Rivalitas dua organisasi mahasiswa di kampus saya, Universitas Trunojoyo Madura (UTM), antara Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) mengingatkan saya pada sebuah novel. Novel tersebut ditulis oleh Mahfud Ikhwan berjudul Kambing dan Hujan yang pertama kali dicetak tahun 2015. Novel tersebut menjadi pemenang dari perhelatan sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 2014.

Novel tersebut bentuk rekonsiliasi antara dua organisasi islam terbesar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Novel tersebut dikemas dalam bentuk kisah cinta antara Miftah dari keluarga Muhamamdiyah dan Fauzia yang dilahirkan dari keluarga NU. Keduanya sama-sama tinggal di dalam satu desa yang sama, Mif kuliah di Yogyakarta sedangkan Fauzia memilih kuliah di Surabaya.

Singkat cerita, cinta mereka dibenturkan persoalan kultural dari apa yang mereka anut dari keluarga mereka, seperti: perbedaan jumlah salat tarawih antara yang satu delapan rakaat dan yang satu dua puluh rakaat; yang satu mengamalkan tahlil dan yang satu tidak perlu tahlil; yang satu memakai qunut yang satu tidak; serta penentuan hari raya idul fitri yang berbeda antara metod hisab atau rukyat.

Novel tersebut menurut saya sebagai upaya dalam meredam konflik yang kerap kali mewarnai dalam suasana beragama di negeri ini. La wong tujuan sama saja kan, intinya sama-sama beribadah; perihal urusan surga dan neraka pun itu urusan Tuhan, pikir saya. Novel tersebut kembali mengingatkan saya kepada dualisme organisasi penting di kampus saya antara PMII dan HMI.

Pasalnya, dua organisasi ini tidak pernah kompak dalam kurun waktu akhir-akhir ini. Padahal mayoritas kader mereka mengisi berbagai macam jabatan penting dari organisasi kemahasiswaan di kampus.

Rivalitas mereka pasti terlihat saat musim Pemilihan Presiden/Gubernur/Bupati di segala fakultas di UTM di setiap tahun. Dualisme yang beradu siapa kader-kader mereka yang akan duduk di kursi tertinggi. 

Itu tidak masalah karena pada dasarnya begitulah dinamika politik di dalam kampus. Namun yang menjadi masalahnya apabila esensi dari mahasiswa yang katanya kaum intelektual dan terpelajar menjadi berubah perilakunya seperti tukang adu pukul, bahkan tawuran dengan menggunakan kekuatan otot.

Kejadian tersebut pernah berlangsung salah satunya pada saat pelaksanaan Pemilihan Gubernur Fakultas Hukum UTM tahun 2019 di mana terdapat oknum PMII yang memukul kader HMI yang disulut dari aksi kesalahpahaman. Terlepas siapa yang salah dan benar, seharusnya tindakan-tindakan semacam ini bisa selesai dengan duduk di warung kopi dengan ditemani kopi hitam seharga Rp3.000 per cangkir.

Berikutnya pada saat pelaksanaan demontrasi besar-besaran tahun 2019 terkait Pengesahan RUU KPK, dua organisasi ini seperti air dan minyak. Keduanya memilih membentuk poros besar demonstrasi dengan memilih lokasi yang berbeda. 

HMI menginisiasi bersama beberapa organisasi mahasiswa lainya seperti Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan organisai kampus lainnya untuk membentuk Trunojoyo Bergerak dan memilih tempat demonstrasi di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bangkalan.

Sedangkan mayoritas PMII menginisiasi untuk melakukan demonstrasi ke Surabaya yang dikomandoi teman-teman dari Badan Eksektif Mahasiswa di tingkat universitas saat itu.

Ketidakkompakan kembali saat seruan aksi untuk menolak dari pengesahan RUU Cipta Kerja pada tahun 2020. Dilansir dari Times Indonesia, PMII Bangkalan bergerak cepat dengan melakukan aksi demonstrasi pada tanggal 9 Oktober 2020. Pimpinan DPRD Bangkalan mendukung aspirasi yang disuarakan oleh teman-teman PMII Bangkalan dengan menandatangani sikap penolakan dari pengesahan RUU Cipta Kerja.

Tidak ketinggalan, Trunojoyo Bergerak kembali menyerukan untuk turun ke jalan setelah sebelumnya juga turut andil dalam demonstrasi pada tanggal 8 Oktober di Surabaya. Demonstrasi Trunojoyo Bergerak ini dilaksanakan hari Selasa, (13/10) diinisiasi oleh banyak organisasi, salah satunya juga dari HMI, GMNI, IMM dan aliansi organisasi lainya.

Melihat dari apa yang telah terjadi, inisiasi demonstrasi di UTM selalu diawali dari ide anak-anak dari organisasi eksternal. Inisiasi demonstrasi semacam ini bagi saya adalah hal positif, sebagai ekspresi kebebasan berpendapat yang diatur dalam konstitusi. Sekaligus dapat memantik teman-teman untuk bersama mengawal isi-isu yang krusial yang akhir-akhir ini tengah terjadi.

Namun setiap terjadi seruan demontrasi dua organisasi ini tidak pernah secara terang benderang untuk menyatakan sikap satu sikap bersama, apalagi turun aksi bersama. Keduanya memilih untuk membentuk kubu demonstrasi masing-masing. Bahkan kerap kali saya menemukan saling sindir di antara dua organisasi tersebut.

“Katanya aksi untuk mengatasnamakan mahasiswa, kok bawa bendera ormek sih,” katanya. “Ngapain demo, hasilnya sudah ada kok, DPRDnya sudah menolak UUnya,” katanya lagi. Polarisasi demontrasi di UTM tidak pernah sampai pada titik temu. 

Sebenarnya saya juga menyaksikan bahwa upaya ajakan rekonsiliasi untuk membentuk aksi bersama yang menaungi semua pihak sebenarnya sudah sering dilakukan. Namun atas berbagai alasan dari berbagai pihak akhirnya tidak pernah pada sampai titik temu. Akhirnya massa demontrasi di UTM tidak pernah menjadi benar-benar besar karena nyatanya terdapat dua kubu ini selalu berseberangan.

Saya tidak memiliki niat untuk memperburuk keadaan dengan menyampaikan fakta yang telah terjadi. Namun saya sebagai mahasiswa biasa yang lebih suka menyaksikan ketimbang beraksi berharap akan ada hubungan uang jauh lebih harmonis antara kedunya di suatu hari nanti. 

Alangkah menyenangkan sekali apabila ada sebuah wadah seruan aksi yang benar-benar berasal dari semua lingkup organisasi di UTM untuk bersama untuk menyuarakan aksi nyata dan konkret.

Kompetisi untuk menjadi siapa yang terbaik bukan menjadi pilihan yang tepat dewasa ini, justru kolaborasilah yang akan menghasilkan dampak yang luar biasa untuk semua orang. 

Apabila semua mau duduk dalam satu meja, berdiri di dalam naungan satu komando, bersama-sama dalam satu suara, serta seruan aksi dengan iringan Totalis Perjuangan atau Buruh Tani bersama mulai PMII, HMI, GMNI, IMM, dan berserta organisasi internal di kampus akan sangat menjadi momen yang mengharukan kepada bagi semua pihak. Ketimbang sekadar mencari apa yang disebut eksistensi masing-masing.