Mengapa Tuhan harus satu? Kenapa tidak dua, tiga, empat, atau lima? Kenapa? Bukankah kalau ada kerjasama antara masing-masing Tuhan alam semesta ini akan lebih teratur? Bukankah keyakinan akan Tuhan yang berbilang itu sah dan mungkin-mungkin saja? 

Di dunia ini, misalnya, kita menyaksikan keburukan dan kebaikan. Dan adanya fenomena tersebut kerap membingungkan banyak orang.

Kalau Tuhan Maha Baik, mengapa Dia harus menghendaki keburukan? Bukankah keyakinan kita akan adanya Tuhan baik dan Tuhan buruk itu bisa lebih masuk akal ketimbang kita hanya percaya pada Tuhan yang baik saja? Mungkin itulah beberapa pertanyaan yang terlintas di benak sebagian orang.

Mengapa Tuhan harus ada satu? Ada banyak jawaban yang bisa kita kemukakan untuk menjawab pertanyaan itu. Beberapa jawaban akan kita sertakan dalam tulisan ini. Setelah jawaban itu disertakan, mari kita nilai bersama: Mana keyakinan yang lebih masuk akal? Tuhan yang satu atau Tuhan yang berbilang?

Saya mengklaim bahwa keyakinan akan Tuhan yang satu lebih masuk akal ketimbang keyakinan akan Tuhan yang berbilang. Mengapa bisa begitu? Alasannya sebagai berikut:

Pertama, kalau Tuhan ada dua, maka kita dihadapkan dengan dua kemungkinan. Pertama, Tuhan yang satu cukup untuk mengatur alam semesta. Kedua, Tuhan yang satu bekerjasama dengan Tuhan yang lainnya. Jika kita memilih kemungkinan pertama, maka Tuhan yang kedua nganggur. Kalau sudah nganggur, apa layak disebut sebagai Tuhan?

Untuk apa diyakini sebagai Tuhan? Wong dia sendiri nganggur dan nggak punya kerjaan? Karena itu, pilihan pertama tak bisa kita terima. Karena dia memungkinkan adanya Tuhan yang tidak berkontribusi apa-apa bagi keberlangsungan alam semesta. Dalam dunia sehari-hari saja pengangguran dipandang hina, lalu bagaimana mungkin kita meyakini Tuhan yang tidak bisa berbuat apa-apa?

Tapi bagaimana dengan kemungkinan kedua? Ada dua Tuhan, dan kedua-duanya saling bekerjasama. Katakanlah yang satu memakmurkan satu bagian dunia, yang satu lagi memakmurkan bagian dunia yang lain. Konsekuensinya, kalau kita meyakini itu, kuasa Tuhan tidak bersifat mutlak alias terbatas. 

Tuhan yang satu tugasnya hanya terbatas pada satu bagian. Dan Tuhan yang kedua tugasnya hanya terbatas pada bagian yang lain. Bisakah kita menerima keyakinan akan Tuhan yang kekuasaannya terbatas itu? Tidak bisa. Ketuhanan meniscayakan ketak-terbatasan. Kalau sudah terbatas, namanya bukan Tuhan.

Atau, katakanlah kedua-duanya mengatur semua bagian dari alam semesta, dengan cara kerjasama. Ini juga tidak mungkin. Mengapa? Karena kalau Tuhan saling bekerjasama, itu artinya Tuhan yang satu butuh pada Tuhan yang lain. Kalau sesuatu itu sudah butuh pada sesuatu yang lain, apakah ketika itu dia layak kita yakini sebagai Tuhan? Tuhan kok butuh? 

Kalau sudah butuh berarti dia lemah. Kalau dia lemah, apa pantas kita yakini dia sebagai Tuhan? Tanpa ragu-ragu jawabannya adalah tidak. Karena itu, keyakinan akan dua tuhan, atau lebih, akan berkonsekuensi pada kemustahilan-kemustahilan yang sulit diterima oleh akal. Ini argumen pertama.

Kedua, kalau di sana kita mengasumiskan ada dua Tuhan, itu artinya masing-masing dari keduanya harus berserikat, atau menyatu, dalam aspek ketuhanan. Mengapa? Karena kedua-duanya adalah Tuhan. 

Tetapi, untuk dikatakan dua Tuhan, masing-masing dari keduanya harus memiliki perbedaan. Sebab, tidak mungkin kita mengatakan sesuatu itu dua, tapi keduanya tidak memiliki perbedaan sama sekali alias persis sama.

Singkat kata, Tuhan yang satu harus beda dari Tuhan yang lain. Dengan ungkapan yang lebih jelas, Tuhan yang satu harus memiliki sifat yang tidak dimiliki oleh Tuhan yang lain. Mengapa? Ya untuk mewujudkan keberbilangan itu. Karena kalau sifat yang membedakan antara keduanya itu tidak ada, maka Tuhan tersebut tidak lagi menjadi dua.

Sekarang muncul pertanyaan: sifat yang membedakan antara Tuhan pertama dengan Tuhan yang kedua itu sifat kesempurnaan atau bukan? Kalau dia sifat kesempurnaan, maka Tuhan yang tidak menyandang sifat tersebut memiliki kekurangan. Mengapa? Karena dia tidak menyandang sifat kesempurnaan yang dimiliki oleh Tuhan yang lain. 

Sementara Tuhan harusnya menyandang semua sifat kesempurnaan, tanpa terkecuali. Karena itu, kemungkinan pertama ini sulit untuk kita terima. Tapi bagaimana kalau sifat yang membedakan antara Tuhan pertama dengan Tuhan yang kedua itu bukan sifat kesempurnaan, melainkan sifat kekurangan?

Kemugkinkan kedua lebih tidak mungkin lagi untuk kita terima. Mengapa? Karena kalau dia menyandang sifat tersebut, berarti dia cacat, karena dia menyandang sifat ketidak-sempurnaan. Kalau dia menyandang sifat ketidak-sempurnaan, apakah dia pantas kita sebut sebagai Tuhan? 

Anda percaya bahwa sesuatu itu Tuhan, tapi dalam saat yang sama Anda percaya bahwa dia memiliki sifat ketidak-sempurnaan. Bisakah Anda menerima keyakinan seperti itu?

Ketiga, bisa jadi ada orang yang mengandaikan adanya Tuhan yang baik dan Tuhan yang buruk. Seperti yang kita temukan dalam keyakinan para penganut agama Zoroaster. Tuhan yang baik melahirkan yang baik-baik. Dan Tuhan yang buruk mengurusi yang buruk-buruk. Mungkin, secara sepintas, Anda akan bersetuju dengan keyakinan seperti ini. Tapi, kalau kita analisis lebih dalam lagi, keyakinan seperti ini justru bermasalah.

Mengapa? Sebab, jika kita meyakini keberadaan Tuhan baik dan Tuhan buruk, kita harus ingat bahwa di antara kebaikan itu ialah menolak terjadinya perbuatan buruk. Kepada para penganut keyakinan ini, kita ingin bertanya: Tuhan yang Anda pandang baik itu bisa mencegah keburukan atau tidak? 

Kalau dia bisa, dan keburukan itu berada dalam genggaman kuasa-Nya, itu artinya Dia “menganggurkan” Tuhan yang buruk. Dan karena dia nganggur maka dia tidak layak lagi disebut sebagai Tuhan.

Tapi kalau dia tidak bisa, mana mungkin dia kita sebut sebagai Tuhan? Bisakah Anda meyakini sesuatu sebagai Tuhan, sementara dia sendiri tidak bisa—alis lemah—dalam mencegah dan menghentikan keburukan, yang merupakan salah satu macam dari kebaikan? Kalau sudah tidak mampu tidak mungkin kita sebut sebagai Tuhan. 

Karena itu, adanya keburukan dan kebaikan tidak harus mendorong kita untuk meyakini adanya Tuhan baik dan Tuhan buruk. Tuhan itu Maha Baik. Tapi, adanya keburukan yang terjadi di dunia ini tidak serta merta menjadikan Tuhan itu buruk. Karena yang layak disifati dengan keburukan itu pelakunya, bukan penciptanya.

Bahwa Tuhan yang menciptakan keburukan, iya. Tapi bukankah keburukan itu sendiri terwujud dari perbuatan manusia yang juga memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan? Tuhan menciptakan keburukan, tapi manusia yang melakukan keburukan. Karena itu, sifat keburukan harusnya disandang oleh pelaku, bukan pencipta. 

Inilah beberapa argumen yang bisa kita kemukakan untuk membuktikan bahwa keyakinan akan Tuhan yang satu itu jauh lebih masuk akal ketimbang keyakinan akan Tuhan yang berbilang. Demikian, wallahu ‘alam bisshawâb.