Caleg Golkar
6 bulan lalu · 414 view · 3 menit baca · Ekonomi 69283_24202.jpg
Idhammar OEE

Mengelola Revolusi Industri 4.0

Saat ini manusia hidup serba digital. Ekonomi digital, pendidikan digital, dan masih banyak lainnya. Jika boleh disebut seperti konsep, mungkin saat ini adalah era di mana kita akan memasuki revolusi industri 4.0.

Presiden Jokowi telah membuat roadmap tentang revolusi tersebut. Roadmap itu dinamakan Making Indonesia 4.0. Rancangannya telah dibicarakan bersama beberapa menteri seperti menteri perindustrian, menteri perekonomian, dan lain sebagainya.

Mulanya, revolusi industri hadir di Indonesia sejak zaman Hindia-Belanda. Pertama kali muncul melalui mesin uap. Kedua, bergerak lebih jauh ke zaman otomotif general fort. Ketiga, mulai terjadi otomatisasi yang ditandai dengan berkembangnya globalisasi.

Untuk saat ini, revolusi yang dimaksud adalah pesatnya internet baik di kalangan pra-milenial hingga kalangan milenial. Di internet kita bisa menemukan, mengendalikan, atau mengaduk sebuah bahan mentah menjadi bahan matang.

Maksudnya, kita bisa memproduksi sekaligus mengonsumsi apa pun jenis barang. Baik barang yang hanya bisa dicetak di dunia nyata maupun bisa terlihat di dunia maya.

Tahun 2017 dalam data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, pengguna internet di Indonesia mencapai 143 juta. Ini artinya hampir 2/3 penduduk Indonesia sudah melek internet.

Revolusi industri 4.0 membawa perubahan khususnya bidang industri ke arah yang lebih bijak. Utamanya, penggunaan anggaran. Dalam hal ini, anggaran lebih bisa ditekan dan dikelola sedemikian rupa. Alhasil, makna revolusi industri 4.0 menjadi lebih efisien.

Namun, muncul sebuah pertanyaan. Apakah manusia Indonesia sanggup menerima revolusi industri 4.0? Jikalau sanggup menerima, apakah manusia Indonesia sanggup mengelolanya?

Era revolusi industri 4.0 membutuhkan kecepatan, ketepatan, dan keakuratan. Keakuratan pun membutuhkan ketelitian. Dan jangan lupa, semuanya harus menjadi hemat. Baik dari segi biaya maupun tenaga.

Mengadopsi Strategi Negara lain

Ada baiknya, kita meniru negara lain. Seperti contoh Jerman. Negara itu adalah salah satu negara awal yang menerapkan prinsip Internet of Things. Dan dari sanalah bermula istilah 4.0.

Mengelola dana secara efisien. Mengembangkan sumber daya manusia (SDM) secara oral maupun literal. Dan juga meningkatkan infrastruktur digital secara masif, sistematis, dan masif.

Tidak ada salahnya kita meniru dan mengikuti jejak mereka. Dalam hal ini, bukan berarti kita menjadi kaki tangan mereka melainkan menyerap ilmu dan mengimplementasikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.

Kemudian, gagasan tersebut harus terus dikembangkan ke seluruh wilayah baik yang di pelosok maupun yang tidak. 

Indonesia merupakan negara yang wilayahnya cukup luas. Oleh karena itu, daya dukung infrastruktur digital dan SDM perlu diberdayakan. Apalagi, Indonesia memiliki keinginan untuk masuk ke jajaran sepuluh besar perekonomian dunia pada tahun 2030 mendatang.

Tentu saja, gagasan tersebut perlu dikelola dengan baik. Sumber daya manusia yang ada perlu dilatih. Pelatihannya bisa berbagai macam. Baik secara kemampuan berpikir, berbicara, berdagang maupun menulis.

Jika sudah mahir mengelola revolusi industri 4.0, apa yang perlu ditakutkan lagi? Tentu saja ada. Salah satunya penyelewengan data.

Data yang berada di setiap lembaga/perusahaan bisa jadi akan diperjualbelikan. Atas nama uang, apa pun bisa terjadi. Oleh karena itu, sistem keamanan digital harus benar-benar ketat, tanpa ada celah yang menunjukkan kelemahan.

Ekosistem Inovasi

Inovasi perlu dijaga, dikembangkan, dan jangan lupa diimplementasikan. Sebab, tanpa ada inovasi, industri apa pun akan cepat mati. Beruntungnya, salah satu sektor industri di Indonesia yaitu sektor manufaktur, menjadi yang terbaik di ASEAN.

Menurut Airlangga Hartanto, Menteri Perindustrian kita saat ini, sektor manufaktur menjadi andalan utama. Di tahun 1990, secara peringkat kita masih berada di urutan 20 besar. Tahun lalu, kita sudah mencapai 10 besar. Dengan fakta demikian, maka tak heran apabila kita memiliki target masuk lima besar.

Di ASEAN saja, Indonesia termasuk ke dalam tiga negara besar yang mampu mengarungi revolusi industri. Tentu saja, ini hal positif baik bagi pemerintah maupun rakyat Indonesia.

Meskipun begitu, ketika manufaktur berhasil, apakah itu akan menaikkan kesejahteraan penduduk masyarakat Indonesia? Sebab, inovasi dalam dunia digital, salah satunya melahirkan otomatisasi.

Hal yang mengerikan dari otomatisasi adalah penggunaan teknologi secara berlebihan. Studi McKinsey (2016), 52,6 juta lapangan pekerjaan akan digantikan mesin berteknologi digital.

Jika fakta itu menjadi valid, pertanyaannya bagaimana mengatur bonus demografi penduduk Indonesia yang puncaknya akan terjadi pada tahun 2030?

Apakah generasi milenial akan tergantikan oleh mesin bentuk digital?

Sekali lagi, prediksi seperti itu yang harus dicarikan solusinya. Jika tidak, akan terjadi pengangguran besar-besaran. Dan itu tidak menguntungkan perekonomian Indonesia yang konon hendak menjadi terbaik di ASEAN pada tahun 2030 nanti.

Kita tidak bisa membiarkan anomali tersebut akan terjadi di masa mendatang. Kita benar-benar harus mendayagunakan seluruh kemampuan untuk mengelola revolusi industri 4.0.

Sebab, kita juga yang harus mengawal generasi milenial agar sanggup melahirkan inovasi dan mengimplementasikan revolusi industri 4.0 secara tepat sasaran. Tambahan lagi, agar generasi milenial tidak tersandera oleh perkembangan dunia digital.