“Terbukti, melalui keberadaan Stres, justru kemampuan otak meningkat. Karena hormon Kortisol yang berfungsi bagai pelita penerang dalam otak, akan optimal saat seseorang sedang dalam kondisi tertekan.”

Pembaca yang budiman, masih ingat lirik lagu karya Bang Haji Rhoma Irama, berjudul Stres? 

Begini;


“Stres!

Kerap melanda manusia tak peduli miskin ataupun kaya, banyak orang yang Stres.

Bukan hanya persoalan kehidupan, bukan persoalan keuangan.

Terlalu sibuk kerja bisa bikin Stres.

Nganggur terlalu lama juga bikin Stres.

Kekasih main gila, bisa bisa Stres.

Kenakalan remaja bisa bikin Stres.”


Penggalan syair lagu tersebut memberi gambaran, betapa persoalan kehidupan jika tidak dihadapi dengan bijak dengan keteguhan hati akan menimbulkan tekanan batin yang berakibat Stres.


Stres Positif

Stres, merupakan kondisi fisik dan mental tengah melemah. Sehingga produktifitas dan kinerja seseorang bisa menurun.

Setiap orang memiliki kepekaan berbeda saat menghadapi beban kehidupan, yang bisa menyebabkan Stres. Demikian pula, setiap orang berbeda saat menghadapi Stres yang tengah menimpa. 

Menjadi tantangan tersendiri bagi setiap orang untuk dapat mengatasi Stres yang dihadapi, baik secara fisik maupun mental, agar bisa berperilaku normal.

Namun demikian, selalu terdapat noktah cerah dalam ruang kegelapan. Demikian halnya dengan Stres. Bahwa ternyata, tak semua Stres bersifat negatif, selalu merugikan. 

Ada Stres yang menguntungkan, disebut Eustress, bentuk Stres positif.

 

Bekal Naik Kelas

Menurut penelitian bidang Endokrinologi, dilingkup sekresi hormon Endokrin yang mengatur banyak fungsi dalam tubuh, maka Stres justru dapat meningkatkan semangat untuk menghadapi tantangan kehidupan.

Berikut beberapa contoh, betapa Stres mampu menuai semangat;

  • Pada saat seseorang mendapat promosi pekerjaan atau tantangan kerja baru, awalnya bisa menyebabkan Stres.

Bagaimana tidak? Kualitas kerja yang diharapkan menjadi lebih meningkat seiring kebutuhan si pemberi kerja. Apabila amanah melulu diterjemahkan sebagai beban, maka bakal menambah pundi-pundi Stres bagi si penerima kerja.

Namun, jika amanah tersebut dijalani dengan sepenuhnya keteguhan hati, maka justru menyemangati diri agar mampu meraih prestasi.

  • Mengikat janji dalam ikrar sebuah pernikahan, mengawali sebuah mahligai berumah tangga, pada mulanya juga menimbulkan Stres.

Bagaimana tidak? Sebelumnya mempelai adalah dua individu bebas. Lalu mempunyai kewajiban saling untuk berbagi demi membina sebuah keluarga, bersama meniti langkah menuju masa depan.

Namun, berbekal ketetapan hati untuk saling cinta, maka perlahan Stres yang dihadapi justru berbuah kebahagiaan kelak kemudian hari.

  • Mengirim gagasan pada suatu lembaga pengumpul dan penyebar karya tulisan, seperti dalam situs www.qureta.com, awal mulanya juga menuai Stres.

Bagaimana tidak? Untaian kata dan kalimat yang tertata menjadi sebuah tulisan pengungkap gagasan, ternyata bolak-balik ditolak karena belum memenuhi kaidah syarat dan ketentuan yang ditetapkan. Tentu kejadian tersebut menjadi awal yang mengecewakan.

Namun, jika diimbangi dengan berpikir positif, bahwa gagasan yang ditulis masih belum bertemu dengan selera pengelola lembaga tersebut, lalu penulis berkenan memperbaiki tulisan hingga dinilai memenuhi kebutuhan yang diharapkan, maka Stres yang menimpa di awal bakal berubah menjadi kelegaan, bahkan kebanggaan, lalu jadi ketagihan, hingga kecanduan.

Masih banyak contoh lain yang apabila direnungkan sebagai hikmah, maka Stress sejatinya adalah ujian untuk naik kelas. Karena, setiap manusia dibekali jiwa dan raga paling sempurna sebagai makhluk hidup di bumi.


Pelita Otak

Setiap manusia dikaruniai organ dalam bernama otak, sebagai pengendali fungsi hormon yang bisa menyelaraskan kehidupan.

Terbukti, melalui keberadaan Stres, justru kemampuan otak meningkat. Karena hormon Kortisol yang berfungsi bagai pelita penerang dalam otak, akan optimal saat seseorang sedang dalam kondisi tertekan.

Eustress juga memicu peningkatan kreativitas.

Seperti ketika hendak mengungkap ide berupa karya tulis, maka si penulis membutuhkan suasana hati yang tepat agar pokok pikiran sumber tulisan menjadi rangkaian kata dan kalimat yang demikian mengalir, mampu membuat pembaca tulisan bisa menerima gagasan yang ditulis, bahkan terpengaruh.  

Suasana hati yang dibutuhkan oleh penulis, ditunjang oleh Eustress, yang mampu memberikan efek agar otak menjadi lebih fokus dan tidak mudah beralih perhatian.


Panen Buah Pikiran

Ketika suatu kegiatan menjadi sebuah rutinitas, maka berpeluang pula terjadi kejenuhan yang berakibat kondisi fisik menurun. Oleh karenanya, meluangkan waktu dengan menekuni hobi agar keluar sejenak dari zona rutin, juga bermanfaat agar Stres terkelola.

Setiap orang memiliki hobi, seperti; membaca, mengaji, menyanyi, melukis, menulis, bermusik, menari, memasak, fotografi, pecinta alam, berenang, bersepeda, futsal, basket, badminton, memancing, menyelam dan sebagainya. Semua itu akan bermanfaat agar kita menjadi rileks, keluar sejenak dari rutinitas. Dalam istilah Jawa disebut; Nglaras Urip.

Senantiasa bersyukur dan memanjatkan do’a kepada Tuhan, juga dapat menghindarkan diri dari Stres negatif.

Sebagaimana kelanjutan penggalan lirik bang Bang Haji Rhoma tersebut di atas;


“…lapangkan dada, panjatkan doa, tawakkal dan sabarlah..

Stres, obatnya iman dan taqwa

serta mensyukuri apa adanya.”  


Dengan demikian Pembaca yang dimuliakan, mari kita mengelola Stres yang mungkin tengah dihadapi, sebaik dan sebijak mungkin. Agar menjadi Eustress yang justru tak hanya meningkatkan produktivitas kinerja, namun juga menebar benih buah pikiran.

Bukankah Sir Isaac Newton sebelum menemukan teori gravitasi, sempat mengalami Stres karena beliau ketiban sebutir apel?

Teori hasil memanen buah pikiran akibat Stres tersebut, lalu membuat kehidupan di bumi menjadi lebih baik.

Tabik


Daftar Bacaan menginspirasi tulisan;

  • Campbell M, Jialal I., Physiology, Endocrine Hormones, 2020, 
  • Tsigos C, Kyrou I, Kassi E, et al., Stress: Endocrine Physiology and Pathophysiology, 2020, 
  • Salam Ranabir and K. Reetu, Stress and hormones, 2011,