Pengantar

Anak muda dewasa ini telah banyak mengalami perubahan di dalam dinamikanya. Tak jarang, dinamika tersebut memunculkan berbagai permasalahan di dalam hidupnya. Permasalahan tersebut dapat terkait dengan pendidikan, harga diri, finansial, bahkan hubungan (baik dengan orang tua, sahabat, atau pacar).

Salah satu permasalahan hubungan yang sedang terjadi di antara kalangan anak muda saat ini adalah Toxic Relationship. Menurut dr. Kristen Fuller, seorang dokter keluarga dengan spesialisasi kesehatan mental yang berbasis di California, mengatakan bahwa toxic relationship dapat berdampak pada mental, emosional, dan bahkan mungkin secara fisik terhadap salah satu atau kedua partisipan suatu hubungan.[i]

Dari hal ini, kita dapat melihat adanya suatu ketidakseimbangan di dalam suatu hubungan yang beracun. Hubungan yang beracun tersebut tidak lagi ada bagi kebaikan untuk partisipan di dalam hubungan tersebut. Sehingga, hubungan tersebut menjadi penghalang bagi pengenalan diri yang mendalam bagi orang yang terlibat di dalam suatu hubungan.

Adapun seorang filsuf Yunani Kuno yang juga membahas tentang hubungan yang sempurna, atau persahabatan yang sempurna. Ia mengatakan bahwa persahabatan itu haruslah didasarkan pada kebaikan untuk mencapai kebaikan. Sehingga, di dalam artikel ini penulis akan membahas tentang definisi Toxic Relationship, pemicunya, pengantar Etika Keutamaan Aristoteles, persahabatan menurutnya, dan saran untuk mengatasi Toxic Relationship melalui pemahaman Aristoteles.

 

Tentang Toxic Relationship, ciri-cirinya, dan hal yang menyebabkan


Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Toxic Relationship adalah suatu kondisi di mana seseorang di dalam suatu hubungan merasa tidak mendapatkan dukungan yang cukup, dan merasa tidak dihargai. Pendapat ini dikemukakan oleh seorang penulis buku berjudul “Toxic People” yang bernama Dr. Lilian Glass. Ia menambahkan, hubungan yang sudah beracun ditemukan adanya konflik di mana satu orang berusaha menghancurkan yang lain.[ii]

Lebih lanjut, Seth J. Gillihan, Ph.D, yang adalah seorang psikolog berlisensi mengatakan bahwa banyak orang tidak menyadari bahwa hubungan mereka sudah masuk ke dalam Toxic Relationship.[iii] Banyak orang merasa bahwa hal-hal yang masuk ke dalam kategori Toxic Relationship hanyalah permasalahan umum dalam suatu hubungan. 

Banyak orang menjadi tidak aware bahwa hubungan mereka berubah menjadi toxic oleh karena suatu alasan tertentu. Umumnya, mereka menolak untuk menyadari karena mereka terlanjur menyayangi dan mencintai orang tersebut. Oleh sebab itu, Seth mengatakan terdapat lima (5) tanda bahwa suatu hubungan (yang adalah hubungan pertemanan, pasangan, orang tua, bahkan teman kerja) telah berubah menjadi beracun.

Pertama, menyangkal intuisi diri. Pada tahap awal Toxic Relationship, umumnya orang tidak menyadari bahwa hubungan mereka telah berubah menjadi beracun. Seseorang mungkin menyadari bahwa terdapat permasalahan yang terjadi, namun mencoba membiarkannya. Di sisi lain, intuisi orang tersebut mengatakan ada yang salah dari hubungannya, namun mereka mencari alasan untuk menyangkal intuisi tersebut.


Kedua, adalah kondisi yang disebut Seth sebagai Gaslighting. Ketika seseorang telah meragukan intuisinya, akan semakin mudah untuk melakukannya ketika pasangan orang tersebut lah yang mendorong untuk meragukannya. Seseorang yang Gaslighting (selanjutnya akan disebut sebagai manipulator) umumnya akan membuat pasangannya merasa bahwa dia lah yang salah di dalam hubungan tersebut.

Ketiga, Intermittent reinforcement, adalah suatu term penelitian psikologis terhadap perilaku hewan. Kondisi ini terjadi ketika seseorang mendapatkan “dinamika tarik-ulur” di mana orang tersebut tidak pernah tahu kapan akan mendapatkan cinta atau validasi. Seseorang mungkin akan mendapatkan perhatian dan kekuatan dari seorang manipulator yang dicintai pada suatu waktu. Namun di waktu yang lain, si manipulator tersebut akan mengkritik dan menjatuhkannya.

Mungkin pada suatu waktu seorang partner di dalam hubungan membantu dan membentuk kekuatan pada diri pasangannya, membuat pasangannya merasa nyaman tentang dirinya sendiri. Tetapi di waktu yang lain, partner tersebut membuat pasangannya menangis, mengkritik, membuat pasangannya merasa tidak cukup nyaman. Inilah yang disebut manipulasi.

Keempat, terisolasi dari hidup sosial. Setelah merasakan manipulasi dari partner yang toxic, seorang korban dari Toxic Relationship akan merasakan dampak pada dunia di luar hubungannya. Orang tersebut akan sedikit kesulitan untuk menghadapi realitas hidupnya. Atas alasan inilah pasangan atau si manipulator di dalam hubungan yang toxic tersebut akan berusaha untuk mengisolasi hidup sosial dari partisipan atau korban dari Toxic Relationship ini.

Kelima, setelah mengisolasi dan mengontrol pikiran dari orang tersebut (korban), dampak berikutnya dapat dirasakan di dalam diri si korban, yaitu tidak menjadi dirinya sendiri. Ketika seseorang berada pada healthy relationship, pada dasarnya orang tersebut akan merasa dicintai karena dapat menjadi dirinya sendiri.


Lalu, apa yang menyebabkan hubungan beracun semacam ini? Penulis melansir dari laman majalah Time, dr. Kristen Fuller mengatakan bahwa orang yang melakukan manipulasi terhadap pasangannya dalam intensitas waktu tertentu, biasanya dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaannya, meski terkadang hal itu terjadi secara alam bawah sadar.[iv]

Selain itu, peran orang tua di masa pertumbuhannya dahulu sangat terlihat ketika terjadi hubungan beracun semacam ini. Biasanya, seorang manipulator tumbuh dengan mengamati orang tua atau anggota keluarga yang berperilaku dengan pola beracun kronis dalam hubungan mereka. Ketika dewasa, si manipulator menganggap pola destruktif ini sebagai hal yang normal oleh karena tidak memiliki referensi hubungan yang sehat.

Tentang Etika Keutamaan Aristoteles

Untuk melangkah lebih lanjut, kita perlu memahami tentang Etika Keutamaan Aristoteles yang dilakukan demi mencapai kebahagiaan. Kebahagiaan dapat beragam, namun kebahagiaan ini adalah hal yang dituju sebagai sesuatu paling akhir. Kebahagiaan adalah tujuan demi tujuan itu sendiri.

Kebahagiaan seperti yang disebut di dalam buku Nicomachean Ethics, adalah sebuah tujuan akhir dari adanya manusia. Menurutnya, tujuan adalah bukan tujuan paling akhir jika hal itu bukanlah kebahagiaan.[v] Kekayaan bukanlah sebuah tujuan menurut Aristoteles, karena hal itu bukanlah akhir dari proses hidup manusia. Begitu pula segala hal materil yang dikejar oleh manusia di dunia.

Kebahagiaan dicapai dengan melakukan tindakan berkeutamaan. Keutamaan adalah kecenderungan baik yang dilakukan dengan cara menarik kepada sisi yang lain jika kecenderungan yang buruk menjadi kelebihan. Sehingga, keutamaan adalah jalan tengah yang menjadi kebiasaan. Dengan melakukan keutamaan, berarti seseorang telah bertindak dengan cara yang tepat, di waktu, tempat, suasana, dan untuk orang yang tepat.

Lebih lanjut, keutamaan juga berarti menjaga diri untuk tetap di tengah dan terkontrol. Seperti misal, seseorang yang marah apakah buruk? Aristoteles berkata tidak. Kemarahan adalah suatu bentuk tindakan menuju keutamaan jika seseorang marah dalam ketepatan tertentu. Jika orang tersebut telah marah pada waktu, tempat, situasi, dengan cara, dan kepada orang yang tepat, maka ia telah menjadi sabar, dan telah mendapatkan keutamaan.


Persahabatan menurut Aristoteles

Terkait dengan persahabatan, Aristoteles membahasnya di dalam dua bab dari Nicomachean Ethics. Pada awal pembahasannya tentang persahabatan, Aristoteles membukanya dengan pertanyaan, “Mengapa kita memerlukan persahabatan?”. Jawabannya dijelaskan secara detail oleh Aristoteles pada sepanjang pembahasan perihal persahabatan ini.

Menurutnya, adanya sahabat bagi seorang manusia adalah perlu karena dapat menuntunnya pada kebaikan. Persahabatan adalah hal yang tak dapat dihindari, pun secara tidak sadar manusia selalu mencarinya di dalam hidup. Meskipun seseorang telah menjadi kaya dan hal-hal lain di dalam hidupnya, ia tetap tidak dapat terlepas dari kebutuhan akan sahabat.


Aristoteles menyambung, “Apa gunanya kemakmuran jika tidak memberi manusia kesempatan untuk memiliki kesempatan untuk mendapatkan yang baik?”[vi] Terlihat jelas di sini bahwa Aristoteles ingin mengatakan bahwa persahabatan adalah salah satu dari bentuk keutamaan. Sehingga, kata kunci tujuan dari persahabatan/ pertemanan adalah kebaikan bagi keduanya (partisipan di dalamnya).

Lebih lanjut tentang persahabatan, Aristoteles mengatakan bahwa terdapat tiga (3) jenis persahabatan. Jenis-jenis tersebut didasarkan pada tiga hal berikut: Pertama, kegunaan atau utility. Persahabatan tipe pertama ini terjadi ketika di dalam relasi setiap pihak mendapatkan keuntungan dari pihak yang lainnya. Oleh karenanya, persahabatan macam ini mengandaikan adanya pemberian dan apa yang didapatkan dari persahabatan.

Kedua, kesenangan. Persahabatan macam kedua ini umumnya ditemukan pada orang muda, Menurut Aristoteles, hal ini terjadi karena emosi orang muda yang sedang berkembang, dan secara intens mengejar kesenangan. Persahabatan jenis ini terjadi di antara orang-orang yang mendapatkan kesenangan dari orang lain, baik itu kejenakaan, kecantikan, atau ketampanan.

Persahabatan ini menuntut penampilan baik dan menyenangkan dari seseorang. Pun demikian, Aristoteles mengatakan bahwa persahabatan seperti ini dimulai dengan cepat, dan berakhir pula dengan cepat. Sebab, menurutnya pula, banyak hal berubah dengan cepat, begitu pula dengan sahabat dan kesenangan dari orang muda.[vii]

Selanjutnya, Ketiga, yakni persahabatan yang didasarkan pada kebaikan. Persahabatan macam ini, menurut Aristoteles adalah persahabatan yang sempurna. Ia mengatakannya sebagai yang sempurna karena ini terjadi di antara orang yang sama-sama baik dan melakukannya itu di dalam kebaikan dan keutamaan.

Persahabatan macam ini mengandaikan adanya perbuatan baik dan dilakukan untuk bersama, demi sahabat, dan dengan demikian demi diri sendiri pula. Kebaikan menjadi kunci penting dari persahabatan jenis ini. Di dalamnya juga harus ada sikap “saling”, yakni sahabat mesti saling mengharapkan yang baik bagi sahabatnya. Tak hanya mengharapkan, sahabat harus melakukan yang baik pula untuknya.


Sehingga, kita telah menemukan kata kunci kedua, yakni sikap “saling”. Sikap saling di sini sangat berperan di dalam persahabatan yang sempurna. Sebagai contoh, persahabatan yang sempurna tidak akan berjalan jika salah satu orang di dalam hubungan tersebut adalah tidak baik (tidak mengusahakan yang baik, tidak mengharapkan yang baik). Di sini lah suatu persahabatan dikatakan tidak sempurna.

Lalu, persahabatan yang didasarkan pada kegunaan dan kesenangan apakah tidak baik? Aristoteles tidak mengatakannya sebagai buruk. Hanya saja kurang lengkap. Persahabatan yang lengkap dan sempurna mesti didasarkan pada kebajikan dan keutamaan demi memenuhi kebutuhan sahabatnya. Kebutuhan itu termasuk di dalam kesenangan dan kegunaan.

Dari adanya kebutuhan dan kesenangan yang dipenuhi dari sikap saling tadi, kita sekarang mengetahui haruslah ada kesetaraan di dalam sebuah persahabatan. Seorang sahabat tidak boleh lebih memaksakan kehendaknya kepada sahabatnya. Begitu pun sebaliknya jika yang satu berbuat baik, dan yang lain berbuat kekurangannya.

Oleh karenanya, persahabatan haruslah dilihat kembali pada asal-usulnya. Menurut Aristoteles, persahabatan muncul dari cinta diri. Hal ini diuraikan di dalam beberapa poin yang akan penulis satukan di dalam satu kalimat. Cinta diri sebagai dasar persahabatan karena orang yang menginginkan apa yang baik bagi temannya, terlebih dahulu melakukannya demi dirinya.

Hal ini bukan bermaksud sebagai mendahulukan keinginan pribadi. Namun, hal ini dimaksudkan sebagai seorang teman yang melihat dirinya sendiri pada orang lain, akan menginginkan seorang itu menjadi temannya. Seorang teman akan memiliki teman yang sama dengan keinginan-keinginan yang dimilikinya. Dengan demikian, persahabatan macam ini dapat saling mengusahakan keinginan baik bagi keduanya.

Penerapan Pandangan Persahabatan dengan Masalah Toxic Relationship

Seperti yang telah disinggung, bahwa partisipan di dalam persahabatan harus berada pada taraf setara. Karena hal ini menjadi tolak ukur dari sikap saling yang telah dilakukan di dalam persahabatan tersebut. Partisipan di dalam persahabatan mesti melihat apa yang dibutuhkan sahabatnya dari dirinya, pun begitu pula sebaliknya.

Pemahaman macam ini lah yang dapat kita terapkan secara bersama untuk mengatasi permasalahan hubungan beracun ini. Seorang partner di dalam hubungan harus mengerti dan memahami apa yang dinginkan pasangan dari dirinya. Pun juga sebaliknya, pasangannya juga harus mengerti partnernya itu. Hal ini dilakukan sebagai cara agar sikap “saling” dapat tercapai.

Seperti yang telah dikatakan, bahwa sikap “saling” ini adalah permulaan dari suatu hubungan persahabatan yang sempurna. Sikap “saling” dapat membawa kedua/ atau lebih orang di dalam suatu persahabatan kepada kebaikan sejati. Hal ini ada karena semua partisipan di dalam hubungan saling mengusahakan, menginginkan, dan melakukan kebaikan bagi yang lainnya.

Hal ini sangat berbeda dalam hubungan yang beracun, di mana si manipulator sangat memegang kendali di dalamnya. Ia berusaha untuk menang sendiri, menginginkan dan memaksakan kehendak pribadi dengan alasan demi kebaikan bersama. Orang semacam ini yang patut disebut sebagai pembawa ketidaksempurnaan di dalam persahabatan.

Lantas, apa yang harus dilakukan oleh korban Toxic Relationship? Atas dasar pemahaman ini, sudah semestinya orang yang menjadi korban menjadi mengerti ketidaksempurnaan dari hubungan “persahabatan” itu. Cinta memang baik, namun apakah itu cinta jika hal itu dipaksakan oleh salah satu pihak?

Artikel ini ditutup dengan pertanyaan singkat. Pertanyaan tersebut adalah pernyataan penulis bahwa sebenarnya masalah ini perlu dicari solusi matangnya lebih jauh. Bahkan, dengan pembahasan persahabatan, persoalan tersebut masih harus dipertimbangkan. Tetapi, “Jika cinta ada sebagai paksaan yang membawa pada tidak bahagia, apakah itu cinta?”

 ------


[i] Jamie Ducharme, “How To Tell If You’re In a Toxic Relationship-And What To Do About It”, dilansir dari laman https://time.com/5274206/toxic-relationship-signs-help/pada tanggal 11 Mei 2021.

[ii] Marissa Anita, “Oon Marissa’s Mind: Toxic Relationship”, dilansir dari laman https://greatmind.id/article/on-marissa-s-mind-toxic-relationshippada tanggal 12 Mei 2021.

[iii] Seth J. Gillihan, “5 Signs That a Relationship Has Turned Toxic”, dilansir dari laman https://www.psychologytoday.com/us/blog/think-act-be/201906/5-signs-relationship-has-turned-toxicpada tanggal 2021.

[iv] Op.Cit., Jamie Ducharme, Time Magazine.

[v] “Tujuan demi tujuan itu sendiri”. Aristoteles, Nicomachean Ethics, book 1.

[vi] Ibid., Book 8.

[vii] Ibid,.