Hans-Georg Gadamer lahir di Marburg pada tahun 1900. Ia belajar filsafat antara lain pada Nikolai Hartmann dan Martin Heidegger dan mengikuti kuliah Rudolf Bultmann, seorang teolog Protestan. Pada tahun 1922 ia meraih gelar ”doktor filsafat“. Sembilan tahun kemudian ia menjadi privatdozent di Marburg. Setelah selama tiga tahun mengajar, tepatnya tahun 1937 ia menjadi profesor. Tetapi dua tahun kemudian Gadamer pindah ke Leipzig. Pada tahun 1947 ia pindah lagi ke Frankfurt am Main. Gadamer juga banyak menulis buku dan artiket yang didalamnya menjelaskan tentang hermeneutika.

Dalam menjelaskan aspek baru dalam hermeneutik, Gadamer banyak mengembangkan pemikiran Heidegger. Gadamer melihat bahwa terobosan radikal Heidegger ke masalah pemahaman ontologis hermeneutik memberi sumbangan yang sangat berharga bagi ilmu hermeneutik. Secara tegas Gadamer menyetujui pendapat Heidegger bahwa Ada selalu dimengerti melalui bahasa dan dalam dimensi waktu.

Untuk itu tulisan yang singkat ini, sedikit saya menjelaskan tentang dasar-dasar ontologis pemahaman hermeneutik dalam perspektif Hans-Georg Gadamer yang meliputi antara lain: hubungan antara aspek kesejarahan dan pemahaman; lingkaran hermeneutik dan jarak temporal; prasangka dan usaha pemahaman; kesadaran sejarah efektif; pemahaman adalah penerapan; serta struktur pertanyaan dan jawaban.

Sebelum menjelaskan bagaimana gerak historis dalam pemahaman terjadi, pertama-tama perlu dipahami bagaimana Gadamer mengartikan ‘sejarah.’ Menurut Gadamer, pengetahuan kita, bahkan seluruh hidup kita, secara intrinsik dipengaruhi oleh kesejarahan yang kita hidupi di masa lampau kita: entah pengaruhnya pada ide-ide kita, lembaga-lembaga, bacaan, realitas lingkungan, sosio-ekonomi dan politik.

Oleh karena itu, tidak perlu diragukan bahwa cakrawala besar masa lampau kita sangat berpengaruh pada diri kita dalam menentukan apa yang kita inginkan, kita harapkan, atau kita takuti di masa depan.

Selanjutnya, menurut Gadamer bahwa karena pemahaman itu bersifat historis maka juga bercorak temporal dan mengandaikan suatu proses tertentu. Hal ini dapat dirujuk pada apa yang pernah diilustrasikan Herakleitos bahwa ‘kita’ tidak pernah identik secara total, karena kita selalu berkembang, termasuk proses pemahaman kita akan diri sendiri.

Seperti contoh, misalnya jika kita ingin memahami suatu kata tertentu dalam suatu kalimat, maka kita harus meletakkan kata tersebut dalam totalitas kalimat secara historis dan juga totalitas teks yang bersangkutan. Bahkan sering kita harus meluaskan konteksnya, katakan misalnya teks tersebut harus dilihat dalam kaitannya dengan aliran sastra yang berlaku saat itu.

Bagi penganut Hermeneutik Romantis, prasangka dan tradisi dipandang sebagai penghalang untuk memahami dan menafsirkan, bahkan kedua mereka dipertentangkan dengan kebenaran yang mau mereka capai. Dengan tegas Schleiermacher dan Dilthey menyatakan bahwa situasi kekinian (presentness) penafsir hanya memunyai arti negatif dalam usaha hermeneutik.

Dengan demikian menurut teori pemahaman sejarah adalah tindak Subyektif untuk menanggalkan semua bentuk prasangka dan untuk mereproduksi pengalaman pengarang atau peristiwa masa lampau.

Cara berpikir semacam ini dapat dikembalikan pada ide Cartesian dan cara berpikir jaman Pencerahan yang mengidealkan kemampuan Subyek rasional untuk melepaskan diri dari ikatanikatan sejarah dan berbagai macam prasangka yang terkandung dalam ikatan-ikatan sejarah itu. Mereka berusaha untuk mengejar pemahaman obyektif karena iklim mengagung-agungkan kekuatan akal budi. Oleh Gadamer, pemikiran demikian dikritik karena berarti penafsir menolak ikatan obyektifnya dengan aspek kesejarahannya pada masa kini

Bertitik tolak dari jalan pemikiran tersebut, Gadamer menyatakan bahwa keterikatan seseorang pada cakrawala historisitas kekiniannya dan juga jarak temporal yang terbentang memisahkan dirinya dengan obyek yang mau dimengerti sebenarnya justru menjadi dasar produktif semua usaha pemahaman daripada menjadi faktor negatif yang menghalangi pemahaman sebagaimana dilihat penganut Hermeneutik Romantik.

Dalam pembicaraan mengenai struktur lingkaran hermeneutik, Gadamer berbicara tentang konsep-konsep yang ada sebelumnya sebagai yang hadir ketika kita memahami sesuatu. Untuk memertahankan bahwa pandangan ini penting dalam pemahaman, ia kemudian berusaha merehabilitasi tiga macam konsep awal tersebut: prasangka, otoritas, dan tradisi. Gadamer ingin memberi makna positif atas ketiga hal itu, yang selama ini lebih terkesan negatif.

Pandangan mengenai prasangka ini membawa Gadamer masuk ke dalam diskusi mengenai konsep yang menghubungkan rasiootoritas dan tradisi. Pada masa Pencerahan, terdapat pemisahan yang tegas antara rasio di satu sisi dan prasangka dengan otoritas di sisi lain.

Menurut mereka, ‘yang menjadi sumber utama dari segala otoritas bukanlah tradisi melainkan rasio.’ Menurut Gadamer, pemisahan ini keliru dan merupakan prasangka melawan prasangka. Seolah-olah rasio saja yang memunyai fungsi otoritatif, sedangkan tradisi dan otoritas pribadi atau ide-ide tidak memiliki.

Istilah terakhir yang diuraikan Gadamer adalah tradisi. Menurutnya, tradisi merupakan suatu bentuk otoritas. Tradisi dan adat istiadat memunyai otoritas: apa yang diwarikan kepada kita dari masa lampau memiliki daya cengkeramnya pada kita dan senatiasa dipelihara dan dipertahankan. Misalnya saja di dalam dunia pendidikan, otoritas diberikan kepada guru.

Gadamer menjelaskan maksud istilah tersebut lebih lanjut dengan mengatakan bahwa seseorang yang tidak memunyai cakrawala pandang adalah orang yang tidak melihat cukup jauh dan luas sehingga penilaian-penilaiannya dilandasi oleh faktor-faktor yang sangat sempit. Sebaliknya, orang yang memunyai horison adalah orang yang tidak terkungkung pada apa yang terdapat dalam cakupan pandangan sekilasnya saja namun ia mampu melihat di balik apa yang segera tampak di hadapannya.