Tidak sedikit orang yang terperangkap dalam rasa takut bertindak mencapai kesuksesan karena dua hal ini. Mereka beragam mulai dari anak tingkat SD sampai usia dewasa. Untuk anak-anak di TK saya tidak melihat ini, karena mereka belajar dengan rasa senang dan kegembiraan. Padahal, mengatasi rasa minder dan putus asa ini penting bagi kita dalam banyak hal.

Berdasarkan pengalaman pribadi, minder di anak-anak SD bisa disebabkan salah satunya dari pola pendidikan. Yang terjadi di jaman SD saya dulu, guru-guru minim memberikan pujian tapi lebih banyak penghakiman. Ini terjadi pada diri saya sendiri. Hingga kelas lima SD, saya bukan anak yang rajin belajar, bahkan hampir tidak pernah.

Karena ada beberapa guru yang suka marah bahkan pernah menampar saya dengan topi. Karenanya, saya jadi kurang termotivasi dalam belajar. Namun, sampai di kelas enam, wali kelas saat itu bilang, "kamu anak yang cerdas, suatu saat akan jadi orang sukses"

Bak disambar petir di siang bolong, kata-kata ini sungguh membuat saya terpana, hati berbunga-bunga. Kepercayaan diri saya naik, semangat belajar pun menggebu-gebu. Trik-trik belajar yang disampaikan di kelas, selalu saya ikuti dan terapkan.

Sampai-sampai, saya jadi salah satu yang diminta untuk mengajari beberapa murid di kelas dalam belajar kelompok. Satu tahun terakhir itu, berbeda jauh sekali dengan suasana kelas yang saya ikuti selama lima tahun ke belakang. Hasilnya, tahun terakhir itu saya berhasil dapat peringkat atas. Pencapaian yang luar biasa sekali saat itu, bagi saya.

Belum berhenti sampai di situ. Saat saya SMP, saya pernah mengalami rasa minder dan putus asa karena saya tidak masuk ke kelas unggulan di tahun ketiga. Ini cukup membebani karena harapan bisa masuk ke sekolah menengah favorit di daerah saya waktu itu pun pupus.

Namun saya berusaha mencari solusi, dengan mencari banyak informasi bagaimana menyiapkan karir di masa depan. Jika sekolah di SMK bisa jadi apa, di SMA bisa jadi apa semua saya cari kemungkinannya. Sampai pada skema terburuk, saya harus merintis dari bawah jadi buruh pabrik pun, saya sudah siapkan. Karena saya selalu berpegang teguh pada prinsip "dimana ada niat selalu ada jalan".

Ternyata saya tidak sampai pada skema terburuk itu. SMK menjadi pilihan saya. Kemudian setelah lulus dari SMK, saya berkesempatan kuliah seperti anak-anak lain yang mampu walaupun Alm. Ayah saya tidak punya uang sepeserpun untuk biaya kuliah. Saya sangat yakin ini kuasa Tuhan, doa dan usaha saya dikabulkan saat itu. Jalan terbaik diberikan pada saya.

Dan pada suatu ketika, saya mengerti bahwa minder dan putus asa adalah perasaan sementara, yang bisa terjadi pada kita kapan saja. Untuk mengatasinya adalah segera bertindak untuk mencapai apa-apa yang kita inginkan. Menyegerakan tindakan akan membuat kita sibuk dan lupa dengan rasa-rasa tadi. Kita akan difokuskan untuk melakukan hal-hal untuk mewujudkan apa yang ingin kita raih. Dan kita akan disampaikan pada keadaan dimana kita bisa benar-benar berhasil meraihnya atau usaha itu memang perlu dicoba lagi.