Karantina Membuat Merana

Di masa karantina saat ini, banyak yang sudah gerah dan bosan di rumah saja. Masa-masa pembatasan fisik dan jarak, kita sedang dihadapkan pada sesuatu yang sangat mungkin tidak pernah kita hadapi sebelumnya.

Kita dihadapkan pada kebosanan, monotonitas, dari yang sebelumnya kita bisa berinteraksi dan bertatap muka, ngobrol dengan teman, menjahili teman atau guru, dan lain sebagainya sekarang menjadi lenyap. 

Wujud dari monotonitas itu adalah mengeluh, dan ini kelihatannya menjadi solusi paling mujarab untuk semua keadaan.

Orang tua mengeluh, “Anakku kok tidak pernah belajar? Menganggu terus, minta kuota lah, minta makanan persis iklan di TV, sekolah tak jalan, uang sekolah bayar terus!”

Murid mengeluh, “Ah, tugas melulu! Tugas proyek, tidak adil, asyik aku aja yang mengerjakan, yang lain tak mau peduli!”

Guru mengeluh, “Murid-murid tak ada yang mau hadir di kelas daring. Orangtua kesal karena mendampingi anak. Akupun tak paham teknologi belajar ini bah! Tapi kalo fesbuk, YouTube dan tiktok aku bisa…”

Dan ini menjadi narasi sehari-hari, dalam hidup kita, mungkin karena sudah jenuh dikurung, output dari keterkurungan itu adalah “Keluhan”. 

Untuk Orang Tua

Bagi orang tua, mari menjadi bagian masyarakat yang baik dengan mencari tahu terlebih dahulu ketimbang mengedepankan emosi negatif. 

Inilah mengapa sering penulis sampaikan, apa yang dipelajari di buku sangat jauh dengan realita. Kita tumbuh menjadi sosok kritis yang tak berdasar, akibatnya nurani menjadi terkikis.

Ke mana ciri khas masyarakat Indonesia yang konon katanya murah senyum, ramah, hidup rukun, tenggang rasa? Ada, masih ada, tapi hanya di buku saja, di realita, sudah sulit diterapkan.

Barangkali kita suka membandingkan diri kita dengan model sekolah kolonial di mana tugas atau PR menjadi pertanda bahwa seorang murid itu benar-benar belajar. Tapi pernahkah kita sebagai orangtua, ikut mendampingi anak kita dalam belajar?

Kalau pernah ya syukur, sering-seringlah dampingi buah hati kita dengan sabar dan bijaksana. Bagi yang tidak pernah, mari kita lebih dekat lagi kepada anak.

Zaman sekarang, PR bukan lagi indikator utama, namun kreativitas, dan seberapa jauh seorang murid bisa berpikir dan memberikan sumbangan pemikirannya untuk memecahkan masalah yang ada di lingkungannya yang paling dekat sekalipun.

Jangan tenggelamkan anak-anak kita dengan setumpuk PR, namun mari belajar bersama mereka. Sisihkan waktu lebih banyak untuk bersama mereka, dan ini merupakan salah satu hikmah di balik pandemi, yakni mendekatkan yang jauh, bukan sebaliknya, malah menjauhkan yang dekat.

15 Mei merupakan Hari Keluarga Internasional, kita tumbuhkan kembali hangatnya kekeluargaan lewat pendidikan. Pendidikan terbaik itu bermula dari rumah dan lingkungan keluarga walaupun tak berujung pada ijazah.

Abaikan sajalah ijazah, negeri ini penuh dengan birokrasi yang menjadikan ijazah sebagai simbol seseorang sudah tuntas dalam mengikuti pendidikan. Akibatnya terjadi distrorsi tujuan pendidikan, yang semula untuk meningkatkan kualitas hidup manusia malah menjadi certificate-oriented (berorientasi ijazah).

Peran orangtua sangat penting untuk mengembalikan marwah tujuan pendidikan sebagaimana mestinya. Bukankah orangtua juga merupakan produk pendidikan di masa sebelumnya?

Untuk Peserta Didik

Perihal kerja kelompok bagi murid, hal ini juga menjadi kritik terhadap buku teks dan penghayatan Pancasila sebagai nilai bagi bangsa. Kita diajarkan di sekolah untuk saling tolong menolong, saling bahu membahu, saling menguatkan, saling tenggang rasa, saling peduli, dan saling silang lainya.

Tapi, ketika diminta menyelesaikan proyek, yang terjadi malah saling tuding, saling lempar tanggungjawab, saling menyalahkan, dan lebih parah lagi yakni saling cuek. Lagi-lagi, buku teks menjadi “too good to be true” alias muluk-muluk sementara realita yang disajikan di mayoritas media merupakan hal yang berkebalikan.

Proyek diberikan pada murid dengan tujuan memanusiakan manusia itu kembali. Manusia adalah makhluk sosial dan harus ada interaksi yang hangat di antara manusia. Proyek diberikan untuk mewujudkan “karakter terdidik” yang barangkali selama ini sudah tenggelam diterpa canggihnya layar silau yang gampang ditenteng kemana-mana.

Dengan “nyawa” proyek, kerjasama, komunikasi, tolong menolong dan saling memotivasi dihidupkan kembali. Meskipun demikian, harus ditanggapi dan disikapi dengan bijaksana, tolong menolong bukan berarti menolong rekan kerja yang memang tidak ingin berusaha, namun menolong mereka dengan cara memotivasi dengan baik dan hangat.

Selain itu, proyek juga mendidik para muridi untuk memiliki “mentalitas anti-distraksi”, yakni kemampuan untuk mengacuhkan diri dari pengganggu-pengganggu seperti keinginan bermain game, keinginan membuka sosial media yang kurang berfaedah, dan distraksi-distraksi lainnya.

Untuk Pendidik 

Bagi guru, mari menjadi semakin bijaksana dengan segala keluhan-keluhan yang disampaikan dari orangtua maupun murid. 

Dalam keadaan seperti ini, dengan gelar sarjananya atau bahkan sudah melampaui sarjana, guru menajamkan kembali proses berpikirnya, mengolah kembali dalam kajian sederhana, dan memberikan sumbangsih pemikiran itu kepada peserta didik dan orangtua agar sirkulasi proses pendidikan dapat dikembalikan kepada masyarakat.

Dengan kata lain, sembari mengadaptasi Rumus Resultan Newton, untuk menciptakan inovasi (gaya atau F) perlu adanya Usaha (W) dan Jarak (s). Di masa pandemi seperti saat ini, seluruh komponen pembentuk rumus itu ada (gaya, usaha, jarak), hanya tinggal mencari siapa yang mau melakukan usaha tersebut, siapa yang masih mampu berinovasi.

R = F1 + F2

atau

R = (W1/s1) + (W2/s2)

Di mana:

R = Resultan pendidikan di masyarakat

F = Gaya (Hasil dari Usaha dibandingkan dengan Jarak)

W = Usaha

s = Jarak

Tidak mudah membangkitkan kesadaran masyarakat yang cenderung invidualistis dan materialistis di era 4.0. Guru harus muncul kembali sebagai tonggak perubahan, belajar dari pandemi untuk semakin memanusiakan manusia dan bukan mengkompetisi manusia.

Lupakan "Punishment and Reward". Kita kembali ke era kolonial dengan secara tidak langsung mengajarkan "dihukum dulu baru kemudian diberi penghargaan". 

Hal ini kurang mendidik, balutlah kerjasama antar peserta didik untuk menghasilkan karya yang bermanfaat. Biarkan mereka bekerjasama yang baik, untuk saling peduli,berimajinasi dan berinovasi. Berikan apresiasi terhadap sekecil apa pun usaha yang sudah mereka lakukan. 

Kompetisi memang perlu, tapi alangkah baiknya "kompetisi" disubstitusi dengan “Kooperasi”. Belajar dari Covid-19, mari kita bersama-sama meningkatkan kesadaran diri sehingga manusia tidak lagi menjadi “Kompetitif, Inovatif, dan Berkarakter”.

Kita alihkan slogan tersebut menjadi “Berkarakter, Inovatif, dan Kooperatif” untuk mewujudkan SDM Unggul, Indonesia Maju. Bangkit Untuk Bersatu dalam menghadapi masa pandemi seperti ini maupun tantangan-tantangan lain di masa mendatang.

Bangkit dalam Karakter, Inovasi, dan Kooperasi adalah kata kunci menjelang Hari Kebangkitan Nasional 2020.

Zaman berubah, teknologi, pandemi, telah banyak mengubah kehidupan sosial kita secara drastis. Bagi yang tidak mampu beradaptasi dengan perubahan alias pintar mengeluh dan tak mau berusaha, dia akan tertinggal jauh dan memfosil, larut dalam kehampaan keluhan semata.