Kalau tulisan ini dimuat, maka ini adalah tulisan pertama saya di Qureta. 

Perkenalkan saya adalah seorang mahasiswi yang sudah menginjak semester 6 di salah satu perguruan tinggi swasta. Selain menjadi mahasiswi, saya pun menjadi pembimbing (musyrifah) para santri di pondok pesantren. Keduanya adalah lembaga dalam satu yayasan di kota Lamongan. 

Di masa pandemi ini, beberapa kegiatan mengharuskan saya untuk bekerja dari rumah saja. Istilah kerennya sekarang adalah WFH (work from home).

Dari mulai kegiatan memantau hafalan para santri hingga tugas-tugas UAS (Ujian Akhir Semester), saya sendiri yang semuanya dilakukan secara daring (online). Tidak ada masalah selagi kita melakukan apa pun secara baik dan ikhlas untuk menghindari bencana serta selalu taat pada aturan pemerintah dalam meminimalisasi bencana Covid-19 ini.

Tak hanya kegiatan-kegiatan seperti di atas saja, saya pun tidak lupa memaksimalkan beberapa hobi saya saat di rumah ini. Yang awalnya hanya mempunyai hobi seperti membaca, menulis, dan traveling (hobi yang terakhir tidak memungkinkan dilakukan di tengah pandemi), ini pun kemudian mulai menambahkan salah satu kegiatan, yaitu kegiatan memasak dalam list hobi terbaru saya agar lebih produktif di rumah juga niatnya.

Ingat, ini hobi. Hobi adalah hal yang dilakukan dengan senang hati dan gembira. Yang memengaruhi hobi adalah mood, jadi doakan saya agar mood saya selalu baik ya ketika memasak.

Menurut saya, memasak sendiri bukan hanya sekadar sebuah kegiatan dalam memproses sebuah makanan dari bahan mentah menjadi matang saja. Namun, ia lebih dari itu, memasak adalah sebuah seni yang komprehensif. 

Di dalamnya ada wujud cinta dari sang koki yang meliputi kegiatan memilih dan memilah bahan makanan, memotong, meracik, mengolah (digoreng, direbus, ditumis, dikukus, dan lain-lain), menghidangkan makanan dengan penampilan mahakarya yang sebaik mungkin, hingga memikirkan tujuan kenapa harus memasak, masakan yang sudah jadi nanti bakal untuk siapa? Ada tidak ya yang mau mencicipi nantinya? Bergizi tidak ya masakannya? Ribetkah menurut kalian?

Dari situ, memasak adalah kegiatan yang bisa dibilang selalu melibatkan pikiran. Atau istilah lainnya dalam laman greatmind.id, ia adalah konsep "sadar utuh" yang kerap dikenal sebagai mindfulness merupakan sebuah pendekatan di mana kita diharapkan dapat mengenali apa yang tengah kita alami dan rasakan sensasinya. 

Dalam memasak secara mindful (sadar diri) serta ketulusan, maka akan menumbuhkan sebuah perspektif tersendiri dalam memaknai sebuah kehidupan. Bisa juga di beberapa individu, hal ini bisa mengurangi stres atau rasa tertekan dalam diri.

Ketika awal mencoba hobi memasak ini, saya sempat percaya diri sekali, tetapi kenyataannya tentu tidak segampang dan semulus yang saya kira itu, dari mulai mencari resep-resep masakan di youtube dan buku resep, melihat tayangan masak-memasak di TV, memaksimalkan ilmu kira-kira, adonan yang tidak mengembang, tangan yang melepuh karena terciprat minyak panas saat menggoreng, hingga yang paling membuat gereget adalah perkataan-perkataan ibu saya mengenai hobi baru saya ini.

"Mbak, awas loh kalau dapurnya kotor lagi."

"Beli bahan-bahan masak kok mahal-mahal gini, Mbak?"

"Mbak, kamu masak riweuh banget sih."

"Sekarang itu zamannya serba instan, Mbak. Jajanan apa-apa bisa langsung dibeli, ngapain capek-capek." Dan bermacam-macam omongan yang lainnya (namanya juga ibu-ibu, hehe).

Tetapi ternyata setelah beberapa hari berjalan, mungkin karena sudah ikut merasakan hasil masakan saya seperti (tumis ikan pari asap, cireng, batagor, nugget, dan lain-lain) yang  bisa dibilang lumayan dan tidak jelek-jelek amatlah dalam hal rasa, serta melihat keseriusan saya dalam menggeluti hobi baru yang satu ini.

Lantas, entah kenapa akhir-akhir ini ibu saya mulai tidak berkomentar banyak? Malah beliau mulai ikut andil juga dalam memberi saran agar membeli bahan di beberapa toko yang notabene murah, hingga berkata dengan sendirinya, "Bulan puasa biar nggak tidur-tiduran dan malas ya memang harus selalu dibuat banyak kegiatan atau aktivitas, Mbak. Kalau diam malah nanti lemas dan capek juga,“ kata ibu nyeletuk di saat saya sedang memasak. 

Walaupun tidak secara eksplisit, saya tahu kalau beliau (ibu saya) sejauh ini sudah tidak mempermasalahkan hobi baru saya ini. Ya pokoknya terserah saya saja.

Walaupun masih sangat pemula dalam bidang memasak, dari sini saya tahu beberapa manfaat yang saya dapat dari kegiatan tersebut, yakni melatih konsentrasi dan daya ingat, lebih mandiri, bisa makan apa pun sesuai selera saya (karena saya yang memasak), me time yang sangat menenangkan.

Untuk teman-teman, ingatlah bahwa tidak ada yang salah dalam mencoba hal-hal yang baru. Don't be afraid to try. Setiap proses yang dilakukan dengan hati, tulus, ikhlas, serta sungguh-sungguh pasti akan menghasilkan suatu kreativitas dan kedisiplinan yang baik. 

Ya, itulah kegiatan saya. Lantas apa kegiatan kamu di masa pandemi ini?