Dua hari, tepat sebelum artikel ini ditulis, saya berkesempatan mengikuti acara Gathering Nasional (Gatnas) NUbackpacker di Puncak Pinus Becici, Bantul, Yogyakarta, area wisata gunung perhutanan pinus.

NUbackpacker sendiri merupakan komunitas petualang yang digagas oleh beberapa anak muda Nahdliyin. Berawal dari keinginan mengikuti Muktamar NU di Jombang pada 2015 yang akhirnya perjalan pun ditempuh dengan ala backpacker.

Gatnas yang dilaksanakan tahun ini merupakan yang perdana diadakan. Selain membahas visi-misi internal-eksternal komunitasnya, wajah ke-NU-an mereka kali ini semakin dipertontonkan dengan adanya wacana fikih pendakian. Ini sungguh baru dan menarik.

Bukan NU namanya kalau fikihnya tak bisa menyentuh ke hal yang aneh-aneh, mulai dari sosial, kealaman, dan bahkan fikih disabilitas.

Saya bersyukur bisa dilibatkan oleh panitia Gatnas untuk dialog fikih pendakian ini. Isu-isu fikih yang dibicarakan sangat kompleks, dari peribadatan, etika traveling, hingga relasi laki-laki perempuan dalam batasan fikihnya.

Kebetulan dalam diskusi kala itu, saya didapuk sebagai pemberi pengantarnya. Memantik teman-teman yang lain agar mengemukakan masalah yang perlu dipecahkan dalam hal traveling, khususnya mendaki gunung.

Di bahasan peribadatan misalnya, banyak sorotan bahwa para pendaki pasti kesulitan dalam perihal sembahyang. Bahkan banyak pula yang meninggalkan salat karena berbagai alasan, diakui juga salah satunya karena malas. Artinya, salatnya utang dulu, bayar kemudian.

Namu hal itu sebenarnya ada solusinya di dalam fikih. Agar tak terkena dosa, fikih mengajarkan salat dalam kondisi superkhusus, lihurmatil waqti, walau tanpa bersuci, bahkan sekalipun tanpa menghadap kiblat ketika hilang arah.

Realitasnya, saat mendaki gunung, prasyarat sembahyang sulit dipenuhi sebab satu dan lain hal. Sulit bersuci bahkan tayammum tak mudah dipraktikkan. Ini masuk akal, karena medan pegunungan memang seringnya minim air, serta kelembaban suhu menyebabkan tidak adanya debu.

Dibahas pula sub-bab lain berupa bagaimana agar pendakian gunung menjadi bernilai ibadah. Juga dalam hal etika Islam, mengangkat permasalahan relasi cowok-cewek di perjalanan yang dibatasi konsep mahram, agar tidak sampai terjerembab dalam seks bebas yang tak beradab.

Lalu bagaimana fikih pendakian menjawab semua itu?

Di tengah hawa asri Puncak Becici, tim diskusi fikih pendakian dengan berani mengangkat argumen-argumen fikih yang di luar perhitungan. Menurut saya ini sangat menggembirakan.

Oleh karena dari pada tuntutan agama terlupakan karena praktiknya ditinggalkan secara totalitas, konsep mempergampang (tasahul) adalah solusi yang lebih baik digunakan. Ini dalam konteks anak-anak NU, sebagai kaum islami, yang betanggungjawab menjaga dakwah Islam dari berbagai tinjauan. Tak hanya melulu ceramah agama.

Traveling dan petualangan mendaki gunung adalah hal yang temporer, semua tahu itu. Tak ada ajaran Islam yang melarang orang berpergian selama tujuannya bukan untuk kemaksiatan. Mengebom gereja misalnya.

Keluar rumah dan mendaki gunung adalah proses meninggalkan zona nyaman. Ketidaknyamanan di perjalanan otomatis menjadi alasan berbagai kebolehan fikih yang karakternya ringan (rukhshah).

Ambil contoh, semacam bolehnya menyucikan najis dengan terik mentari, mengumpulkan sholat dalam satu waktu baik dengan atau tanpa ukuran jarak tempuh tertentu, bolehnya perempuan keluar rumah tanpa mahram dan bercampur dengan laki-laki seraya perhatian dengan batasannya. Itu semua, dan lain sebagainya, ada tesisnya di literatur fikih Islam.

Lalu demi terlaksananya tujuan syariat mengapa tidak diamalkan saja? Toh sungguh itu bukan fikih yang akan dibiasakan. Karena para petualang akan kembali pada kehidupan rumahan dengan fikih keseharian yang populer dan normatif.

Oleh karena sifatnya yang sementara, fikih praktis yang ditawarkan guna acuan dolan, seperti di atas tak bisa dianggap sebagai bagian menyepelekan ajaran agama. Bagi saya itu sangat Islami.

Di samping itu, pertanggung jawaban argumen-argumennya tersedia di berbagai referensi kitab kuning. Selama ada ulama' yang mengatakan, kenapa tidak menggunakan pendapatnya demi kemudahan menjalankan agama. Bukankah tanggung jawab akhirat nanti urusan masing-masing?

Nabi pernah bersabda "kalian lebih tahu urusan dunia kalian sendiri" (Sahih Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban). Dalam hal ini, pengetahuan dan visi para petualang merawat dan men-tadabburi alam -yang sepintas terlihat urusan dunia- layak mendapat penyeimbang berupa konsep fikih yang mendukung agar urusan akhirat terperhatikan.

Perlindungan dan perawatan alam biasanya diilhami oleh para pecinta gunung. Saya pernah menyaksikan sendiri, bagaimana diri saya tatkala pernah mendaki Merbabu, tak rela bila alam yang demikian indah ekosistimnya rusak karena sampah dan ulah manusia.

Terlebih nanti bila ada bencana semacam tanah longsor, orang bodoh ramai-ramai mengaitkannya dengan azab Allah karena kemaksiatan populer seperti pacaran dan lain sebagainya. Mereka lupa bahwa buang sampah sembarangan, penggundulan hutan tanpa aturan, sebenarnya juga merupakan kemaksiatan. Dosa ekologi namanya.

Banyak yang masih terkungkung sudut pandang bahwa ibadah hanya berupa ritual sholat dan mengaji. Sementara Alquran yang memerintahkan siiruu fil ardhi, berjalanlah di muka bumi, dilupakan. Larangan jangan berbuat kerusakan di muka bumi justru banyak dijabani oleh mereka para pecinta alam.

Demikian adanya, maka aspirasi mereka dalam hal agar menjalankan syariat dengan mudah berhak mendapat dukungan konsep fikih yang solutif.

NUbackpacker sendiri, sesuai apa yang saya lihat dari programnya, selain wacana fikihnya, sangat mengakomodir bakti alam semisal penghijauan kembali. Tak hanya itu, traveling ala mereka juga menyentuh pada budaya mengunjungi tokoh agama terdekat baik yang masih hidup maupun yang makamnya menjadi cagar agama dan budya.

Di tengah-tengah ramainya isu dakwah dengan kekerasan, pemanfaatan agama dalam dunia politik, dakwah yang ditawarkan NUbackpacker dengan wacana fikih pendakiannya adalah contoh memperjuangkan ajaran Islam yang mulia. Layak dikembangkan dan didukung, meski kelihatannya seperti fantasi traveling saja, karena di balik dakwah yang seperti itu ada hikmah yang tak bisa disentuh oleh khutbah atau pidato pengajian saja.

Ini, sekurang-kurangnya menurut saya yang sudah mendalami Islam lebih dari dua belas tahun di pesantren, selanjutnya masih kuliah di fakultas Ushuluddin sampai hari ini. 

Salam hangat, NUbackpacker "tinggi tanpa merendahkan".