6 bulan lalu · 900 view · 4 min baca · Politik 74189_60898.jpg

Mengapa Prabowo Tak Belajar dari Anies?

Pentingnya Menjadi Pemimpin Optimis

A leader is a dealer in hope, begitulah pernyataan yang disampaikan Napoleon Bonaparte. Pernyataan tersebut bermakna setiap pemimpin seyogianya mampu membangkitkan gelora, semangat, dan harapan rakyatnya.

Kisah 12 remaja tim sepak bola dan pelatihnya di Thailand yang dapat selamat setelah 9 hari terjebak di dalam gua dapat dijadikan contoh tentang pentingnya seroang pemimpin menjaga harapan orang yang dipimpinnya.

Selama terjebak di dalam gua yang terkena banjir besar, Ekkapol Chantawong, pelatih yang baru berusia 25 tahun, mampu menjaga harapan anak-anak untuk tetap bertahan hidup. 

Ia yang merupakan mantan biksu dapat mengendalikan dirinya untuk tetap tentang sekaligus mengendalikan emosi dan pikiran anak-anak untuk tetap berpikir positif. Pelatih itupun dengan bijak membagi sisa perbekalan tim kepada setiap anak untuk dimakan secukupnya agar dapat bertahan hidup. 

Hingga akhirnya, setelah 9 hari bertahan dalam dingin, lapar, dan haus, mereka ditemukan seorang penyelam Inggris bernama Rick Stanton. Spirit memimpin seperti Ekkapol Chantawong tersebut jugalah yang dibutuhkan Indonesia.

Namun sayangnya, salah satu kandidat calon presiden Indonesia, Prabowo Subianto, dalam berbagai kesempatan pidatonya sering kali menampilkan sosok yang berkebalikan dengan sosok pemimpin pembangkit harapan.

Saya tak bermaksud menyatakan pesaing Prabowo yang juga kandidat petahana, Joko Widodo, adalah sosok pemimpin pembangkit harapan. Tak ada pretensi ke arah sana. 

Tulisan ini hanya ungkapan kegelisahan saya yang terusik dengan pernyataan-pernyataan Prabowo dalam berbagai kesempatan yang memberikan pandangan tentang suramnya masa depan bangsa Indonesia.

Salah satu pernyataan Prabowo yang sempat viral adalah Indonesia akan bubar di tahun 2030 (detik). Dalam pernyataannya di sebuah pidato tersebut, ia menyatakan ramalan bubarnya negara Indonesia berasal dari beberapa kajian yang dilakukan negara lain.

Tak hanya itu, di kesempatan lainnya Prabowo juga mengatakan bahwa jika di pilpres ini ia dan pasangannya, Sandiaga Uno, kalah, negara Indonesia akan punah (Tempo). Menurutnya, para elite politik Indonesia yang telah berkuasa puluhan tahun malah membawa negara ke arah yang salah.

Jika keadaan itu tetap dibiarkan, ia beranggapan Indonesia akan semakin miskin, tak berdaya, dan bahkan bisa punah. Dari pernyataan tersebut, ia seolah mengesankan bahwa jika kondisi Indonesia ingin menjadi lebih baik, serahkanlah kekuasaan kepada dirinya.

Maksud dari pernyataan-pernyataan Prabowo di atas boleh jadi adalah mengkritik kandidat saingannya, Joko Widodo. Namun yang terjadi, pernyataan-pernyataan tersebut justru lebih banyak menunjukkan sikap pesimis seorang Prabowo dalam menatap masa depan bangsa Indonesia.


Hal itu tentunya amat menggelisahkan. Pandangan seperti itu sesungguhnya dapat merugikan dirinya sendiri. Para pemilih berpeluang tak memilihnya karena tak ingin dipimpin oleh seseorang yang gemar menebarkan ketakutan pada rakyat yang dipimpinnya serta menyalahkan orang lain atas buruknya situasi.

Daniel Goleman, Richard Boyatzis, dan Annie Mckee dalam Primal Leaderhip: Realizing The Power of Emotional Intelligence menyatakan bahwa tidak ada orang yang ingin bekerja untuk pemimpin penggerutu. 

Menurut mereka, pemimpin yang optimis dan antusias akan lebih mudah mengikat loyalitas pengikutnya daripada pemimpin yang cenderung memiliki suasana hati negatif.

Mereka mengungkapkan berbagai penelitian membuktikan bahwa pemimpin optimis dapat menularkan optimisme kepada pengikutnya untuk mencapai rencana-rencana bersama, meningkatkan kreativitas serta menggerakkan pengikut untuk turut membantu tugas-tugas pemimpin.

Pemaparan tersebut menunjukkan bahwa lumrahnya setiap orang ingin dipimpin oleh orang yang optimis dan berpikiran positif. Jika pemimpin bersikap optimis, maka rakyat akan selalu berada di sampingnya dan mengerahkan kemampuan mereka untuk membantu pemimpin dalam mewujudkan tujuan bersama

Belajar dari Anies

Prabowo harus segera mengubah gaya retorikanya di sisa masa kampanye pilpres jika ia ingin mengalahkan Jokowi. Menebar ketakutan, menyalahkan elite politik lain, dan menggerutu atas kondisi bangsa dapat berdampak buruk terhadap perolehan suara Prabowo di hari pemilihan nanti.

Prabowo mestinya dapat belajar dari Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan. Anies yang kini berada di barisan Prabowo dikenal sebagai tokoh yang memiliki kemampuan retorika cemerlang. 

Pidato-pidatonya dalam berbagai kesempatan konsisten mengajak rakyat untuk bersikap optimis di tengah berbagai keterbatasan dan masalah yang melilit Indonesia.

Sepanjang penulis mengamati pidato-pidatonya sejak ia menjabat Rektor Universitas Paramadina, peserta konvensi Capres Partai Demokrat, Juru Bicara Jokowi-JK, Mendikbud, serta Gubernur DKI Jakarta, Anies selalu mampu menghadirkan suasana positif dan optimis kepada pendengarnya.

Hampir tak pernah ada pidato Anies yang isinya hanya mengutuk keadaan, menyalahkan orang lain atas buruknya situasi, dan pesimis memandang masa depan bangsa. Hal inilah yang kemudian menjadi modal berharga Anies dalam menapaki karier politiknya sejak tahun 2014.


Salah satu narasi yang sering Anies kemukakan ialah cara Founding Fathers menyikapi kondisi bangsa Indonesia di awal kemerdekaan yang diliputi berbagai keterbatasan. Narasi ini ia sampaikan dalam berbagai kesempatan, termasuk ketika mengikuti Konvensi Capres Partai Demokrat Tahun 2014 (Youtube).

Anies mengatakan, saat Indonesia merdeka tahun 1945, Founding Fathers dihadapkan pada pada kondisi 95 persen dari sekitar 73 juta penduduk Indonesia buta huruf. 

Mereka saat itu punya banyak alasan untuk pesimis. Namun mereka memilih optimis dan bekerja keras membangun Indonesia dari nol. Hasilnya, kini angka buta huruf di Indonesia hanya tersisa 2 pesen saja (Antara).

Dalam kesempatan lain, saat masa kampanye Pemilihan Gubernur Jakarta, Anies secara khusus mengajak rakyat untuk mengubah sudut pandang dalam melihat berbagai fenomena di negeri ini agar lebih optimis.


Ia mencontohkan, pendidikan Indonesia sebetulnya tidak kalah dengan Singapura. Jumlah anak Indonesia yang lulus dengan nilai rata-rata di atas skor 85 memang hanya 4 persen. Secara presentase, jumlah tersebut lebih kecil dari Singapura yang presentasenya lebih banyak. 

Namun 4 persen dari jumlah siswa Indonesia tersebut ialah sebanyak 180 ribu anak. Sementara jumlah keseluruhan siswa Singapura hanya 45 ribu anak. Dari sana terlihat bahwa sebetulnya kita tidak kalah dengan Singapura (detik).

Berkaca dari contoh-contoh tersebut, Anies layak untuk dijadikan salah satu rujukan Prabowo dalam mengubah gaya retorikanya dalam sisa masa kampanye pilpres ini. 

Tentu tak harus sepenuhnya meniru Anies. Bagaimanapun, Prabowo adalah individu yang berbeda dengan Anies. Namun poin pentingnya adalah Prabowo harus dapat mengubah cara pandangnya tentang Indonesia agar dapat memikat lebih banyak pemilih. 

Daripada terus-menerus menebar ketakutan, mengutuk, dan menyalahkan orang lain, lebih baik Prabowo melihat sisi lain Indonesia bahwa sesungguhnya negeri ini punya segudang potensi untuk maju menjadi negeri yang lebih baik.

Artikel Terkait