Ayunan kaki kiri Federico Valverde pada Alvaro Morata pada saat babak extra time di Final Copa de Espana membuat striker Timnas Spanyol itu kehilangan kesempatan untuk mencetak gol. Berkat keputusan berani Valverde, Real Madrid terhindar dari kegagalan untuk tidak meraih trofi pertama musim ini.

Alih-alih dihujat, aksinya justru dipuji oleh Diego Simeone, pelatih Atletico Madrid, yang menjadi rival satu kota. Sayang, dewi fortuna malam itu hinggap untuk kota El Real. Derbi Madrid jadi milik Los Blancos.

Usai pertandingan, Diego Simeone berujar, "Tackle yang dilakukan Valverde adalah bagian paling krusial dalam pertandingan."

Lalu Diego Simeone menambahkan, "Dalam situasi itu, Valverde melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang pemain belakang." Tak sampai di situ, Valverde ditetapkan sebagai Man of The Match sebab dirinya memang bermain apik, meski mendapat kartu merah.

Masih dalam euforia juara, Real Madrid mungkin saja bertambah senang atau sebaliknya, ketika mendengar kabar yang datang juga dari seteru bebuyutan mereka. Jika Valverde milik Real Madrid bernasib mujur, maka ada satu Valverde lain yang bernasib sebaliknya. Dan tulisan ini akan menyoal Valverde yang malang itu.

Adalah pelatih Barcelona, Ernesto Valverde Tejedor, yang diberhentikan secara tidak hormat. Valverde mendapat hadiah kurang mengenakkan itu pada Selasa dini hari ( 14/1/2020) melalui akun Instagram resmi, Barcelona memutus kontrak pria Spanyol 55 tahun itu, mengumumkan pemecatan pelatih yang sebelumnya pernah menukangi Athletic Bilbao. 

Terkait pecat memecat, jelas ini bukan tradisi Barca. Sebelumnya, kebanyakan pelatih Barca yang dicap gagal oleh publik  lebih dulu merasa mawas diri, dan tanpa diminta pelatih-pelatih itu kemudian angkat kaki dari Camp Nou. Tetapi Valverde memilih tabah, seperti menunggu giliran untuk dipecat. 

Valverde mengakhiri kepelatihannya dengan kepala tertunduk. Bagaimana tidak, di laga terakhir, Barca kalah dengan Atletico Madrid saat memperebutkan tiket final Super Copa de Espana. Malang betul nasib Valverde. Dengan demikian, ia menyamai nasib Luois Van Gall, yang tujuh belas tahun silam juga tidak mengundurkan diri alias dipecat.

Mengapa Valverde Dipecat?

Barca pada pertandingan krusial sering kali tergelincir. Misalnya saja saat berturut-turut di-come back Liverpool dan AS Roma pada ajang bergengsi antarbenua biru. Dan kekalahan atas Atletico Madrid sebetulnya hanya semacam kekesalan yang memuncak, yang akhirnya berakibat angkat kopernya Valverde.

Dua tahun setengah Valverde membidangi klub Catalunya itu. Ia menorehkan catatan yang menurut saya tidak buruk-buruk amat. Dari 145 laga yang dilakoni, Barca memetik hasil 97 kemenangan, 32 imbang, dan 16 kekalahan. Sebenarmya, hasil yang dicatat Valverde jauh lebih baik ketimbang Luis Van Gaal, Johan Rijkard, dan pelatih-pelatih lucu yang pernah menangani Barca lainnya.

Selain itu, bersama Barca, Valvarde memenangi 4 gelar. Dua gelar di liga Spanyol, Satu trofi Copa del Rey, dan Satu piala Super Spanyol. Tapi yang perlu diingat, justru di bawah Valverde-lah tak satu pun trofi Liga Champions dimenangkan. Itu mungkin jadi alasan pertama di balik dipecatnya Valverde.

Trofi liga Champions adalah yang paling bergengsi. Sebab untuk mengangkat "Si Kuping Gajah" itu harus bertarung dengan klub jawara benua biru lainnya.

Meski demikian, sepak bola bukan soal kemenangan. Lebih dari itu, bagaimana kemenangan itu didapat. Dengan cara payah atau sebaliknya?

Sepak bola juga tidak dihitung lewat torehan trofi semata. Untuk klub sekelas Barcelona, catatan Valverde sama sekali tidak mengesankan. Meski begitu, kita tetap memberi hormat pada Valverde.

Alasan berikut mungkin juga dapat menjelaskan kewajaran terdepaknya Valverde. Yakni, gaya bermain yang makin jauh dari filosofi. Sering kali ia menginstruksikan para bek dan pemain tengahnya untuk menjadi deeplying-playmaker, melepaskan operan dari belakang langsung menuju daerah kosong di depan, sedikit dekat dengan garis pertahanan lawan. Singkatnya, sangat tidak tiki-taka sekali.

Di bawah asuhan Valverde, pola menyerang Barca juga jadi mudah dibaca; mengikuti arah gerak Messi, sehingga terkesan Messi-sentris. Itu makin jelas ketika Messi sering dipakai sebagai False Nine.

Selain itu, Valverde terlihat mengurus Barca dengan cara yang kurang tepat. Misalnya saja, tradisi mencetak bintang dari akademi La Masia tidak berjalan bagus pada era Valverde. Padahal kita tahu, gol demi gol, filosofi bermain, kemenangan, dan juara Barca banyak dicatatkan oleh kaki-kaki produk La Masia, sebut saja Gerrad Pique, Ineasta, Xavi, Bosquet, dan yang fenomenal tentu saja adalah Lionel Messi.

Baca Juga: Dilema Barcelona

Atau mungkin nama-nama seperti Riqui Puiq, Ansu Fati, Carles Arena, dan lain-lain tertutup sihirnya karena daya magis pemain-pemain di atas?

Tetapi tetap saja Valverde patut disalahkan, karena dianggap tak becus mengorbitkan dengan maksimal bakat-bakat muda, hasil didikan akademi La Masia.

Mengapa Memilih Quique Setein?

Sepak bola memang penuh hitung-hitungan. Dan rasanya, sebagai klub yang lebih dari sekadar klub, Barcelona cukup jeli berhitung. Dan perhitungan itu pada akhirnya mengeluarkan sebuah nama.

Sebelum nama itu resmi diumumkan, lebih dulu mantan pemain yang juga legenda Barca, Xavi Hernandez, dikabarkan yang akan melatih. Namun terhalang jalan buntu. 

Nama lain yang mencuat untuk mendapuk Barca adalah Ronald Koeman dan Maurocio Pochettino. Tetapi sepak bola tidak mudah ditebak, Quique Setein-lah yang akhirnya ditunjuk oleh presiden klub Jose Mario Bartomeu untuk menjadi pelatih kepala Barca.

Terpilihnya Setein barang tentu tidak serampangan. Barca pastinya sadar bahwa klub sebesar itu tak mungkin sudi beli kucing dalam karung.

Lalu mengapa Setein yang dipilih? Apakah ia hanya pilihan terakhir atau ada alasan mendasar yang kuat?

Mungkin banyak yang belum begitu tahu pelatih baru Barca ini. Bahkan namanya tak lebih terkenal dibanding Indra Sjafri atau Rahmad Darmawan. 

Quique Setein sebetulnya bukan pelatih kemarin sore. Hampir sepertiga umurnya ia habiskan untuk bekerja di sepak bola, dengan mengepalai 7 klub: Racing Santander, Poli Ejido, Timnas Guinea Khatulistiwa, Logrones, CD Lugo, Las Palmas, dan Real Betis.

Deretan klub yang pernah dilatih oleh Setein di atas boleh dibilang kebanyakan berada di papan tengah, satu pun tak ada klub besar. Tetapi di antara klub itu, Racing Santander dan Logranes pernah dibawa Setein promosi ke La Liga.

Hampir semua riwayat melatih Setein ia catat bersama klub lokal. Artinya, Setein mafhum benar kultur sepak bola Spanyol. Tetapi bukankah Barca tidak sekadar bersaing di Spanyol? Iya, benar, dan itulah alasan dan sebabnya.

Begini, pengalaman melatih Setein adalah soal konsistensi. Ia konsisten menunjukkan bahwa ada yang khas dari caranya menyajikan permainan: sepak bola menyerang, umpan pendek, penguasaan bola, satu dua sentuhan yang meledak-ledak, yang membuat lawan selalu berlari sehingga kehilangan tenaga. 

Real Betis, meski berada di papan tengah, banyak menuai pujian berkat formasi 4-2-3-1 yang sering dipakai Setein: permainan yang agresif, tapi tetap indah. Sebuah gaya yang tidak seksi bagi Valverde atau kurang dimaksimalkan, tetapi gaya itulah yang mengantarkan Johan Cyruff dan Pep Guordiola mentereng sebagai pelatih kelas wahid sewaktu melatih Barca.

Lebih-lebih, Setein akan terbantu dengan nama-nama besar pemain Barca, komposisi pemain yang sudah matang, dan sudah sangat akrab dengan gaya bermain demikian.

Dari segi profil dan perjalanan karier, pria 61 tahun itu kalah jauh dibanding Ronald Koeman dan Maurocio Pochettino. Tapi Setein punya filosofi bermain yang sesuai dengan ke-khasan blaugrana. 

Di tambah, ia punya kedekatan historis dengan Barca. Sebelum mendarat sebagai pelatih, ia pernah mengasuh beberapa pemain dan mantan pemain Barca di klub sebelumnya. Mereka adalah Bartra, Junior Fripo, Kevin Prince Boateng, Christian Tello, Halilovic, dan lain-lain.

Jalan Terjal  Quique Setein di Barcelona

Melatih klub sebesar Barcelona jelas bukan perkara gampang. Nama besar dan pengalaman yang kaya tak selalu menjamin. Apalagi untuk ukuran Setein yang baru akan merasakan adrenalin melatih klub raksasa. 

Sementara paruh musim belum dimulai, tentu banyak suara sumbang yang meragukan Setein. Tetapi saya memilih untuk melihat penunjukan Setein dari kacamata optimisme.

Kita akan lihat sejauh mana kerja Quiqye Setein. Copa de Espana boleh saja raib. Tapi untuk La Liga, Copa del Rey, dan Liga Champions, tentu tak boleh kecolongan.

Sebagai Barcelonistas, saya menaruh harapan besar kepada laki-laki Santander itu. Yang lekas pudar, semoga Setein membuat Barca jadi lebih terang.