Adalah Mālik bin Nabī, pemikir Islam dari Aljazair. Sosok di balik ide KTT Asia- Afrika tahun 1955 itu sangat menaruh perhatian pada masalah pemikiran. Makanya beliau menulis buku khusus yang judulnya Musykilāt al-Afkāar (masalah-masalah pemikiran). 

Baginya, dunia pemikiran (ālam afkār) adalah satu yang paling utama sebagai trinitas sosial, ketimbang dua yang lainnya: dunia tokoh (ālam asykhōs) dan dunia materi (ālam asyā’).

Selain sumber daya alam, bagi Binabī, pemikiran adalah modal (ro’sul māl) yang tidak kalah penting bagi kelangsungan hidup suatu masyarakat (mujtama’). Pemikiranlah yang menjelaskan kenapa Jepang dan Jerman dapat tetap bertahan setelah perang dunia ke-2. 

Sempat luluh lantak, namun karena pikiran masih bersemayam dalam kesadaran masyarakatnya, tidak perlu waktu yang lama bagi kedua negara itu untuk bisa kembali jadi pemain utama.

Makanya Dr. Ahmad Sayyid Alī Ramadhān, di bukunya Madkhōl ilā al- Mazāhib al- Fikrīah al- Muāshiroh ketika berbicara tentang kebangkitan Eropa, titik mulanya bukan pada penaklukan Konstantinopel, atau penemuan benua Amerika oleh Colombus, atau rekonstruksi agama (Islāh dīnī) yang disuarakan Martin Luther. Kebangkitan Eropa dan berakhirnya abad pertengahan ditandai dengan beralihnya metode berpikir yang tadinya kental nuansa gereja menjadi saintifik- empiris. 

Pemikiranlah yang pada akhirnya mengawal perubahan sejarah manusia. Jazirah Arab adalah antah barantah tadinya. Namun, tidak setelah Islam sebagai standar berpikir baru yang mengisinya, setelah Islam mewarnai tempat itu, sekejap saja gurun-gurun pasir gersang di sana berubah menjadi gedung-gedung perpustakaan tempat ilmu pengetahuan bermuara—masyarakat dunia berbondong-bondong mengirimkan anak peradabannya ke sana.

Mengutamakan Pemikiran di Atas Pemikir

Tak bisa dimungkiri, kematian para filsuf besar seperti Ibnu Thufail, Ibnu Rusyd, dan Ibnu Bājah di masa Muwahhidun (1133- 1269 M), bagi Binabī, memang adalah suatu pertanda kemunduran peradaban Islam untuk pertama kali. Karena di masa itulah untuk pertama kali pemikiran sudah kehilangan kesakralannya (qadāsah). Umat Islam lebih suka membesarkan nama-nama filsufnya ketimbang memahami kecanggihan filsafat mereka.

Ketika membaca permulaan Syurut an- Nahdhah (syarat-syarat kebangkitan), sebenarnya inti sari itulah yang kita temukan. Mālik bin Nabī ingin mengajak kita untuk menaruh pikiran (fikroh) selalu selangkah berada di depan pemikirnya (mufakkir). 

Sepertimana adagium yang tertulis di poster para mahasiswa di Aljazair yang berhasil menamatkan riwayat panjang rezimnya: manusia datang dan pergi yang menetap adalah pikiran (pikiran). itulah intinya.

Kesadaran yang sama mesti kita carap dalam memandang pahlawan. Para pahlawan tidak mengharap foto-fotonya sekadar memenuhi dinding sekolah. Para pahlawan kita bukan berhala. 

Ketika pahlawan menjadi sekedar foto-foto yang tergantung, ketika itulah pahlawan sebenarnya jadi berhala. Dan perlu kita ketahui, bahwa ketika berhala terbit, sudahlah barang pasti bahwa kita sebenarnya sedang hidup dalam suasana tenggelamnya pikiran.

Kita sedang tidak berpikir, ketika mengultuskan tokoh. Makanya dalam Islam, masa paganisme disebut masa jāhiliyyah; karena pikiran tidak tumbuh di masa itu. 

Saking bergantungnya kita pada tokoh sekejap seruan-seruan di mimbar Jumat hanya membentur kehampaan saja; karena bunyinya: mana Shalāhuddīn al- Ayyūbī? mana Muhammad al- Fātih? Di mana?. Mana kita tahu. Pahlawan itu bukan ditunggu. Setiap kita punya potensi menjadi pahlawan.

Ketergantungan yang tidak boleh Terulang

Kita, umat Islam, pernah melalui masa-masa itu. Ketika tidur, kita terlalu lelap sampai-sampai sejarah enggan menoleh pada kita. 

Untungnya, Jamāluddīn al- Afghani dari negeri Afghan lantang kumandang azannya. Seruannya: hayya alāl falāh, membangungkan kita dari lelap. Kita terjaga, lalu saling bertanya: sudah berapa lama kita tidur? Apa saja yang sudah kita lewatkan? Monolog al-Afghani seketika jadi percakapan. 

Agar tidak terulang lagi masa-masa panjang menunggu tukang azan, makanya Syaikh Yūsuf al-Qardhāwi di bukunya Aina al-Kholal menekankan pentingnya ketidakbergantungan pada tokoh. Pemikiran tokoh adalah milik bersama. Tak perlu ada rasa tak enakan. Apalagi rasa-rasa menghinakan.

Hasan al-Bannā saja berterus terang menyeru padanya. Makanya bunyi salah satu dari 20 ushūl-nya adalah: setiap orang diambil perkataannya dan ditinggalkan kecuali Nabī .

Begitu pun al-Maudūdī, menyambut dengan gembira kritkan Sayyid Abūl Hasan an-Nadāwī. 

Sayyid Qutb pun tak kalah jelas. Masa-masa peralihannya dari yang tadinya kritikus sastra, sampai menjadi seorang da’i pergerakan dengan metodenya (manhāj) sendiri adalah suatu bukti nyata bahwa kritik adalah hal yang lumrah. Jadi biasa saja sebenarnya. Ketergantungan harus diurai; karena tukar-tambah pikiran adalah tradisi para cendekiawan kita sejak dulu.

Secara mendasar, Islam memang menyeru kita untuk menghindari segala bentuk pengultusan. Alqurān mengariskan itu dengan jelas: wa mā Muhammadun illa rosūlun qad Kholat min qablihir rusul

Hatta Nabi Muhammad ﷺ ‒ insan paling mulia di muka bumi‒ Allāh mengingatkan kita untuk tidak bergantung padanya. Karena benar apa yang dikatakan Abū Bakar: barang siapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat. Barang siapa yang menyembah Allāh, ketahuilah bahwa Ialah yang kekal abadi.

Belajar dari Liverpool

Belajar dari Liverpool. Ketika Suarez hengkang pasca kontroversinya menggigit Ivanovic, Brendan Rodgers tidak ambil pusing. Komentarnya santai saja: no one bigger than Liverpool.

Sepak bola Liverpool memang sepak bola tim, bukan sepak bola bintang. Suarez hanyalah satu di antara bintang yang kemunculannya bisa saja tergantikan oleh bintang-bintang di malam yang kemudian. Nilai kebersamaan yang tersimpul dalam filosofi we never walk alone lebih besar dari sekadar ketenaran perorangan.

Benar saja. Bintang-bintang yang lama redup pergi. Bersinarlah bintang-bintang baru yang berhasil mengantarkan Liverpool jadi jawara Eropa. Bahkan prosesinya dengan menyingkirkan Suarez, dan tanpa Brendan Rodgers.

We never walk alone sebagai filosofi memang sudah seharusnya melebur dalam kerja sama tim. Tidak ada yang lebih besar daripada Liverpool. Tidak boleh ada yang menyanyikan filosofi itu seorang diri.

Begitu pun pemikiran para pemikir, filsafat para filsuf, semangat perjuangan para pahlawan. Itu semua, perlahan-lahan, mesti terlepas dari diri mereka para empunya—bersenyawa dalam diri masyarakat. 

Prosesi itulah yang kemudian Mālik bin Nabī sebut sebagai peralihan dari model pemikiran yang sentrisnya berada dalam diri pemikir (afkār mujassadah), kemudian pemikiran itu jadi terpisah melingkupi kesadaran masyarakat secara menyeluruh (afkār mujarradah).

Proses itu harus ditempuh dengan membangun kesadaran bahwa tidak ada yang lebih besar dari kemaslahatan bersama. Pemikir harus sekuat tenaga merawat pemikirannya agar mengakar dalam kesadaran masyarakat. 

Jangan sampai kedirian para pemikir lebih menonjol daripada pemikirannya; agar pemikir tidak berubah menjadi berhala nantinya. Jadilah seperti Ashābul Kahfi, yang meninggalkan kesan, tanpa perlu mengumbar nama.