Hari raya Idulfitri atau hari lebaran, merupakan hari kemenangan yang dinanti bagi umat Islam setelah melaksanakan satu bulan penuh berpuasa. Hari raya Idulfitri selalu memiliki nilai spirit serta gairah yang tinggi bagi kehidupan umat Islam khususnya di Indonesia.

Meskipun secara etimologis hari raya Idulfitri diartikan sebagai hari berbuka setelah sebulan berpuasa. Namun, masyarakat Indonesia mengenal hari raya Idulfitri sebagai hari di mana umat Islam menjadi kembali suci dan bersih dari segala dosa.

Pandangan tersebut tidak sepenuhnya salah jika kita memandang hari raya Idulfitri melalui aspek filosofis dan lainnya. Sehingga melalui asumsi tersebut, kita sering kali mendengar ucapan mengenai Idulfitri sebagai jalan untuk ‘membuka lembaran baru’ dalam kehidupan yang membuat kita menjadi semangat.

Semangat Idulfitri

Semangat Idulfitri bagi umat Islam di Indonesia tidak hanya terlihat pada tanggal 1 Syawal. Sebelum memasuki hari raya Idulfitri pun, kita sudah dapa melihat semangat umat Islam dalam menyambutnya. Hal tersebut dapat dilihat dari setiap daerah yang memiliki ritual serta tradisi yang berbeda saat menyambut hari raya Idulfitri.

Tradisi-tradisi itu antara lain seperti tradisi Meriam Karbit di Pontianak, tradisi Tumbilotohe di Gorontalo, tradisi Ronjok Sayak di Bengkulu, dan lain-lain. Tradisi yang sudah disebutkan barusan, merupakan salah satu cara sebagai ungkapan euforia bagi masyarakat dalam menyambut Idulfitri.

Tradisi Betawi, Rawa Belong

Sementara itu, kita dapat melihat tradisi lain yang dilakukan oleh umat Islam di Rawa Belong, Jakarta barat. Salah satu tradisi yang dilakukan oleh umat Islam di Rawa Belong khususnya warga Betawi dalam menyambut hari raya Idulfitri, yaitu menghias rumah dengan bunga sedap malam.

Selain digunakan sebagai hiasan rumah bagi warga betawi, penggunaan bunga sedap malam ini juga bisa digunakan sebagai pewangi alami ruangan. Hal tersebut dikarenakan bunga yang berasal dari genus Polianthes ini merupakan salah satu bunga yang sering digunakan sebagai bahan dasar pembuatan parfume.

Bunga Sedap Malam

Bunga sedap malam memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan bunga lainnya. Jika pada umumnya kita mengetahui bahwa bunga mengalami pemekaran pada pagi hari saat terkena sinar matahari. Maka pada bunga sedap malam justru terjadi sebaliknya.

Pemekeran bunga sedap malam yang terjadi pada malam hari disebabkan oleh fotosintesis yang dipengaruhi oleh faktor cahaya. Pada bunga ini, cahaya gelap mempengaruhi pergerakan sel yang menimbulkan pemekaran. Peristiwa tersebut umumnya disebut dengan skototropisme.

Sedap Malam dan Tradisi

Bunga sedap malam memiliki makna yang cukup dalam bagi masyarakat betawi, khususnya bagi masyarakat Betawi yang tinggal di Rawa Belong. Menurut JJ Rizal seorang sejarawan Betawi, bunga sedap malam merupakan sebuah simbol penghormatan yang digunakan oleh warga betawi untuk para leluhur mereka.

Dengan menggunakannya bunga sedap malam sebagai simbol penghormatan, maka tidak mengherankan jika bunga sedap malam selalu diminati oleh warga betawi pada saat hari raya Idulfitri. Hal tersebut, juga bermaksud untuk mengingat jasa-jasa serta kebaikan para leluhur warga betawi.

Antara Tradisi dan Agama

Seperti namanya, bunga sedap malam akan mengeluarkan aroma pada saat malam hari. Selain dilihat dari segi estetik yang berguna sebagai penghias rumah bagi warga betai dan segi fungsi yang berguna untuk pengharum ruangan, kita juga dapat melihat manfat penggunaan bunga ini melalui sudut pandang agama.

Sebagaimana kita ketahui bahwa memakai wewangian pada saat Idulfitri merupakan salah satu anjuran dari Nabi Muhammad SAW. Hal tersebut bisa kita lihat dalam kutipan hadis berikut.

"Dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, bahwa: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan kami pada dua hari raya untuk memakai pakaian terbaik yang kami punya, dan memakai wangi-wangian yang terbaik yang kami punya, dan berkurban dengan hewan yang paling mahal yang kami punya." (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak).

Rawa Belong Sebagai Pasar Bunga Terbesar

Dengan tradisi yang masih terus dijalankan hingga saat ini, maka penggunaan bunga sedap malam bagi warga Rawa Belong haruslah ditopang dengan sumber daya atau ketersediaan bunga itu sendiri. Namun, nampaknya ketersediaan bunga sedap malam bukanlah menjadi satu masalah bagi warga Rawa Belong.

Bagaimana tidak? Permasalahan ketersediaan bunga tersebut dapat diatasi mengingat bahwa Rawa Belong merupakan salah satu tempat pasar bunga terbesar se-Asia Tenggara. Pasar bunga yang memiliki total seluas 12.417m2 ini memiliki beberapa fasilitas seperti kios, los, laboratorium, kantor pusat, lahan parkir dan lain-lain.

Dengan begitu, selain memandang bunga sedap malam sebagai tradisi. Keindahan, fungsi, serta manfaat bunga sedap malam bagi kehidupan umat Islam khususnya warga Betawi di Rawa Belong sangatlah banyak. Tradisi semacam ini pun dapat kita pandang sebagai suatu hal yang positif dalam menjalankan budaya dan beragama.

Hal-hal semacam di atas haruslah kita pertahankan dan lestarikan. Dengan begitu dapat diharapkan akan muncul kebudayaan-kebudayaan serta tradisi yang positif sebbagai penunjang bagi umat Islam di Indonesia dalam menjalankan agamanya.

Jadi, Apakah anda tertarik untuk membeli bunga sedap malam?