Captain Tsubasa merupakan anime yang bercerita tentang sepak bola. Anime yang cukup menarik bagi beberapa kalangan. Saya sendiri pun sangat mengemari anime ini. Di tengah pandemi virus corona, Captain Tsubasa sangat saya rekomendasikan untuk ditonton. Banyak hal menarik yang didapatkan saat menonton anime tersebut.

Membahas Captain Tsubasa tak lepas dari peran tokoh utamanya, siapa lagi kalau bukan Tsubasa Ozora. Banyak hal yang menarik dalam Captain Tsubasa, mulai dari rivalitas antara Tsubasa Ozora dengan Kojiro Hyuga, pasangan emas Tsubasa Ozora dengan Taro Misaki, tendangan dahsyat dari berbagai tokoh dalam cerita mulai dari Drive Shoot milik Tsubasa, Tiger Shoot milik Hyuga, Hayabusa Shoot milik Sun Niita, dan Knives Shoot milik Soda Makoto.

Setelah berulang kali saya menonton Captain Tsubasa, terdapat hal yang dapat dijadikan penyemangat hidup. Penyemangat tersebut berada pada karakter tokoh utama Tsubasa Ozora yang gigih dalam mengejar impian. 

Di sini saya menekankan cerita Captain Tsubasa versi 2002. Pada versi ini, banyak impian yang ingin digapai oleh Tsubasa. Mulai dari impian saat masih SD, SMP hingga dewasa. Semuanya diceritakan dalam versi ini. 

Dalam cerita Captain Tsubasa, terdapat tokoh yang sangat memengaruhi perkembangan potensi sepak bolanya. Tokoh tersebut bernama Roberto Honggo. Roberto merupakan pemain sepak bola profesional asal Brazil yang memiliki darah keturunan dari Jepang.

Singkat cerita, Roberto terpaksa harus berhenti dari karier sepak bolanya lantaran didera cidera mata. Roberto secara tidak sengaja bertemu dengan ayah dari Tsubasa, yaitu captain Ozora yang merupakan captain kapal pelayar. Ayah Tsubasa merekomendasikan Roberto untuk pergi ke Jepang untuk mendapatkan pengobatan pada matanya.

Di Jepang, Roberto akhirnya bertemu dengan Tsubasa yang masih duduk di bangku SD. Roberto banyak mengajari beberapa teknik sepak bola pada Tsubasa. Roberto pun mengajak Tsubasa untuk pergi ke Brazil selepas lulus SD. Di Brazil yang dikenal sebagai negara sepak bola sehingga Tsubasa diharapkan makin berkembang.

Tsubasa pun makin semangat dalam bermain sepak bola. Bahkan dengan semangatnya yang menggebu-gebu, Tsubasa berhasil menjuarai kejuaraan nasional sepak bola tingkat SD. Namun, tiba-tiba Roberto pergi ke Brazil tanpa mengajak Tsubasa. Hal ini dilakukannya karena tidak tega melihat ibu dari Tsubasa yang harus sendirian jika Tsubasa berangkat ke Brazil.

Tsubasa Ozora pun akhirnya menunda impiannya pergi ke Brazil selepas lulus SD. Tsubasa masih bertekad pergi ke Brazil setelah lulus SMP. Sebelum berangkat ke Brazil, Tsubasa dengan tekad kuatnya ingin mewujudkan impian menjadi juara nasional selama tiga kali berturut-turut dengan timnya, yaitu Nankatsu.

Perjuangan Tsubasa untuk mewujudkan impian menjadi juara nasional tiga kali berturut-turut tidaklah mudah. Selama melakoni pertandingan dengan timnya Nankatsu, Tsubasa selalu bertemu dengan tim-tim tangguh, mulai dari Azuma Ichi dengan pemain pilarnya Makoto Soda, Hanawa dengan si kembar Tachibana, Hirado dengan Jito dan Sano, Furano dengan Matsuyama, dan terakhir Akademi Toho yang pastinya dengan Kojiro Hyuga.

Berbeda dengan sewaktu SD saat itu, Tsubasa masih ditemani Taro Misaki dan Wakabayashi sewaktu SMP Tsubasa sudah tidak bermain dengan mereka. Keteguhan perjuangan tersebut dapat dilihat dari Tsubasa yang pantang menyerah dari setiap pertandingan. Sampai-sampai Tsubasa harus cedera pada lengan kanan dan kaki kirinya.  

Perjuangan yang sangat mendramatisasi terjadi saat pertandingan final antara Nankatsu melawan Akademi Toho. Tsubasa harus berkali-kali terjatuh dikarenakan cederanya. Bahkan sampai dibawa ke ruang perawatan. Namun Tsubasa tidak menyerah meski tubuhnya sudah hampir tidak bisa dibuat bermain lagi.

Semua itu dilakukan dikarenakan motivasi yang sangat kuat untuk meraih impian juara nasional tiga kali secara berturut-turut. Sampai akhir pertandingan, meskipun tidak dapat mengalahkan Akademi Toho, namun skor imbang 4-4. Dengan peraturan tidak adanya adu penalti, akhirnya Akademi Toho dan Nankatsu memperoleh juara Nasional secara bersama-sama. 

Sangat menarik bahkan penuh haru perjuangan yang dilakukan oleh Tsubasa Ozora. Meskipun ada pilihan untuk tidak melanjutkan pertandingan dikarenakan cederanya, Tsubasa masih memilih untuk melanjutkan pertandingan sampai dia tidak mampu berdiri lagi.

Selepas lulus SMP, Tsubasa akhirnya dapat pergi ke Brazil untuk bergabung dengan tim sepak bola unggulan Sao Paulo FC. Di Sao Paulo, Tsubasa harus berjuang melewati seleksi yang ketat untuk dapat memasuki tim inti.

Selepas dari Sao Paulo, Tsubasa melanjutkan untuk pergi ke Eropa, tepatnya ke Spanyol untuk bergabung dengan Barcelona FC. Di sana perjuangan Tsubasa lebih sulit lagi, dia terpaksa harus bergabung dengan tim Barcelona B terlebih dahulu. 

Untuk dapat memasuki tim ini, Tsubasa harus mencetak 10 gol dan 10 assist. Apakah Tsubasa menyerah? Jelas tidak. Dia dengan tekad menggebu-gebu akhirnya dapat melewati tantangan tersebut dan akhirnya bergabung dengan tim inti.

Di sini terdapat hal menarik yang dapat kita ilhami, yaitu terkait perjuangan meraih impian oleh Tsubasa Ozora. Perjuangan meraih impian di dunia nyata pun sama seperti di anime Captain Tsubasa, bahkan mungkin lebih rumit. Butuh perjuangan yang tidak setengah-setengah dalam meraih impian tersebut. Namun dengan tekad menggebu-gebu, bukan tidak mungkin impian tersebut dapat dicapai.