Beberapa waktu lalu saya memperoleh tiga peristiwa yang membekas di ingatan. Pertama, dalam peristiwa perjalanan menuju ke kantor. Ketika lampu hijau menyala, saya mulai berjalan dan belok ke arah kanan. Namun dari arah berlawanan, ada seorang ibu penjual jamu  menerobos lampu merah dan hampir menabrak saya.  Saya menggeleng-gelengkan kepala kepadanya, tetapi si ibu terlihat cuek.

Kedua, dalam perjalanan pulang dari pasar. Karena yang dicari tidak ada, saya bergegas pulang. Di perempatan lampu merah, saya berhenti, tepat di belakang sebuah mobil.  Di depan mobil tersebut ada motor matic yang dikendarai seorang wanita. Lampu hijau menyala dan kami mulai menjalankan kendaraan. 

Dalam hitungan detik terdengar suara yang sangat keras. Bruakkk. Terlihat jelas wanita di depan saya tadi terpental dan tergeletak. Motornya terpental dan barang-barangnya berhamburan di tengah jalan.  Tak berapa lama banyak orang menolong wanita itu.   Si penabrak melaju, mengetahui hal itu,  saya pun mengejarnya. Sekitar seratus meter si penabrak menepikan mobilnya. Saya juga menepi dan meminta KTPnya. Kemudian, menghantarnya ke kantor polisi untuk bertanggung jawab. Ia masih cukup muda, sekitar 20an tahun. Dia melakukan dua kesalahan, menerobos lampu merah dan menabrak seseorang. Dia terlihat pasrah dan merasa bersalah.

Ketiga, dalam perjalanan pulang ke rumah. Dengan sepeda motor saya pergi ke minimarket. Selesai berbelanja, saya pun pulang. Kira-kira lima menit perjalanan, di depan saya ada seorang remaja mengendarai sepeda motor. Dari sebelah kanan, ia ingin mengambil jalur kiri di mana saya berada. Tindakan itu dilakukan tanpa lampu sein dan menoleh terlebih dahulu.  Setelah cukup dekat, saya sedikit berteriak, “Kamu membahayakan!”. Dia mendengarkan, tapi malah melaju lebih kencang.

Sikap cuek dan seenaknya di jalan raya masih sering kita jumpai. Dari anak-anak hingga orang tua. Mereka menerobos lampu merah, kebut-kebutan, melanggar marga jalan dan lainnya.  Bahkan, sering kali dijumpai  ada yang melawan arus, tapi tampak biasa saja. Tidak merasa bersalah.

Disiplin dalam berkendara masih menjadi PR kita.  Masyarakat  masih  memandang enteng keselamatan  diri sendiri dan orang lain.  Nyawa sesama belum benar-benar dihargai.  Ini terbukti masih banyaknya pelanggaran dalam berkendara di jalan raya.

Berdasarkan data, tiga nyawa melayang tiap satu jam di jalan  akibat kecelakaan lalu lintas. Ada tiga penyebab terjadinya kecelakaan. Kesalahan manusia atau human error (61 %), faktor kendaraan (9%), prasarana dan lingkungan (30 %). Faktor manusia adalah penyebab tertinggi kecelakaan di jalan raya.

Bagaimana mengatasi masalah ini? Atau paling tidak memperkecil jumlah korban yang jatuh tiap waktunya?

Disiplin atau tidaknya di jalan raya menunjukkan bagaimana karakter suatu bangsa. Sebenarnya, cukup banyak orang yang disiplin di jalan raya. Tetapi banyak yang disiplin hanya karena menghindari hukuman. Taat  di jalan karena ada polisi berjaga. Memakai helm karena takut ada operasi polisi. Bukan berasal dari dalam diri yang tampak dalam kebiasaan disiplin. Yang akan tetap disiplin walau tanpa ada petugas polisi.

Kita memang masih membutuhkan personil polisi lebih banyak untuk operasi dan berjaga di jalan raya.  Namun hal itu tidak cukup. Kita membutuhkan disiplin diri yang kuat.  Hal ini diperoleh dengan penanaman disiplin sejak kecil dalam keluarga. Orang tua adalah pendisiplin pertama dan utama bagi anak.

Disiplin diri mudah ditanamkan ketika anak masih kecil. Semakin muda usianya, semakin mudah menanamkan disiplin.  Hal tersebut, seperti seorang ahli tanaman yang membentuk batang pohon yang muda. Pasti lebih mudah.  Sebaliknya, pendisiplinan pada orang-orang dewasa lebih sulit.  Sekarang ditilang, besok mengulang lagi. Jika tidak ada polisi berjaga, mereka melanggar lagi. Seperti batang kayu yang tua, mereka sulit dibentuk. Suka kembali ke bentuk awalnya.

Dalam menanamkan disiplin kepada anak, kita perlu belajar dari Jepang. Di sana anak-anak sejak dini dilatih disiplin. Selain itu, mereka juga melihat contoh disiplin dari orang tua. Melatih dan memberikan contoh adalah dua hal yang perlu dilakukan bersamaan.

Di Indonesia, orang tua perlu melatih dan menjadi teladan dalam disiplin. Contohnya, anak dilatih menaruh mainan pada tempatnya.  Orang tua mencontohkan disiplin melalui tindakan antri,  memakai helm, taat lampu lalu lintas,  dan seterusnya. Masalahnya, banyak orang tua yang “jarkoni” atau “iso ngajar ora iso ngelakoni”. Bisa mengajar apa itu disiplin tapi tidak berdisiplin.

Selain melatih dan memberikan teladan, perlu adanya konsekuensi logis. Siapa pun yang melanggar disiplin menerima konsekuensi. Misalnya, anak yang tidak mau membereskan mainannya dapat konsekuensi sesuai aturan. Orang tua yang tidak menggunakan helm ketika berkendara jalan raya, menerima konsekuensinya. Misalnya, dia harus memberikan uang 100 ribu ke kas RT.

Dalam penerapan konsekuensi logis,  orang tua harus konsistensi dan konsekuen.  Orang tua harus jadi teladan dalam hal menerima konsekuensi logis, sehingga hal itu diteladani oleh anak. Jangan bisa menasehati, memerintah tapi gagal melakukan apa yang diajarkan.

Orang tua menjadi kunci keberhasilan proyek disiplin di tengah keluarga. Ini adalah proyek jangka panjang. Mungkin 15 hingga 20 tahun ke depan kita baru menikmatinya. Di waktu itu, kita akan asing dengan tindakan menerobos lampu merah, kebut-kebutan di jalan ataupun melawan arus lalu lintas. Kita asing dengan tindakan tidak disiplin.

Pertanyaannya, apakah kita mau melakukan investasi jangka panjang? Di mana budaya instans semakin mempengaruhi kehidupan bangsa kita?