Mahasiswa
4 minggu lalu · 528 view · 6 menit baca · Hiburan 82984_19528.jpg

Mengapa Roy Kiyoshi Bisa Tertipu?

Malang tak dapat ditolak, untuk tak dapat diraih. Roy Kiyoshi, seorang paranormal kondang yang wajahnya kerap menghiasi layar kaca, mengalami musibah yang tak ia sangka-sangka. Honor kerjanya dengan nominal sebesar Rp300.000.000 raib dibawa lari oleh asisten kepercayaannya sendiri, Muhammad Syahroni.

Kalimat-kalimat seram yang dibawakan dengan intonasi cadel khas Roy Kiyoshi seperti: "Saya mencium bau perwujudan siluman di sini", "Di belakang kamu terdapat sosok yang menakutkan", "Saya melihat tragedi tersebut akan terjadi di penghujung tahun 2018", dll seakan paradoks dengan realitas tragis yang menimpa Roy Kiyoshi saat ini.

Tragedi ini jelas membuat Roy terpukul dan menderita kontroversi hati yang mendalam. Sehingga, mau tak mau, pria keturunan Cina ini terpaksa menutup sementara Biro Jasa Konsultasi yang ia dirikan, yang berlokasi di Bilangan Alam Sutra, Tangerang, Banten.

Publik, khususnya yang gemar berkicau serta bergosip di Jagat Mayantara, menanggapi peristiwa ini dengan terkejut sembari mengernyitkan dahi. Pasalnya, mereka heran, bagaimana bisa seorang Indigo yang juga Host di acara televisi 'Karma' bisa sampai terperdaya?

Untuk bisa menganalisis penyebab kenapa Roy Kiyoshi bisa tertipu, maka ada baiknya kita harus menelisik jenis 'kekuatan supranatural' apa yang Roy Kiyoshi miliki, dengan asumsi dasar bahwa Roy Kiyoshi memang seorang Enhanched Individual yang dikaruniai kekuatan magis dan bukanlah seorang penipu (Conman).

Jelas, Roy Kiyoshi tidak dibentengi oleh ilmu kebal seperti Limbad. Ia juga tak bisa melakukan teleportasi seperti Dokter Strange, dan sudah pasti ia juga tak bisa menembak-nembakkan partikel sihir seperti Lord Voldemort.

Lantas tergolong jenis apa 'kekuatan' Roy Kiyoshi itu? 

Melihat dari sepak terjang Roy Kiyoshi selama ini sebagai Host di acara 'Karma', Roy Kiyoshi bisa dikategorikan sebagai seorang Esper yang dianugerahi Extra Sensory Perception (ESP). Kemampuan ini melibatkan beberapa aspek, yakni Clairvoyance (dapat melihat hal yang tidak dapat dilihat manusia biasa), Precognition (meramal apa yang akan terjadi), dan Psychometry (mendapat informasi pada benda yang disentuhnya).


Yang patut diperhatikan dari kemampuan ini adalah limitasinya. Apakah itu? Ya, kendati seorang Esper memiliki daya sensitivitas lebih dari manusia pada umumnya, semua fenomena yang ia rasakan dengan pancaindera harus diolah kembali oleh organ vital yang bernama otak.

Di sinilah letak limitasinya, Roy Kiyoshi tetap masih bisa dipengaruhi oleh perasaan, emosi, dan ekspektasi sebagai hasil kerja otak. Karenanya, seorang Esper sekalipun bisa saja memblokir semua premonisi yang ia peroleh dan mengedepankan penilaian subjektifnya yang didasari oleh emosi positif, seperti afeksi maupun emosi negatif yang dipicu oleh hasrat untuk melakukan agresi.

Argumen ini diperkuat oleh pendapat Denny Darko, seorang peramal yang piawai membaca nasib lewat kocokan Kartu Tarot. Denny berkata bahwa Roy Kiyoshi telah menganggap Syahroni sebagai keluarga sendiri. Karenanya, ia tak menyangka Syahroni bisa setega itu menikamnya dari belakang.

Sedikit referensi pop kultur bisa kita peroleh dari Franchise Fiksi Ilmiah, yaitu Star Wars. Ordo Jedi, sebagai Penjaga Perdamaian di Republik Galaksi, mengandalkan kekuatan gaib yang disebut Force. Force bisa dimanfaatkan tidak hanya untuk memindahkan benda, menembakkan petir, meringankan tubuh, namun juga bisa untuk mengendalikan pikiran dan memprediksi hal-hal yang tak tampak di mata manusia pada umumnya.

Akhir cerita, Ordo Jedi tetap saja hancur, ketika Sith Lord Darth Sidious yang lebih dikenal dengan persona publiknya sebagai Kanselir Sheev Palpatine memerintahkan pasukan klon untuk menghujani para Kesatria Jedi dengan tembakan senapan laser.

Darth Sidious juga sukses menghasut Kesatria Jedi terbaik, Anakin Skywalker, untuk ikut menjagal para Kesatria Jedi yang masih tersisa di Kuil. Anakin kemudian dibaptis ulang menjadi anggota Ordo Sith dengan nama Darth Vader.

Sama seperti kasus Roy Kiyoshi, bukankah di Ordo Jedi terdapat Master Jedi seperti Yoda, Mace Windu, dan Obi Wan Kenobi yang sangat mumpuni dalam seluk beluk Force? Mengapa mereka tak menyadari bahwa Kanselir Sheev Palpatine adalah Darth Sidious yang menyamar? Mengapa rencana untuk memusnahkan Jedi juga tak bisa diprediksi oleh mereka?

Penyebab utamanya, seperti yang sudah penulis singgung di atas, karena Ordo Jedi mengedepankan loyalitas kepada Republik dan Senat ketimbang Force. Para Jedi Master berekspektasi bahwa Republik adalah hidup mereka dan sudah sepatutnya mereka cintai dan lindungi.

Bahkan, Mace Windu sendiri, yang notabene wakil dari Master Yoda, menyangkal bahwa Count Dooku, mantan anggota Ordo Jedi, bisa berpaling ke sisi gelap dan melakukan pembunuhan. Mace Windu ternyata terbukti salah.

Jikalau penjelasan mengenai Esper dan referensi pop kultur dirasa kurang memuaskan, maka kita bisa mengomparasikan dengan perspektif yang berbeda. Tanpa hokus-pokus pun, manusia memiliki mekanisme untuk bisa mendeteksi bahaya dan ancaman. Mekanisme tersebut dikenal dengan nama naluri dan insting, yang sudah terasah semenjak manusia masih hidup di hutan-hutan dalam periode berburu dan meramu.


Manusia kadang mengabaikan insting dan nalurinya karena faktor yang sangat vital, yaitu ekspektasi. Dalam hal romansa, ekspektasi bahwa cinta kita berbalas, dan pasangan akan mencintai kita sebagaimana kita mencurahkan seluruh hasrat asmara kita padanya, kadang mengaburkan kenyataan yang sesungguhnya terpampang di depan mata, bahwa pasangan kita tak satu frekuensi perasaan dengan kita.

Dalam hal politik, ekspektasi bahwasanya kita memiliki kemampuan yang luar biasa dalam memanipulasi situasi sering kali mengantarkan pada bencana. Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Selihai-lihainya politikus berkelit, akhirnya ditelikung juga.

Sebut saja Kanselir Jerman Pertama, Otto Eduard Leopold von Bismarck. Keberhasilannya sebagai arsitek dari Unifikasi Jerman mengukuhkannya sebagai politikus kawakan yang bisa mencapai hal yang sebelumnya dianggap mustahil.

Langkah jeniusnya dengan mengajak Austria memerangi Denmark, kemudian berkoalisi dengan Gerakan Kemerdekaan Italia untuk menyerang Austria, merampas harta kekayaan Kerajaan Hanover untuk dipergunakan menyuap Kerajaan Bavaria, dan memprovokasi Prancis menyerang Prussia, semua ditujukan untuk membidani terlahirnya Jerman bersatu di bawah komando Kerajaan Prussia.

Namun, Bismarck cemas, siapa yang akan meneruskan tahta Jerman setelah Kaisar Wilhelm Friedrich Ludwig von Hohenzollern mangkat. Bismarck sendiri tak menyukai Putra Mahkota, Friedrich Wilhelm Nikolaus Karl von Hohenzollern dan istrinya yang kelahiran Inggris, Viktoria Adelheid Marie Louise von Sachsen Coburg Gotha, karena preferensi politik mereka yang terlampau Liberal.

Maka, Bismarck pun mencuci otak anak sulung dari Putra Mahkota, yang masih berusia belia, yaitu Pangeran Friedrich Wilhelm Viktor Albert von Hohenzollern. Bismarck menghasut Pangeran muda itu agar membenci kedua orang tuanya dan mengelukan kakeknya. Bismarck juga memanas-manasi dengan mengatakan bahwa tingkah polah sang Ibu yang teralu Anglophilia merupakan bentuk disloyalitas terhadap Kekaisaran Jerman.

Akhirnya, memang Pangeran Friedrich Wilhelm Viktor Albert von Hohenzollern bisa naik tahta sebagai Kaisar Wilhelm II. Namun, dinobatkannya Pangeran berusia 29 tahun itu sebagai Kaisar turut menandai akhir dari karier politik Bismarck yang gemilang. Sang Kanselir Besi dipecat dari posisinya oleh anak muda yang dia anggap bisa ia setir jalan pikirannya. Bismarck tak pernah menyangka hari itu akan tiba.


Begitu pun Presiden Indonesia Soekarno. Dengan kepiawaiannya menjadi Proklamator, Konseptor Pancasila, Seniman bertalenta, namun ia tetap saja luput dari manuver yang dibuat oleh Jenderal Soeharto. Kealpaan itu harus ia bayar mahal, dengan runtuhnya rumah kartu Demokrasi Terpimpin dan naiknya Soeharto sebagai orang kuat Indonesia yang baru, yang akan terus menebar senyum hingga 32 tahun berikutnya.

Dari cerita-cerita di atas, kita dapat menyimpulkan, baik Roy Kiyoshi, Soekarno maupun Otto von Bismarck, merupakan Enchanched Individual, manusia-manusia yang dikaruniai bakat serta kelebihan dibanding manusia-manusia di sekeliling mereka.

Hanya, jika Soekarno dan Otto von Bismarck menggunakan naluri, intuisi, serta pemikiran yang tajam di kancah politik demi kemaslahatan bangsa, maka Roy Kiyoshi memilih berkiprah di Dunia Hiburan, memakai Indera Keenamnya sebagai solusi alternatif bagi mereka yang menghadapi kebuntuan.

Seperti pula tiada gading yang tak retak, bakat yang mereka miliki tak dapat menyelamatkan mereka dari tipu daya. Itulah bukti nyata bahwa mereka, wabil khusus Roy Kiyoshi, hanyalah manusia biasa sebagaimana kita jua, manusia yang mudah tertipu oleh penilaian dan ekspektasinya sendiri. Hikmahnya, lunturlah segala mitos yang menyelubungi Roy Kiyoshi dan kita sebagai masyarakat bisa menilai pribadi beliau dengan lebih arif dan bijaksana.

Artikel Terkait