Pada dasarnya manusia memiliki suatu hasrat untuk memenuhi suatu kebutuhan. Setidaknya manusia harus memenuhi hasrat yang menunjang hidupnya, seperti hasrat untuk makan. 

Uang diperlukan untuk memuaskan hasrat. Minimal untuk memenuhi suatu kebutuhan ‘perut’ saja, manusia terkadang harus bersusah payah untuk mencari uang. Seolah-olah uang merupakan alat satu-satunya untuk memenuhi segala kebutuhan manusia.  Tanpa uang, manusia tidak dapat mendapatkan segala kebutuhan, termasuk kebutuhan jasmani (makan).

Ada sebuah riset mengatakan bahwa uang dapat juga memengaruhi kebahagiaan seseorang. Oleh karena itulah uang menjadi alat untuk memenuhi kebutuhan.

Salah satu tokoh yang berasal dari benua Eropa lebih tepatnya Jerman Barat (Prussia) yang bernama Karl Marx. Karl Marx merupakan tokoh besar abad 18 yang memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap dunia. Banyak pemikir salah satunya Herbert Marcuse yang terinspirasi pemikiran Karl Marx. 

Karl Marx banyak menulis mengenai kerja dan upah dan berupaya mengajukan pertanyaan terkait dengan pekerjaan. Pertama-tama manusia bekerja untuk apa? Mengapa manusia perlu bekerja?

Hal yang diungkapkan oleh Marx yang ditulis oleh Rm. Magnis dalam bukunya yang berjudul Pemikiran Karl Marx, dituliskan bahwa manusia bekerja sebagai sarana perealisasian diri manusia. 

Ketika manusia bekerja sebagai sarana perealisasian diri, tentunya bekerja merupakan kegiatan yang menyenangkan. Tetapi, dalam kenyataannya, kerja yang dilihat bukanlah suatu kegiatan yang menyenangkan, melainkan yang terjadi adalah kebalikannya bagi kalangan para orang-orang pekerja kasar (buruh).

Kerja tidak merealisasikan hakikat mereka, melainkan justru mengasingkan mereka. Karena dalam sistem kapitalisme, orang tidak bekerja secara bebas dan universal, melainkan semata-mata terpaksa sebagai syarat untuk bisa hidup. Jadi, pekerjaan tidak mengembangkan, melainkan mengasingkan manusia, baik dari dirinya sendiri maupun dari orang lain.

Hal ini dikarenakan sistem perekonomian kapitalis yang berkembang berkesan rasional karena berjanji akan menjamin tingkat hidup yang makin tinggi bagi semua kalangan, baik itu kalangan atas maupun kalangan bawah seperti masyarakat buruh. Refleksi Marx tentang kerja dan kapitalisme, khususnya mengenai kaum pekerja/buruh, akan dilanjutkan oleh Herbert Marcuse.

Herbert Marcuse dalam bagian awal bukunya One-Dimensional Man menyebut bahwa manusia itu sebenarnya hendaknya harus bebas. Namun, kebebasan manusia bukanlah sebuah rahmat semata. Individu harus menjadi menjadi bebas untuk mengerahkan otonominya di atas suatu kehidupan yang akan menjadi miliknya. 

Di zaman masyarakat industri lanjut, kapitalisme makin berkembang dibanding dengan ketika zaman Marx. Di masa Marcuse, keadaan kaum buruh tidak lagi berkekurangan. Para buruh di zaman Marx mengalami keadaan yang berkekurangan dan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sedangkan di masa Marcuse segala kebutuhan para buruh sudah terpenuhi, gajinya sudah mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pokok bahkan untuk memuaskan keinginan-keinginan/hasrat. 

Tetapi, ada permasalahan baru yang ditemukan oleh Marcuse, manusia  bekerja, tetapi ia tidak bebas dengan pekerjaannya. Inilah yang disebut sebagai keterasingan.

Buruh mempunyai jam kerja yang begitu ketat, ia juga diminta untuk mengejar banyak target. Target itu digunakan oleh perusahaan sebagai langkah untuk membuat perusahaan memiliki jam terbang yang baik, profit yang tinggi, bahkan menjadi perusahaan yang memiliki penghargaan. 

Target-target ini oleh perusahaan akan ditunjukkan kepada pekerjaannya sebagai peluang agar pekerja mendapatkan bonus. Misal, ketika akhir tahun biasanya perusahaan akan mempekerjakan karyawannya untuk memenuhi target sehingga target pada akhir tahun tercapai, atau para driver ojol (ojek online) juga ditawari dengan target dan bonus yang demikian, driver ojol harus memenuhi target apabila menginginkan bonus hariannya keluar setiap minggunya.

Dengan demikian, kerja selalu didasari dengan hasrat untuk memiliki. Target dan bonus dalam perusahaan digambarkan oleh Marcuse sebagai prinsip prestasi. 

Dalam prinsip prestasi, pekerja akan bekerja lebih keras dan lebih giat untuk mengejar pencapaian yang dapat membuatnya memiliki prestasi. Prestasi tersebut dikejar demi mendapatkan penghasilan lebih/bonus. Marcuse memakai pemikiran Freud dalam kajiannya tentang ‘prinsip prestasi’. Prinsip prestasi penulis jabarkan seperti contoh yang sudah dijelaskan di atas.

Setelah targetnya tercapai, bonus yang dikeluarkan oleh perusahaan akan keluar. Ketika kebutuhan dasar sudah terpenuhi, apa yang dilakukan oleh pekerja? 

Pada masyarakat kapitalis lanjut, bekerja suatu sistem yang membuat uang hasil kerja cepat habis, yakni dengan merancang kebutuhan-kebutuhan yang ‘palsu’. Kebutuhan palsu adalah kebutuhan yang dibebankan pada individu oleh adanya kepentingan sosial khusus dalam represinya; kebutuhan yang mengabadikan kerja, agresivitas, penderitaan dan ketidakadilan. 

Jadi, semua orang akan mengabaikan bahwa dirinya itu menderita. Mereka berkejaran dengan target untuk mendapatkan uang sebanyak mungkin, sehingga uang tersebut dapat digunakan untuk membeli barang-barang yang memang diperlukan untuk bertahan hidup, seperti bahan-bahan pokok. 

Tidak hanya digunakan untuk membeli kebutuhan pokok, tetapi uang tersebut juga digunakan untuk memenuhi keinginan-keinginan yang lain. Misalnya ketika saya mendapatkan gaji tiga juta rupiah kemudian mendapatkan bonus satu juta rupiah, maka uang satu juta rupiah cenderung akan saya gunakan sebagai membeli barang-barang branded supaya hati saya senang, dan saya bisa bahagia, meskipun sebenarnya barang tersebut tidak dibutuhkan. 

Hal ini seperti yang disampaikan Marcuse bahwa hasrat itu abadi, menentang pemenggalan kesenangan yang ujungnya menjadi temporal serta menentang penyebarannya dalam dosis kecil secara terpisah.

Situasi yang demikian membuat manusia akan menjadi manusia yang berdimensi satu yang hanya diarahkan oleh kepentingan pasar. Di sini penulis mengangkat tema “kebutuhan palsu” berdasarkan keprihatinan penulis terhadap kondisi masyarakat yang makin hari makin mengarah pada manusia berdimensi satu. 

Kebutuhan palsu membuat orang menjadi tidak memiliki kebebasan untuk memilih. Orang akan selalu diarahkan kepada satu hal, yakni uang. Dengan uang, orang akan lebih mudah untuk mengonsumsi apa yang ia inginkan, bukan apa yang ia benar-benar butuhkan. 

Marcuse memberikan suatu refleksi yang cukup menarik dan sebenarnya menyadarkan bahwa ketika melihat suatu masyarakat yang demikian, maka kita perlu memakai akal budi untuk berpikir apa yang menjadi benar-benar membeli suatu kebutuhan yang memang dibutuhkan bukan membeli dengan hasrat “aku ingin”. Hasrat akan kebutuhan palsu akan membuat manusia makin tidak bebas secara individu