Mari kita tepiskan rasa rindu berkelana, dengan membuka cakrawala dari rumah. Jika membaca dapat membuka cakrawala, lalu untuk apa melawan aturan pemerintah hanya demi berkelana di masa corona. 

Tenanglah kawula muda, kita masih bisa berkelana kok disaat pandemi seperti ini. Jika dulu kita berkelana dengan mendaki gunung, lewati lembah, seperti ninja hatori. Sekarang, kita bisa berkelana hanya dengan membuka lembaran-lembaran kertas dari rumah.

Pasalnya, berdiam diri di rumah tidak selamanya membosankan. Coba deh untuk sesekali ambil buku fiksi kesukaanmu. Temani keheningan malammu dengan bacaan indah dan secangkir kopi favoritmu. Sambil mengingat-ingat masa kecil yang tak terlepas dari bacaan dongeng ketika ingin tidur. Mengasyikkan bukan? Berkelana di dunia baru penuh imajinasi yang dibangun oleh para sastrawan.

Namun sayangnya, tidak semua orang mengerti dan memahami apa itu sastra, sehingga tak dapat dipungkiri bahwa peminat sastra cukup minim di zaman sekarang, terlebih di masa pandemi seperti ini. Maka dari itu, artikel ini diharapkan dapat menambah pengetahuan kita tentang sastra dan apa saja tawaran terbaik sastra di masa pandemi seperti ini.

Pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. Maka dari itu, mari ku ajak kalian berkenalan dengan sastra agar kalian cinta.

Secara etimologis kata sastra berasal dari bahasa Sansekerta: shastra. Sastra dibentuk dari akar kata sas- yang berarti mengarahkan, mengajar, dan memberi petunjuk. Akhiran –tra yang berarti alat untuk mengajar, buku petunjuk, atau sarana.

Secara harfiah kata sastra berarti huruf, tulisan, atau karangan. Kemudian dalam bahasa Indonesia dikenal istilah “Kesusastraan, bentuk dari konfiks ke-an dan susastra. Menurut  Teeuw,  kata susastra berasal dari bentuk su + sastra. Awalan su- pada kata susastra memiliki arti “baik atau indah”, yakni baik isinya dan indah bahasanya. Konfiks ke-an dalam bahasa Indonesia menunjukkan pada “kumpulan” atau “hal yang berhubungan dengan”. Sehingga, kesusastraan dapat diartikan kumpulan atau hal yang berhubungan dengan alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi atau pengajaran, yang baik dan indah.

Sastra sama seperti seni, baik itu seni tari, seni musik, seni teater, dan masih banyak lagi, yang didalamnya mengandung unsur kenikmatan. Namun, terdapat unsur bahasa yang menciptakan perbedaan antara karya sastra dengan karya seni yang lain. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa karya sastra adalah seni yang bermedia atau berbahan utama bahasa.

Salah satu fungsi sastra dalam kehidupan masyarakat yakni sebagai fungsi rekreatif, yakni fungsi yang dapat memberikan hiburan yang menyenangkan bagi penikmat atau pembacanya. Fungsi inilah yang dapat membuat hari-hari kita terasa menyenangkan, walaupun tak dapat dipungkiri bahwa pandemi membuat pikiran kita semakin sempit karena salah satu sebabnya tidak ada kepastian kapan pandemi ini akan berakhir.

Dikutip dari laman qureta.com, Creativity Research Journal telah memuat hasil penelitian tiga ilmuwan dari University of Toronto, Kanada, yang dipimpin oleh seorang psikolog, Maja Djiki. Berdasarkan penelitian mereka, obat penyakit pikiran sempit sesungguhnya murah dan mudah. Dengan membaca karya fiksi bermutu, orang bisa terhindar dan terlepas dari gangguan rasa tidak nyaman akan ketidakpastian.

Berbagai berita di televisi, media online, surat kabar penuh dengan data-data kasus covid-19. Dengan demikian itu justru malah membuat sebagian orang memiliki rasa takut yang berlebih, sehingga menyebabkan daya tahan tubuh mereka menjadi lemah.

Sebenarnya, pandemi bukanlah hal yang baru, melainkan kita sedang ‘CLBK‘ cinta lama bersemi kembali’.  Pandemi adalah kisah lama yang bersemi kembali dan akan terus bersemi kembali, karena dengan wabah, dengan virus yang sangat halus ini, dunia kedokteran, dunia farmasi semakin berkembang dan fasilitas kesehatan masyarakat akan senantiasa diperbaiki.

Kita mengelana lebih jauh yuk! Jika kita berbicara tentang wabah dan pandemi, maka terdapat karya sastra yang tidak dapat ditinggalkan, yakni novel Pale Horse, Pale Rider karya Katherine Anne Porter. 

Salah satu cuplikan paragraf dan bentuk penerjemahannya kurang lebih seperti ini “keadaannya benar-benar parah, semua teater dan hampir semua toko serta restoran ditutup, jalan-jalan penuh dengan pemakaman pada siang hari dan ambulance pada malam hari,” papar Miranda, tokoh dalam novel itu, sesaat setelah dia di diagnosa mengidap influenza. Bagaimana? Bisa dibilang hampir mirip dengan keadaan sekarang bukan? mulai dari lock down, PSBB, PPKM memunculkan horror yang kemudian meneror masyarakat itu sendiri.

Selain itu, terdapat novel dengan judul “Decameron” karya Giovanni Bocaccio, di dalamnya mengisahkan wabah menyerang Kota Florence, Italia pada 1348. Wabah itu merenggut 60% populasi penduduk kota tersebut, ikatan sosial hancur karena mereka saling menolak merawat, bahkan keluarga sendiri yang terkena penyakit.

Dikisahkan juga beberapa orang lainnya menenangkan diri kemudian kembali ke desa dan membuat dirinya berkelompok, mereka saling bercerita menyenangkan untuk menghibur diri.  Setelah dua pekan orang-orang ini adalah orang-orang yang bisa menyitasi pandemi, mereka kemudian sehat, dan bisa membantu teman-temannya.

Kemudian, Prof. Martin Marafiot (Universitas Pace), mengatakan “Ini semacam ‘naratif profilaksis’ dengan dosis yang tepat. Jadi cerita dengan dosis yang tepat justru dapat membuat seseorang memiliki daya tahan tubuh dan mental yang kuat. Sehingga, membuat dirinya berpikir positif dan bertindak positif, dan pada akhirnya dapat menyitasi pandemi. Naratif profilaksis ini dapat diartikan sebagai prosedur kesehatan “mencegah lebih baik daripada mengobati”.

Dr. Ari Ambarwati, M.Pd dalam ‘Webinar Sastra dan Pandemi: Sastra dalam Merefleksikan Kehidupan di Masa Pandemi’ menyampaikan tawaran terbaik Sastra dalam Pandemi, di antaranya:

  1. Sastra menjaga kewarasan, artinya sastra memungkinkan manusia terhubung dengan pengetahuan dan pengalaman pandemi di masa lalu;
  2. Sastra menghadapi ketakutan secara rasional, artinya boleh takut, namun perlu antisipasi dari rasa takut itu, sastra memampukan manusia berpikir optimis sebab kisahan dalam fiksi pandemik memberi fakta bahwa tragedi kemanusiaan memformulasikan spesies bernama manusia untuk terus bertransformasi lebih baik;
  3. Kemanusiaan dan sains yang memanusiakan, artinya selamanya sastra berkontribusi menyibukkan sastrawan dan pembaca untuk saling bertukar kisah-kisah manusia yang semakin mengilaukan sisi kemanusiaan. 


Pada akhirnya, sastra memang bukanlah pengobatan dalam hal medis, namun setidaknya karya sastra dapat menambah gairah, semangat, dan memperkuat daya tahan tubuh kita di masa pandemi ini.

Bagaimana? Tertarik mengelana lebih jauh dengan sastra?