Nama Sarinah mungkin dikenal hanyalah sebatas nama saja untuk perempuan. Seakan tampak tidak ada lebih dari itu dan terkesan akan biasa-biasa saja. 

Namun di sisi lain, nama Sarinah justru populer dan menjadi ciri khas panggilan organisasi untuk para perempuannya. Salah satunya adalah organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).

Kenapa nama Sarinah menjadi panggilan untuk perempuan di GMNI, ini disebabkan mengingat Soekarno menjadikan nama Sarinah sebagai simbol perjuangan bagi perempuan untuk menyusun Indonesia yang berkeadilan. Tesis yang dibangun Soekarno ini menuai pertanyaan karena seorang Sarinah hanyalah sebatas rakyat kecil yang pernah merawat Soekarno ketika ia masih kecil.

Perdebatan siapakah Sarinah dalam konteks gagasan Soekarno sebenarnya tidak terlalu penting. Seorang Sarinah hanyalah nama "mbok" saja. Tetapi bagi Seokarno, Sarinah sangat memengaruhi pemikiran dan perjuangan Soekarno untuk mewujudkan Indonesia Merdeka.

Sebagaimana ungkapan Soekarno dalam buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang ditulis oleh Cindy Adams,  Sarinah mengajarkan "cinta-kasih". Dalam penyampaian Sarinah kepada Soekarno bahwa "yang utama engkau cintai ibumu, kemudian rakyat jelata dan mencintai manusia pada umumnya.

Meskipun Sarinah termasuk masyarakat golongan rakyat bawah, kepribadian dan keteguhan dalam diri Sarinah mampu menggambarkan sosok perempuan yang mulia. Di mana dengan ikhlasnya bekerja dan penuh kecintaan terhadap sesama, termasuk dengan sukarelanya merawat Soekarno.  

Itulah mengapa Soekarno memberi judul "Sarinah" dalam bukunya tentang perjuangan bagi para perempuan. Judul buku itu diambil sebagai bentuk penghargaan Soekarno terhadap Sarinah karena sudah merawat dan mengajarinya tentang perjuangan yang banyak hal.

Setelah Indonesia pada waktu itu baru saja memproklamasikan Kemerdekaan, Soekarno mengatakan bahwa kita tidak dapat menyusun Indonesia tanpa memperhatikan soal perempuan di dalamnya. Perempuan juga mesti harus terlibat dalam perjuangan untuk mewujudkan sosialisme Indonesia supaya dapat terhindar dari segala bentuk penindasan.

Pada awal 1946, ketika ibu kota Republik Indonesia terpaksa pindah dari Jakarta ke Yogyakarta, Soekarno sempat menyelenggarakan "kursus wanita". Soekarno menghendaki bahwa perjuangan perempuan harus terlibat dalam sosial-politik yang melampaui "perjuangan sekse". Bahwa ketika berbicara soal perempuan berarti juga telah berbicara soal masyarakat.

Dalam kacamata Soekarno, landasan konseptualnya mengenai perempuan terbangun dari dua tesis. Pertama, corak penindasan perempuan tidak dapat dihindarkan dari hubungan sebab akibat antara perkembangan pola produksi dan kedudukan perempuan dalam masyarakat. Kedua, perbedaan antara laki-laki dan perempuan kecuali menyangkut reproduksi adalah masalah kategori kultural. [Buku Prisma. Soekarno: Membongkar Sisi-sisi Hidup Putra Sang Fajar. Karlina Supelli, Belajar Menjadi Warga Negara, hal. 201].

Gagasan Soekarno tersebut tidak lahir begitu saja melainkan ia meninjam teori-teori Marxis dan sosialis Eropa. Berdasarkan penjelasan materialis dan dialektis dari Engels/Marx mengatakan bahwa produksi serta reproduksi adalah faktor penentu dalam kehidupan sosial.

Dari paparan Engels mengenai sebab penundukan perempuan, Soekarno mampu memetakan peta pergerakan perempuan di Barat. Dari peta itulah Soekarno membangun argumen mengenai tugas perempuan dalam mendirikan negara nasional Indonesia. Peta itu juga berguna bagi Soekarno untuk menggerakkan persatuan, baik di kalangan perempuan sendiri maupun gerakan-gerakan politik lainnya.

Bagi Soekarno, pergerakan perempuan tidak berhenti hanya sebatas persamaan hak saja. Bukan berarti Seokarno mengecilkan soal wanita. Akan tetapi, seperti Kollantai menilai bahwa "tuntutan persamaan hak merupakan keprihatinan bagi kelas atas namun belum menyentuh perempuan kebanyakan".

Untuk perempuan marhaen yang bekerja setiap harinya di dunia kerja kapitalis, tidak perlu lagi menuntut hak untuk bekerja. Karena hak itu sudah ada di tangan mereka, namun yang mereka butuhkan adalah "permanusiannya pekerjaan". 

Dalam kondisinya, laki-laki dan perempuan yang bekerja sebagai buruh mengalami nasib sama, yakni sama-sama belum bebas. Sehingga yang sebenarnya perlu diperjuangkan adalah "perubahan susunan masyarakat, karena seluruh susunan masyarakat penuh dengan ketidakadilan". [Sarinah, hal.155].

Di sinilah menurut Soekarno bahwa hakikat penindasan manusia (perempuan dan laki-laki) terletak dalam perbudakan ekonomi. Makanya, solusi yang ditawarkan oleh Soekarno terhadap perempuan adalah menyertakannya dalam angkatan kerja, kemudian bersama laki-laki untuk menghancurkan kapitalisme dan imperialisme yang penuh dengan penindasan. Gerakan inilah yang biasa disebut sebagai gerakan sosialis.

Meskipun gerakan sosialis ada kalanya terjadi dominasi kekuasaan oleh laki-laki, namun jawaban dari problem ini adalah perlu adanya pendidikan bagi laki-laki. Karena relasi hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan harus mampu berada pada kodrat masing-masing yang jauh dari bentuk penindasan.

Seperti keberpihakan Soekarno terhadap sitem patriarki yang berkeadilan. Bahwa ketika dalam sistem patriarki terjadi penindasan oleh laki-laki terhadap perempuan, menurut Soekarno, itu adalah "patriarkat liar" di mana ia sangat menolak hal tersebut.

Oleh karena itu, di tengah kondisi hari ini, peran perempuan harus mampu bekerja sama dalam membangun masyarakat dan bangsa ini. Antara laki-laki dan perempuan harus mampu saling mendukung demi tujuan bersama.

Problem pada bangsa ini masih banyak kita jumpai dan belum ada hukum yang berjalan secara maksimal untuk perlindungan kepada hak-hak asasi manusia. Kekerasan kepada mereka yang lemah sering kali terjadi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Dan seharusnya kewajiban negara untuk dapat memberikan perlindungan kepada rakyatnya dalam bentuk tekanan apa pun. Pemerintah harus mengesahkan undang-undang perlindungan kekerasan terhadap perempuan yang sudah lama dituntut dan dikawal agar secepatnya disahkan. RUU PKS (Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual) mesti disahkan karena ini adalah payung hukum agar kekerasan dapat termanimalisir dengan baik.

Kemudian, perempuan juga harus sadar dalam perjuangannya sebagai warga negara. Perempuan harus mengerti masalah perempuan, karena sejatinya soal perempuan semestinya perempuan sendiri yang mengetahuinya.  

Pada tulisan Karlina Supelli mengenai "Membaca Kembali Sarinah". Dalam pandangannya bahwa membaca Sarinah bagi konteks masa kini yakni untuk mengenal pentingnya gerakan sosialis perempuan di tengah derasnya arus kapitalisme

Membaca Sarinah untuk menemukan jalan kinerja-kinerja patriarki cum kapitalisme secara sistematik dan koheren. Membaca Sarinah untuk melawankan kepentingan perempuan dan kepentingan bangsa. Membaca Sarinah untuk menemukan bahwa perempuan, lewat problematika gendernya yang khas, memberi realitas pada bangsa, dan dari situ memikirkan kebaikan hidup bersama. 

Membaca Sarinah untuk belajar menjadi warga negara Indonesia. [Buku Prisma. Soekarno: Membongkar Sisi-sisi Hidup Putra Sang Fajar. Karlina Supelli, Belajar Menjadi Warga Negara, hal. 214].