Dalam dunia kampus, tentu kita ketahui bahwa ada banyak tipe dan ciri-ciri mahasiswa. Ada mahasiswa dengan gaya dan penampilan yang sok gokil, bergaya hedinos dan bertingkah tak ubahnya seperti artis jalanan, di mana setiap yang memandangnya akan merasa terpukau dan terkagum. 

Ada juga yang bertingkah seakan tidak punya beban, entah itu cara pembawaannya saja atau bagaimana, karena pada sejatinya mahasiswa pasti memiliki banyak tanggung jawab, namun tingkah hedonisnya itu seakan mampu menggugurkan semuanya.

Ada juga yang sering tampil dalam setiap momen-momen kampus, memobilasi massa untuk melakukan kritik yang tidak pro terhadap mahasiswa, intinya sebagai penggeraklah untuk melakukan aksi seperti halnya demonstrasi

Selain itu, ada juga yang hanya datang di kampus, mendengarkan ceramah-ceramah dosen sampai tuntas, berkunjung ke fakultas, kerja tugas dan akhirnya pulang ke rumah atau kosan dan masih diselimuti dengan tugas-tugas kampus. Dan masih banyak lagi tipe-tipe mahasiswa  lain yang pernah kita jumpai.

Sebagai seorang mahasiswa pasti tidak lepas tentang pengetahuan mengenai sejarah perjuangan mahasiswa, peran mahasiswa terhadap perkembangan dan pembangunan Indonesia. Mari kita tengok bersama, mahasiswa seperti Bung Hatta, Bung Karno, Syahrir dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. 

Namun, saya tidak akan membahas panjang lebar peran sosok tokoh-tokoh tersebut, tapi sekiranya itu bisa menjadi pengingat bahwa peran dan tanggung jawab mahasiswa terhadap bangsa dan negeri ini tidaklah diragukan lagi. Dan mestinya itu dapat menjadi dorongan kepada kita untuk memaknai kemerdekaan di era sekarang ini dengan mengisi hal-hal yang positif demi kemajuan negara kita.

Cukup sampai di situ, kembali pada tema yang tertera di atas, mengapa ya sedikit jurusan Matematika yang berminat berorganisasi gerakan? Saya akan mencoba mengurainya berdasarkan pada pengalaman dan pengamatan. 

Ya, kebetulan saya termasuk mahasiswa jurusan Matematika di Universitas Sulawesi Barat, Matematika Sains lagi, waow pasti keren, kan. Kalau ada yang bertanya kenapa kebetulan, biarlah itu menjadi privasi saya.

Sebelum kita manjadi Mahasiswa, pasti dari sekian banyak mahasiswa, jurusan Matematika menjadi pelajaran yang paling sedikit peminatnya. Bukan karena apanya, matematika memang memusingkan, di mana setiap yang berjumpa dengannya pasti akan bergelut dengan angka-angka yang sampai akhirnya berakar-akar dan otak pun terkadang berakar-akar sampai akar kuadrat. 

Jadi, jika memang tidak kuat untuk berjumpa dan angka-angka dan simbol-simbol maka butuh kerja keras jika dihadapkan dengan kondisi seperti itu untuk masuk jurusan Matematika.

Mungkin itulah salah satu alasan, mengapa di kampus saya dari sekian banyak jurusan, jurusan Matematikalah yang paling sedikit pendaftarnya setiap tahun. Hanya butuh hitungan jari untuk menghitungnya. 

Menjadi mahasiswa jurusan Matematika, menurut hemat saya, butuh kerja keras dan ketekunan yang kuat. Butuh kesabaran tingkat dewa untuk bergelut dengan angka-angka dan simbol-simbol. Ya, simbol-simbol tersebut bukan tidak berarti, tetapi butuh kegigihan lagi untuk dapat mengetahui apa maksud dari simbol-simbol tersebut.  

Sehingga tidak heran jika di jurusan Matematika terkadang harus mengkhayal untuk dapat menangkap apa maksudnya dari simbol tersebut. Dan memang begitu matematika, kebanyakan membuktikan sesuatu yang sangat jarang kita jumpai dalam dunia nyata. Apalagi kalau sudah berbicara trigonometri, berbicara vektor, aljabar ditambah lagi analisis real. Ampun, saya tidak mampu berkutip apa-apa.  

Mahasiswa dengan jurusan Matematika tidak cukup hanya dengan membaca buku dengan sekilas untuk dapat memahami suatu pelajaran. Melainkan butuh banyak latihan mengerjakan soal-soal dan itu pasti butuh banyak waktu. Sehingga itu juga yang dapat memicu waktu seharian dapat dihabiskan hanya dengan mengerjakan tugas kampus dan mengerjakan soal-soal. 

Karena jika tidak banyak mengerjakan soal-soal latihan, maka sungguh sulit untuk memahaminya. Makanya tidak heran kalau jurusam matematika sedikit yang berminat masuk organisasi pergerakan. 

Ya, disadari atau tidak, hubungan antara organisasi pergerakan dengan jurusan Matematika sangat jauh berbeda. Organisasi pergerakan yang cenderung pada ilmu-ilmu sosial seperti halnya politik, ekonomi, hukum, pertanian dan lainnya. Sedangkan jurusan Matematika seakan dipersiapkan hanya untuk mahasiswa siap kerja. 

Eits, namun bukan berarti tidak mampu menjalankan antara organisasi dengan jurusan kampus secara berdampingan.

Oleh karena itu, Mahasiswa dengan jurusan Matematika yang masuk organisasi pergerakan, butuh konsentrasi yang baik dalam mengatur waktu. Mampu mengkolerasikan antara ilmu matematika dengan ilmu yang ada di organisasi. Yang biasanya di kampus banyak dituntut untuk mengerjakan soal-soal dengan rumus-rumus yang sudah disediakan. Sedangkan, di organisasi akan berjumpa dengan wadah diskusi, diajarkan untuk berfikir kristis dan kreatif terhadap problem yang terjadi.

Dengan demikian, tidak heran memang kalau jurusan Matematika sendikit yang berminat berorganisasi dalam pergerakan. Selain karena memang mahasiswanya yang sedikit, juga didukung dengan bidang keilmuannya dengan limit/jarak yang terlampau jauh. 

Sehingga perlu untuk memperbaiki manajemen waktu dalam kerja tugas, belajar, diskusi dan berorganisasi. Karena jika tidak mampu diatar, ujung-ujungnya akan menghilang dari organisasi tanpa ada kabar.