulmate. Hal ini mudah dipahami karena korban memang merasa begitu menyatu dengan si psikopat. Hal ini terjadi karena informasi yang dikumpulkan psikopat dari dan tentang korbannya memang bersifat sangat dalam.

Data yang dimiliki psikopat tentang korbannya bukan hanya yang superfisial seperti SD di mana atau biasa main apa ketika masih kecil. Psikopat akan mencari informasi yang mendalam, yaitu:  (1) Siapa kita, (2) kelemahan kita, (3) rasa sakit atau trauma masa lalu yang belum kita bereskan, dan (4)isu-isu lain yang terjadi di masa kecil kita.

Ia juga akan menggali tentang (5)siapa orang kepercayaan kita, mungkin sahabat, manager atau sekretaris. Si psikopat akan menganggap mereka sebagai penghalang dan kelak satu demi satu  pasti dia singkirkan.   Adapun yang terpenting adalah (6) apa luka di hidup kita yang paling dalam.

Henny Wirawan adalah psikolog lulusan UI yang melanjutkan brevet psikoterapi Cognitive Behavioral Therapy dari The Rhino, Nederland. Ia  mengatakan bahwa enam poin di atas digali psikopat secara naluriah. Mereka tidak menghapalkan poin itu satu demi satu dan sangat mungkin tak sadar ketika sedang mencari informasi di atas.

Robert Hare dan  Paul Babiak  dalam buku  ‘Snakes in Suits’  menjelaskan bahwa dalam menjalin hubungan, seorang psikopat pada  fase awal  akan menggunakan enam poin di atas untuk menyampaikan empat buah pesan kepada targetnya, yaitu:

1) Saya menyukaimu

2) Saya memiliki minat yang sama dengan minatmu

3) Saya seperti kamu

4) Kita adalah partner yang sangat cocok atau kita adalah soulmate

Rata-rata pasangan yang lagi jatuh cinta memiliki pesan seperti itu namun sesungguhnya ada perbedaan besar. Hare dan Babiak menjelaskan bahwa pada orang yang bukan psikopat, keempat pesan di atas diungkapkan setelah mereka betul-betul saling kenal, ada komunikasi yang intensif  dan telah menjalani hubungan serius selama beberapa saat.

Sedangkan dalam hubungan yang dimulai oleh seorang psikopat, keempat hal itu terungkap dalam waktu yang sangat cepat bahkan sebelum hubungan yang riil terjadi secara mendalam. Ikatan kilat ini menunjukkan kedangkalan emosional namun sering diartikan sebagai sebuah kecocokan yang sifatnya langka sehingga terasa menakjubkan.

Ada yang berpendapat bahwa  teknik mirroring sesungguhnya adalah sebuah teknik seduction alias merangsang, menggoda serta merayu. Bagaimanapun, mirroring lebih ke psikologis sedangkan seduction konotasinya ke hubungan fisik alias seks.

Xanthe Mallett, Forensic Criminologist dari  University of Newcastle, mengatakan bahwa psikopat  perempuan banyak yang menyodorkan seks kepada calon korban antara lain agar korban mau memberi dia materi, entah benda mahal atau uang banyak. Mallet juga mengatakan bahwa  psikopat perempuan cenderung cemburuan dan punya sifat parasit.

Pada fase awal  pendekatan, psikopat juga biasa playing victim. Mereka menyampaikan cerita-cerita sedih seperti trauma masa kecil dan perlakuan buruk orang tua yang membuat targetnya iba.

Dr. Perpetua Neo, lulusan Universitas Cambridge  dan  spesialis dark triad personality, mengatakan bahwa jika calon korban memiliki masa lalu yang menyedihkan seperti disiksa orang tua misalnya, mereka  akan punya empati yang tinggi.  Jadi, mereka mudah jatuh hati ketika si psikopat  melakukan aksi playing victim.

Selain karena mirroring (dan playing victim), mudahnya  psikopat menjebak korban juga disebabkan karena si psikopat melakukan love bombing.

LOVE BOMBING

Dr. Dale Archer, psikiater yang mendirikan  The Institute for Neuropsychiatry di Louisiana, mengatakan bahwa love bombing wujudnya adalah janji-janji manis, perhatian, dan hadiah. Di jaman digital, love bombing memperoleh jalur tambahan yaitu media sosial.

Psikopat  akan menghujani  akun korbannya dengan puisi, lagu, tulisan-tulisan romantis, serta flatteries.  Nah, kita mesti paham  bedanya compliments atau pujian dari flattery atau buaian serta rayuan. Mengetahui bedanya dapat menghindarkan kita dari perangkap psikopat.

Menurut Merriam Webster Dictionary, ‘flattery’ artinya false or excessive praise dan ‘compliment’ adalah respect or admiration for the other person. Dalam bahasa Indonesia, ‘compliment’  adalah  ‘pujian’ sedangkan ‘flattery’ bisa diterjemahkan sebagai  ‘rayuan’ atau ‘buaian’.

Pujian diberikan untuk mengapresiasi dengan tulus sedangkan buaian diberikan untuk merayu alias mengandung hidden agenda.  Ini cocok dengan ucapan Dr.Archer, ia   mengatakan bahwa love bombing memang bersifat manipulatif serta abusive.

Pujian adalah  hal yang biasa bagi pasangan yang sedang jatuh cinta termasuk mereka yang bukan psikopat. Bagaimanapun, love bombing memberikan rasa sangat istimewa pada korban karena pelakunya memiliki informasi tentang kebutuhan emosional terdalam korban, seperti yang sudah dijelaskan di atas oleh  Cundiff, Babiak dan Hare.   

Beda lain pujian dari love bombing terletak pada waktu dan jenis kalimat. Elizabeth Stone, sosok yang sudah hampir 10 tahun memberi saran mengenai percintaan di situs YourTango, mengatakan bahwa love bombing diberikan di bulan pertama perkenalan. Adapun kalimat pada  love bombing bersifat absolut atau superlatif.

Stone memperjelasnya lewat contoh-contoh  berikut:

1. Kamu adalah sosok terindah yang pernah saya temui ("You're the most amazing person I've ever met."

2. Dari sejak pertama kali kita bertemu, saya sudah tahu kamulah orangnya. ("I knew you were the one the moment I laid eyes on you.")

3. Tidak ada  orang di dunia ini yang seindah, setampan,  dan secerdas dirimu ("There is no one in the world as beautiful, handsome, intelligent as you.")

Namun bukankah pasangan lain begitu juga? Jika sedang mabuk kepayang mengatakan hal seperti di atas?  Sekali lagi, kuncinya adalah waktu. Tak ada orang waras yang mengatakan hal-hal tersebut dalam waktu sangat singkat, misalnya segera sesudah pertemuan-pertemuan  awal.   

Bagaimanapun, psikopat memang berbeda. Dr. Archer mengatakan bahwa kelihaian psikopat membuat korbannya bisa jatuh cinta dengan sangat cepat. Mereka tak sadar jika sedang dijebak dan sulit diberitahu karena psikopat sangat cerdik dan manipulatif.

Kebanyakan psikopat tak mengambil rupa menyeramkan seperti Joker. Kebanyakan psikopat hidup menyatu dengan kita di rumah, organisasi atau tempat kita mencari nafkah. Kita bahkan mungkin salah satu di antaranya mengingat psikopat sesungguhnya adalah sebuah spektrum.

Oleh karena itulah kita wajib berhati-hati dan di titik ini, mirroring dan love bombing menjadi amat relevan untuk dibahas.