Tafsir tentang mahasiswa memang tidak sedikit, bergantung pada wawasan dan pengalaman dari siapa yang menafsirkan makna dari mahasiswa itu sendiri. Bagi kalangan akademisi mungkin akan memaknai mahasiswa sebagai orang yang belajar di perguruan tinggi tertentu dan harus menyelesaikan studi perkuliahan dengan nilai terbaik dan tepat waktu. 

Sisi lainnya, akan berbeda pula dengan kalangan organisatoris dan aktivis dalam memandang mahasiswa, serta banyak lagi tafsir lain perkara mahasiswa dari latar belakang lain. Saya sendiri setelah menjalani proses di kampus dan berkegiatan di berbagai organisasi dan kepanitiaan, baik yang ada di dalam kampus maupun di luar kampus dan ikut serta dalam kegiatan-kegiatan masyarakat, juga memiliki kerangka dalam memaknai hakikat mahasiswa.

Ketika berada di tahun pertama menjadi mahasiswa, bisa jadi akan banyak  kita temui perihal  tafsir dan peran mahasiswa bagi masyarakat, mulai dari dosen, senior, teman se-angkatan, orang tua, dan banyak mufassir sosial lainnya. Bahwa mahasiswa adalah Iron Stock, Agen of Change, Guardian of Value, Control Social. Bahwa mahasiswa itu kaum intelektual, bahwa mahasiswa adalah penyambung lidah rakyat, dan lain sebagainya.

Sampai saat ini, masih banyak yang berupaya untuk terus menafsir makna, posisi, peran, dan fungsi mahasiswa. Tapi proses yang telah saya lalui mengantarkan saya pada titik pemahaman bahwa mahasiswa adalah entitas yang unik di tengah masyarakat dan memiliki tanggung jawab yang besar akan kemajuan negara dan peradaban bangsa. Saya mengamini apa yang disampaikan oleh sahabat-sahabat yang mengatakan sebagaimana diungkapkan di atas.

Mahasiswa adalah mereka yang menjalani proses pendidikan di perguruan tinggi yang sudah menggunakan sistem pendagogi (sistem pembelajaran orang dewasa), di mana mahasiswa harus lebih berperan aktif dalam proses pembelajaran, tafsir umumnya dari berbagai pihak. Mengenai posisi mahasiswa, tentu dia adalah bagian yang tak bisa dipisahkan dari kampusnya, dan juga mahasiswa tidak boleh lupa bahwa dia adalah bagian dari masyarakat dan masyarakat adalah bagian dari syarat berdirinya negara.

Dari itu, sungguh benar adanya yang mengatakan bahwa mahasiswa memiliki peran penting dalam pengembangan dunia keilmuan dan peradaban manusia. Peran mahasiswa dalam dunia pendidikan tak lepas dari kemampuan berfikirnya yang kritis akan mengembangkan ilmu dalam bidang yang ia geluti. 

Mahasiswa sebagai bagian entitas masyarakat, juga memiliki peran dalam bernegara. Ikut serta dalam mewujudkan cita kemerdekaan yang termaktub dalam mukaddimah UUD, tentu sesuai dengan kapasitas kemampuannya.

Artinya bahwa mahasiswa yang memiliki peran sebagai Iron Stock, yaitu generasi harapan bangsa. Di masa depan mereka akan menjadi pemimpin-pemimpin masyarakat, oleh sebab memiliki bekal keilmuan dan pengalaman yang luas sebagai prasyarat untuk dapat menjalankan perannya sebagai orang-orang yang akan menahkodai negara ini dan menentukan bagaimana negara di masa depan. 

Menjadi penjaga nilai, Guardian of Value. Nilai apa yang kemudian yang perlu dijaga oleh mahasiswa sebagai generasi muda. Nilai yang perlu dijaga adalah nilai-nilai kemanusian, ke-Indonesia-an, serta nilai-nilai dalam keagamaan yang dibingkai dalam ikatan persatuan kebangsaan, dengan bertanggung jawab atas keilmuan yang dimiliki.

Jika kita cermati, seiring berjalannya waktu, perubahan terus terjadi. Suka tidak suka, mau tidak mau, dunia ini terus berubah, zaman terus berganti, ilmu dan teknologi akan terus berkembang. Diam atau bergerak, dunia pasti berubah, apakah akan ke arah yang lebih baik dari yang baik, atau lebih buruk, mahasiswa akan tetap memiliki peran dalam perubahan itu. 

Disinilah mahasiswa harus hadir menjadi penjaga nilai, dan mengawal perubahan yang terjadi. Jika tidak, bisa jadi perubahan yang ada justru ke arah yang negatif dan menjadi suatu kemunduran. Di tangan merekalah bagaimana nasib Indonesia masa depan. 

Sedikit menoleh ke masa lalu, kehidupan pendidikan di Indonesia bisa dibilang masih minim sarana dan tidak sebebas hari ini. Tapi walaupun pada kondisi yang sangat terbatas, dan bahkan dibatasi, kondisi itu telah mendidik mereka sebagai generasi muda yang tangguh, mampu bersikap kritis, mampu mengembangkan semangat kebangsaan dan pengembangan keilmuan serta ruang kontribusi nyata untuk bangsa ini.

Terbukti dari catatan-catatan sejarah bangsa tentang peran mahasiswa dalam dinamika kebangsaan yang terjadi. Sedang saat ini, ditengah teknologi yang berkembang pesat, yang mampu mendukung proses pendidikan dan pembelajaran, tidak sedikit mahasiswa yang terlena. Merasa besar karena nama kampusnya. Fokus mempersiapkan diri untuk membangun karir profesi tapi lupa akan cita kemerdekaan negerinegeri,  nasionalisme tergerus profesionalisme. 

Mahasiswa pada era ini hanya sedikit yang ikut serta dalam organisasi-organisasi kemahasiswaan, sedikit yang benar-benar menggeluti keilmuan untuk menjawan persoalan. Dari sebagian yang ikut berorganisasi hanya separuhnya yang memiliki militansi dan loyalitas, dan dari yang memiliki militansi dan loyalitas hanya separuhnya yang memiliki kapasitas. 

Dari sekian banyak mahasiswa yang ada, asumsi penulis, mungkin tak sampai pada angka 20% yang berorganisasi dan peduli terhadap permasalahan sosial kemasyarakatan, walau sekedar permasalahan perubahan kebijakan di kampus, selebihnya adalah sahabat-sahabat mahasiswa yang sekedar kuliah dan menjalani rutinitas kewajiban akademik, lulus dengan Cumlaude, dengan harapa, dapat kerjaan bagus dan upah besar pasca masa perkuliahan.

Asumsi tersebut tidak lepas dari pembacaan penulis pada kondisi kehidupan organisasi kampus. Seperti kondisi kontribusi mahasiswa dalam penentuan pemilihan Presiden Mahasiswa di kampus penulis. Dari jumlah total mahasiswa jenjang S1 dan D3 yang kurang lebih mencapai angka 30 ribuan sebagi daftar pemilih tetap, dalam tujuh tahun terahir tidak pernah mencapai presentasi 50% suara yang masuk untuk memilih.

Partisipasi hanya di angka 11 ribu sampai 12 ribu mahasiswa  yang memberikan suaranya untuk memilih Presiden Mahasiswa yang notabene sebagai wakil mahasiswa untuk menjadi penyeimbang kebijakan kampus, dari total 30 ribuan mahasiswa. Dan ternyata kondisi demikian ini juga terjadi di beberapa kampus besar. Kondisi yang cukup disayangkan.

Mungkin hal di atas hanya sekedar asumsi subjektif pribadi penulis. Jika pun itu banyak terjadi, semoga sahabat mahasiswa lainnya, mendedikasikan dirinya lewat jalan lain, sesuai keilmuan, minat dan bakat untuk Indonesia yang lebih berdaulat. 

Semoga mereka yang fokus mempersiapkan dirinya pasca kuliah untuk bisa bekerja di perusahaan besar bisa tercapai dan tidak lupa jika kelak ia mendapatkan tujuannya tersebut untuk ikut mensejahterakan masyarakat di sekitarnya. Sehingga, apapun posisi dan di manapun mahasiswa berada dia dapat memberikan kontribusi terbaik untuk bangsa dan negara.

Akhirnya, mungkin tulisan ini tidak berdasarkan pada data yang akurat, tapi tulisan ini hanyalah keresahan penulis melihat kondisi kemahasiswaan. Kerinduan penulis akan semangat para pemuda generasi penerus bangsa.

Semoga ini bisa menjadi refleksi bersama akan nasib bangsa ke depan dan sistem pendidikan di perguruan tinggi. Sebab, bagaimanapun ilmu yang didapatkan dari kampus adalah untuk kita dedikasikan untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater.