2 tahun lalu · 392 view · 2 menit baca · Politik bukan-hanya-ustad-arifin-ilham-dan-aa-gym-saja-namun-anggota-dpr-juga-akan-ikut-demo-aksi-bela-islam.jpg
Ilustrasi: trentekno.com

Mengapa Saya Ikut Aksi?

Di facebook, twitter, whatsapp, line, bbm, dan segala jenis akun media sosial yang  saya punyai, pertanyaan itu-itu saja yang selalu muncul. Saya bingung harus memberi penjelasan yang bagaimana lagi. Dijawab secara bijak, dibilang sok intelek. Diberi yang asal-asal, dibilang berotak dangkal. Maunya apa coba?

Sebagai bentuk penegasan, biar publik negeri ini juga tahu, ada baiknya untuk saya utarakan kembali saja mengapa saya harus ikut aksi 4 November kemarin. Dan untuk tahu alasan-alasan itu, simaklah tulisan ini sampai tuntas. Pendek sekali kok. Sumpah.

***

Sedari awal, saya sudah menunjukkan ketidaksukaan saya pada Ahok. Semua bermula dari semenjak dirinya menjabat Wakil Gubernur DKI mendampingi Jokowi. Hal itu kemudian berlanjut ketika dirinya diamanahkan sebagai Pelaksana Tugas Gubernur lantaran sohibnya mengambil cuti untuk Pilpres.

Dan sampai dia benar-benar resmi menggantikan Jokowi sebagai orang nomor satu di Pusat Indonesia, kebencian saya atasnya kian membuncah. Terlebih lagi bahwa dia dan pasangannya Djarot ikutan maju sebagai sang petahana di Pilkada 2017 nanti.

Jujur, saya tidak bisa terima jika Ahok terus-menerus membawa contoh yang baik di negeri ini. Semakian dia dibiarkan, semakin dia benar-benar akan menjadi pusat perhatian juga teladan. Semakin itu pulalah keiri-dengkian saya akan berlanjut. Sebab saya hanya ingin jika pasangan calon yang saya dukunglah yang berlaku demikian. Entah itu Anies – Uno, ataupun pasangan Agus – Silvy. Yang penting bukan Ahok saja. Titik!

Meski beragam upaya perlawanan telah saya telurkan untuk meredam keagungan Ahok, saya selalu menuai kebuntuan dalam berpikir. Bagaimana mungkin melawan sang petahana dengan elektabilitas di atas rata-rata? Melawannya secara fair play di Pilkada, saya rasa hanya kesia-siaan yang akan saya dapat. Banyak energi yang akan terkuras. Hasil tetap saja akan nihil.

Di tengah kebuntuan itu, saya lalu mendapat celah yang sangat bagus. Celah itu datang dari viral Ahok yang sebelumnya telah diplintir begitu apik oleh Buni Yani.

Menurut  pengalaman yang ada, tentu saja saya tak langsung optimis bahwa viral fiktif ini akan benar-benar menjadi senjata yang ampuh. Tetapi seiring berjalannya waktu, kebohongan viral ini semakin mendapat dukungan begitu luas. Dan itu tak lepas dengan semakin banyaknya juga orang-orang yang suka menebar berita-berita hoax, termasuk saya sendiri, di laman-laman medsos seperti yang saya punyai itu.

Darrr…!!! Viral itu benar-benar meledak. Yang tadinya hanya sekadar satu taktik meredupkan elektabilitas Ahok, akhirnya kini berbuah manis. Seperti yang saya harapkan, orang-orang yang tidak tebal keimanan dan intelektualitasnya benar-benar telah terpengaruh. Setidaknya telah terbukti dengan lahirnya aksi gerombolan bertajuk “Bela Islam”.

Dengan rona yang sumringah, saya pun menjadi bagian dari aksi tersebut. Ya, meski kotor, licik, dan penuh bualan belaka, saya kira tak masalah. Sebab saya sadar, tak ada cara paling efektif untuk melawan Ahok selain dengan kelicikan. Bahwa Ahok harus dibikin redup dengan isu penistaan hasil rekaan Buni Yani yang entah suruhan siapa saya tidak tahu.

Mau gimana lagi coba. Diadu dengan program kerja, Ahok sudah terbukti berhasil. Setidaknya jika dibanding program kerja pasangan calon lain yang hanya atau baru sebatas ide dan rencana. Menilai kebijakan Ahok tidak benar-benar berhasil, toh sejumlah penghargaan yang dirinya sudah terima membungkam langkah semacam ini.

Hemat kata, tak ada celah lain untuk melawannya selain dengan cara-cara Machiavellian: segala cara harus dihalalkan ketika kepentingan pribadi yang bicara. Apalagi kita tahu bahwa tingkat  pendidikan masyarakat kita sangat rendah. Karenanya, tak perlu retorika berbasis fakta, hanya butuh sedikit pembohongan publik saja.

Jadi, sudah tahu kan apa maksud hati saya ikut aksi demonstrasi itu? Tak ada maksud lain selain hendak mencekal Ahok sebagai kandidat. Di samping saya tak suka jika Ahok jadi pemimpin DKI kembali, saya juga tak sudi jika dia melanjutkan program kerjanya untuk Jakarta yang lebih baik. Pokoknya saya tak mau. Itu saja.