Salam Leaders!!!

Setiap manusia adalah pribadi yang unik, tidak akan ditemukan tipikal sifat yang sama seseorang dengan yang lainnya. Pribadi yang berbeda satu sama lain ini menjadi dasar keberagaman dalam organisasi yang memunculkan dinamika. Ada anggota tim yang begitu mudah untuk dibina dan diarahkan. Tapi ada juga anggota tim yang membutuhkan treatment khusus agar bisa lebih kooperatif dan berjalan sesuai dengan ketentuan. Stereotip sebagai "Bad Boy" menempatkan seseorang pada persepsi buruk dalam tim kerja atau organisasi. Seperti pepatah yang mengatakan "sekali lancung ke ujian, selamanya orang tidak akan percaya". Dimanapun orang tersebut ditempatkan, stereotip itu akan terus mengikuti. Lantas, apakah seorang Bad Boy dapat diperbaiki? Bagaimana menangani Bad Boy agar menjadi pribadi yang lebih baik?

Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang berakal budi, yang pastinya memiliki sisi kejujuran dalam dirinya. Sisi kejujuran inilah yang bisa kita sentuh dengan komunikasi tanpa kekerasan. Komunikasi tanpa kekerasan (Non Violence Communication/NVC), juga disebut komunikasi pengasih atau komunikasi kolaboratif adalah pendekatan hidup tanpa kekerasan yang dikembangkan oleh Marshall Rosenberg mulai tahun 1960-an. Rosenberg menyatakan bahwa semua manusia memiliki kebutuhan yang sama dan bahwa semua tindakan kita merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Munculnya situasi konflik karena kita memilih  menggunakan bahasa dan strategi untuk memenuhi kebutuhan tersebut, yang tidak sesuai atau bertentangan dengan kebutuhan orang lain.

Komunikasi tanpa kekerasan bertujuan untuk membantu seseorang menemukan cara menyampaikan apa yang dibutuhkannya tanpa menimbulkan rasa bersalah, tanpa mempermalukan, menyalahkan, memaksa, atau mengancam orang lain.  Model komunikasi ini sebenarnya lebih menitikberatkan pada kemampuan untuk mendengar dan rasa empati terhadap orang lain. Kita dibiasakan untuk mendengar penjelasan terlebih dahulu, sebelum memberikan komentar atau tanggapan. Kita dibiasakan untuk melakukan observasi terlebih dahulu terhadap sebuah situasi, sebelum membuat penilaian dan mengambil keputusan. Kita dibiasakan untuk bereaksi secara hati-hati terhadap sebuah aksi, serta menghindari kalimat-kalimat yang merugikan dalam memberikan feedback.

Berdasarkan teorinya, komunikasi tanpa kekerasan  dapat difokuskan menjadi empat area yaitu observasi (observation), perasaan (feelings), kebutuhan (needs) dan permintaan (request). Empat fokus area dalam model komunikasi ini apabila diterapkan akan menjauhkan seseorang dari kalimat-kalimat penghakiman, tuntutan, ancaman dan sarkasme. Termasuk di dalamnya stereotip negatif Bad Boy pada seseorang yang dianggap "mbalelo" pada organisasinya. Bad Boy biasanya memiliki daya tawar yang tinggi, karena memiliki potensi lebih dibandingkan dengan anggota tim lainnya. Potensi ini yang terkadang membuatnya besar kepala dan merasa perlu mendapat perlakuan istimewa. Sikap "nyeleneh" yang  ditunjukkannya seringkali merupakan upaya untuk menarik perhatian. Sehingga dibutuhkan perlakuan khusus untuk mengelola potensinya, agar dapat  berkontribusi lebih bagi kemajuan organisasi.

 

Area Observasi

Langkah awal menangani Bad Boy dalam komunikasi tanpa kekerasan adalah melakukan observasi terhadap permasalahan yang terjadi. Identifikasi apa yang menjadi penyebab sikap mbalelo, baik dari sisi Bad Boy, maupun dari sisi anggota tim yang lain. Identifikasi permasalahan dan tentukan beberapa alternatif pemecahannya. Gunakan prinsip win win solution agar solusi yang dihasilkan dapat menguntungkan semua pihak, dan utamanya bagi organisasi. Pengecekan dengan beberapa pihak perlu dilakukan, untuk mendapatkan data dan fakta yang valid, adil dan tidak berpihak. Selama masih ada kemauan untuk menjadi lebih baik dan dilandasi dengan kejujuran, masih ada harapan untuk memperbaiki seorang Bad Boy. Gunakan kalimat-kalimat observasi yang netral, hindari kalimat tuduhan yang menyudutkan pihak tertentu.

Area Perasaan

Ajaklah Bad Boy bicara dari hati ke hati, untuk mengetahui apa yang dirasakan dan apa yang diharapkan. Sentuh sisi kejujurannya untuk mengetahui kendala atau hambatan yang dialaminya dalam menjalankan tugas. Bisa jadi dia merasa tugas yang diberikan tidak sesuai dengan kompetensinya. Bisa juga dia merasa potensinya belum dimanfaatkan organisasi secara optimal. Gali potensi yang dimiliki untuk bisa menempatkannya pada posisi dan tugas yang tepat. Gali masukan dan sarannya untuk kemajuan organisasi dengan melakukan brain storming. Seorang Bad Boy biasanya mempunyai ide-ide cemerlang yang mungkin selama ini tidak tersalur dengan benar. Ide-ide ini sebenarnya menunjukkan kreatifitas dan inovasi mereka yang patut kita hargai.

Area Kebutuhan

Disinilah proses negosiasi mulai dilakukan. Sampaikan kebutuhan organisasi dan standar kinerja yang diharapkan. Berikan tantangan, kontribusi apa yang dapat diberikannya untuk memenuhi tuntutan kebutuhan tersebut. Kita juga harus melihat sisi kebutuhannya untuk dapat berkontribusi lebih bagi organisasi. Seperti kebutuhan fasilitas kerja, kesempatan untuk eksis, training untuk peningkatan kompetensi ataupun reward dalam bentuk materi.  Selama itu tidak menyalahi aturan dan ketentuan yang berlaku, kebutuhan-kebutuhan itu dapat dipenuhi. Perhatikan prinsip keadilan, jangan sampai terkesan Bad Boy mendapat perlakuan istimewa tanpa alasan.  Bila mendapat fasilitas yang berbeda, harus dilandasi alasan yang kuat dengan tuntutan kinerja yang lebih tinggi. Misalnya diberikan fasilitas seperangkat komputer dengan spesifikasi yang lebih tinggi, karena harus mengerjakan tugas program-program atau desain-desain grafis yang tidak bisa dikerjakan orang lain.

Area Permintaan

Pada area ini kita harus tegas menyampaikan permintaan dalam bentuk target kinerja yang jelas. Gunakan prinsip take and give, keseimbangan dalam memberi dan menerima.  Organisasi memberikan kesempatan dengan memberikan dukungan dan kepercayaan, sebaliknya seorang Bad Boy juga harus berkontribusi lebih bagi organisasi. Sepakati reward dan punishment yang tidak merugikan organisasi dan anggota tim yang lain. Lakukan monitoring dengan pengawasan melekat terhadap kesepakatan tadi, sejauh mana dia menepatinya. Minta dukungan orang-orang disekitarnya untuk ikut berpartisipasi merubahnya menjadi pribadi yang lebih baik. Bila terjadi pertentangan menjadi tugas kita sebagai pemimpin untuk menyelesaikan konflik yang terjadi di lapangan.

Terkadang sebagai pemimpin kita dibenturkan pada pilihan yang sulit. Perlu dipertimbangkan untung rugi merangkul Bad Boy dibandingkan dengan resiko penolakan dari anggota tim yang lain. Buatlah momen kebersamaan untuk meningkatkan kolaborasi dan menghilangkan stereotip Bad Boy pada orang-orang tertentu. Perlu terus ditanamkan rasa saling percaya dan rasa saling menghargai untuk mewujudkan kolaborasi dalam organisasi. Berikan kesempatan pada seorang Bad Boy untuk berubah, karena menghakiminya tidak akan menyelesaikan masalah, tapi memberikan kepercayaan akan memotivasinya untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. (IkS)