Ada beberapa modal riil yang perlu diperhatikan dalam rangka pengembangan industri kehutanan di Indonesia. Di antaranya adalah komponen lokal, penyerapan tenaga kerja, dan pengembangan infrastruktur di daerah terpencil.

Modal-modal riil tersebutlah, menurut Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Purwadi Soeprihanto, adalah langkah potensial sebagai penghela pertumbuhan ekonomi nasional.

“Sumber daya hutan Indonesia sangat tinggi sekali keunggulan komparatifnya. Selain kawasannya yang luas dibanding negara-negara lain, kandungan potensinya pun cukup besar. Ini yang harus kita manfaatkan,” papar Purwadi dalam sesi kedua Workshop dan Pelatihan Menulis Kertas dan Peradaban Qureta – APP Sinarmas, Pekanbaru, Riau.

Seperti diketahui, luas kawasan hutan Indonesia mencapai 120,64 juta Ha. Kawasan seluas ini terdiri dari 57% hutan produksi (68,8 juta ha), 18% kawasan konservasi (22,11 juta ha), dan 25% hutan lindung (29,68 juta ha).

Khusus untuk kawasan hutan produksi, menurut informasi yang dihimpun Ditjen PHPL, KemenLHK pada Maret 2017, pemanfaatannya terdiri dari hutan alam (19,21 juta ha), hutan tanaman (10,799 juta ha), restorasi ekosistem (0,62 juta ha), HHKB/HTR/HKM/UJL (0,20 juta ha), dan arahan pemanfaatan (38,03 juta ha).

Selain kawasan hutan produksinya yang cukup luas, sejumlah keunggulan komparatif yang juga dimiliki sumber daya hutan Indonesia adalah iklim yang cukup mendukung (curah hujan, sinar matahari, dan kesuburan tanah), beragamnya jenis-jenis tanaman cepat tumbuh yang dapat dipanen pada umur 5-6 tahun, banyaknya jenis komersial yang berniai tinggi, serta ketersediaan tenaga kerja yang banyak lagi produktif.

“Pertanyaannya kemudian, bagaimana cara meningkatkan potensi sumber daya hutan Indonesia? Hal ini perlu komitmen kuat antara pemerintah dengan pengusaha sumber daya alam. Mereka harus bersinergi dengan baik,” terang Purwadi kembali.

Jika dicermati, sektor kehutanan (berbasis industri) terhadap GDP (Gross Domestic Product) nasional Indonesia berkontribusi sebesar 1,63% di tahun 2016 dari total luas hutan 120.640 x 1000 ha (World Forest Report 2011). Kontribusi ini didasarkan pada produk-poduk kayu (0,62%), industri pertukangan (0,26%), dan pulp & paper (0,72%).

“Dengan wilayah hutan yang begitu luas, seharusnya Indonesia mampu menjadi pemimpin dunia dalam hal pemanfaatan pengembangan hutan alam beserta produk-produknya.”

Tetapi yang terjadi, pascakrisis ekonomi tahun 1998, keuntungan dari produk hasil hutan Indonesia itu justru ikut runtuh. Indonesia banyak mengalami kehilangan wilayah hutan akibat illegal logging (pembalakan atau penebangan liar). Produksi hutannya pun kalah dari Malaysia yang hanya mempunyai luas wilayah hutan sekitar 20 juta ha dan sedang menuju high country dengan kontribusi GDP sebesar 3,0%.

Tak salah kemudian ketika Presiden Jokowi menegaskan pentingnya terobosan baru dalam pengelolaan hutan ini. Karena memang, menurut Jokowi, pengelolaan hutan Indonesia masih berada pada posisi yang sangat monoton tanpa pembaharuan.

Jokowi pun menegaskan bahwa Indonesia perlu belajar dari Swedia dan Finlandia. Untuk urusan pengelolaan hutan, dua negara tersebut memang mampu mencapai 70-80 persen tingkat perekonomiannya yang berasal dari pengelolaan hutan.

Tantangan Pengelolaan Hutan

Di hadapan peserta workshop, Purwadi kemudian menganjurkan pentingnya mengedepankan persepsi positif terkait pengelolaan hutan ini. Karena, selain hambatan regulasi dan minimnya koordinasi antar-instansi, kampanye negatif pun jadi satu kendala utama dalam hal pengelolaannya.

“Isu deforestasi dan degradasi hutan selalu naik ke permukaan jika membahas pemanfaatan hutan untuk memproduksi kertas. Padahal, perubahan peruntukan lahan menjadi non-hutan itulah yang sebenarnya mengakibatkan adanya deforestasi, misalnya pengalihan fungsi hutan menjadi lahan sawit.”

Beberapa persepsi positif yang harus dibangun itu, di antaranya adalah pandangan bahwa bahan baku kertas bersumber dari hutan tanaman yang lestari. Ini untuk meredam kampanye negatif yang menyebut bahwa hutan tanaman jadi sebab deforestasi dan degradasi hutan karena dibangun dengan ekstensifikasi lahan.

“Padahal, hutan tanaman dibangun dengan sistem silvikultur intensif. Hutan jenis ini sangat berkontribusi menyerap emisi karbon, terutama di kawasan gambut.”

Di samping itu, mengedepankan sikap independen dalam memberikan persepsi tentang penebangan pohon kertas juga menjadi satu hal yang sangat penting. Lebih jauh, proses menanam kembali pohon yang ditebang juga tidak bisa main-main karena ini menyangkut kelangsungan hutan dalam menjaga keseimbangan alam.

“Bagaimana dengan degradasi? Hutan mengalami penurunan kualitas untuk diproduksi. Nah, yang dialami Indonesia adalah menurunnya fungsi hutan (degradasi) untuk kegiatan produksi karena buruknya penebangan pohon yang dilakukan."

Saat ini, negara-negara dunia tengah berkumpul untuk mendiskusikan penurunan gas emisi karbon di Convention on Parties on Climate Change. Di momentum ini, Purwadi mengharapkan dunia internasional mampu melahirkan kesepakatan bersama seperti Paris Agreement guna menurunkan emisi karbon menjadi 2 persen sebagaimana di masa revolusi industri lalu.

Selain itu, Indonesia sendiri dihadapkan pada regulasi yang memberatkan investor pulp and paper.

“Kita sudah harus berhenti mengulangi kesalahan sejarah. Hutan tanam industri (HTI) perlu diregulasi ulang oleh pemerintah untuk menjaga investasi yang sehat.”

Apabila sektor investasi ini tidak segera dibenahi, lanjut Purwadi, maka pemanfaatan hutan untuk mengerek roda ekonomi nasional bisa terhambat. Dan hal ini, baginya, akan berdampak pada terjadinya pengrusakan sumber daya hutan yang berlebih.

“Fakta di Indonesia saat ini, di saat korporat memiliki pohon untuk ditebang, tidak memikirkan nilai produk yang bernilai tinggi. Seharusnya, jika mencontoh Finlandia, setiap penebangan pohon mesti diarahkan untuk kebutuhan hingga 50 tahun ke depan.”

Karena itu, bagi Purwadi, edukasi yang baik juga sangatlah menentukan. Paradigma pengelolaan hutan Indonesia secara positif harus terus dipromosikan secara luas. Dan di sini, media seperti Qureta sangat berperan penting.