Di antara nama-nama pahlawan nasional yang berjasa pada negeri ini, barangkali hanya Kartini yang diperingati setiap tahun, disebut namanya secara khusus, dan menjadi simbol pergerakan kemajuan perempuan Indonesia.‎

Mengapa Kartini? Mengapa tidak Nyi Ageng Serang (1752-1825), Martha Christina Tiahahu (1818), Cut Nyak Dien (1850-1908), Cut Meutia (1870-1910), Dewi Sartika, Rasuna Said, atau Rahmah El-Yunusiah? 

Bukankah nama-nama di atas tak kalah berjasanya dengan Kartini pada negeri ini? Apa istimewanya Kartini dibanding perempuan-perempuan yang namanya di sebut di atas?

Kartini diperingati karena ia mempunyai keistimewaan, di antaranya sebagai pemikir pertama yang menyuarakan hak-hak perempuan dan penganjur pendidikan perempuan. Ia menyuarakan dengan lantang bahwa pendidikan perempuan sama pentingnya dengan pria. 

Ia percaya bahwa jika para perempuannya terdidik dan terpelajar, maka ia dapat mendidik anak dan keluarganya secara terdidik dan terpelajar pula.

Ia beruntung mempunyai kesempatan sekolah bersama rekan-rekan Belanda-nya karena ia anak dari seorang Bupati Demak, Pangeran Ario Tjondronegoro, yang berorientasi pada kemajuan. Bahkan orang tuanya mendatangkan guru dari Belanda untuk mengajar Kartini dan saudara-saudara sekandungnya yang lain. 

Dengan pendidikan yang ditempuhnya, Kartini menguasai bahasa Belanda dengan sangat baik dan mampu mengutarakan berbagai gagasannya kepada teman-temannya di luar negeri dengan fasih.

Kartini pun merupakan perempuan pemikir pendobrak dan pionir pada masanya. Ia melakukan evaluasi dan kritik terhadap praktik budaya yang mengutamakan pria dan merendahkan perempuan, praktik perkawinan poligami, pingitan anak perempuan, dan lainnya. Tradisi yang ia kritik bukan sesuatu yang jauh dari dirinya, melainkan bagian dari pengalaman hidupnya.

Praktik poligami, umpamanya, ia saksikan dari kedua orang tuanya. Sebagaimana diketahui, Kartini adalah anak dari istri kedua bapaknya, atau istri selir, yakni Mas Ajeng Ngasirah. Ibunya ini adalah anak Kiai Modirono dengan Nyai Haji Siti Aminah dari Telukawur, Mayong. Kakek dari pihak ibu ini, sebagaimana yang ditulisnya, adalah keturunan dari raja-raja Madura.

Demikian pula dengan praktik pemingitan perempuan. Kartini adalah 'korban' dari praktik pemingitan tersebut. Tetapi karena ia kreatif, ia manfaatkan pemingitan tersebut dengan membaca banyak buku.

Tak ada bacaan yang tidak diserapnya: buku, majalah, surat kabar, dan berbagai bentuk karangan lainnya. Dengan membaca banyak buku, ia ‎berselancar dengan beragam pertukaran ide dan menuangkan pemikirannya dalam berbagai surat yang dikirim ke sahabat-sahabat penanya di negeri Belanda, seperti dengan Estelle Zeehandelaar dan Nyonya Abendanon.‎ 

Ia terinspirasi dari tulisan seorang perempuan India bernama Pandita Rambai, seorang perempuan non-Barat yang mampu mengutarakan pemikirannya secara jelas dan gamblang, khususnya mengenai nasib perempuan.

Sebagaimana diketahui, hak-hak perempuan di dunia internasional disuarakan mulai awal tahun 1900 dan diperingati setiap tahun sejak 1908 pada 8 Maret sebagai Hari Perempuan Internasional. Peringatan dimulai ketika 15 ribu perempuan berunjuk rasa di sepanjang jalan di kota New York, Amerika Serikat, menuntut hak-hak perempuan untuk memberikan suara dalam pemilihan umum dan pembayaran upah yang lebih baik.

Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mulai mengakui Hari Perempuan Internasional pada 1975 dengan membuat tema khusus setiap tahunnya.

Paradoks Hidup Kartini

Hidup dalam realitas nyata memang tidak senantiasa sejalan dengan apa yang terdapat dalam alam ide. Kebudayaan masyarakat yang telah terbentuk jauh lebih mencengkeram kuat dalam membentuk hidup seseorang. 

Meski Kartini melalui ketajaman penanya sudah berikhtiar keras membongkar budaya yang cenderung merendahkan perempuan, tetapi dalam beberapa hal 'menyerah' pada hal-hal yang justru ditentangnya. Dalam perjalanan hidupnya, ia menjadi istri kedua Bupati Rembang yang sudah mempunyai enam orang anak, suatu praktik perkawinan poligami yang sesungguhnya sangat ditentangnya. 

Tetapi jalan ini harus ia lakukan. Karena dengan menjadi istri seseorang yang mempunyai kedudukan, ia dapat mewujudkan apa yang hendak ia lakukan, salah satunya adalah mendirikan sekolah putri dengan sembilan orang murid yang kurikulumnya ia buat sendiri.

Ia pun meninggal setelah tiga hari melahirkan. Dengan kata lain, Kartini adalah korban akibat ibu melahirkan. Meski Kartini berasal dari lapisan sosial atas pada masanya, tetapi agaknya tekanan psikis yang dialaminya membebani hidupnya, sehingga ia harus mengalami mati muda dalam usia 25 tahun.

Relevansi Pemikiran Kartini

Apa relevansi pemikiran Kartini sehingga kita perlu mengingatnya setiap tahun?

Relevansi pemikiran Kartini yang tak pernah usang hingga sekarang adalah memandang dan meletakkan manusia berjenis kelamin perempuan sama mulia dan bermartabatnya dengan pria. Demikian pula dengan hak-hak kemanusiaannya. Karena itu, penyelenggara negara perlu memastikan terlaksananya perlindungan dan penghormatan terhadap hak-hak perempuan sebagaimana diamanatkan UU Nomor 7 Tahun 1984 tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita.

Relevansi lainnya adalah pada praktik perkawinan poligami. 

Sekarang ini, terdapat gejala dari sekelompok orang yang hendak membudayakan kembali praktik perkawinan poligami dengan berbagai argumentasi. Argumentasi itu biasanya disampaikan bukan oleh para istrinya, melainkan oleh para suaminya yang mencari pembenaran dengan berbagai cara. 

Padahal, kalau keadaban kita hendak maju ke depan, maka menghindari luka batin pasangan hidupnya adalah hal utama dari penghormatan terhadap manusia.

Kritik Kartini yang juga relevan adalah bagaimana tafsir agama dan tradisi sering kali dipergunakan untuk membenarkan praktik diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan. Ia seperti tembok tebal yang tak mudah dilumerkan.

Tetapi Kartini percaya, akan ada suatu masa di mana apa yang ia pikirkan dan cita-citakan akan terwujud dalam dunia nyata, di Bumiputra. Sebagaimana yang ditulisnya:

“Akan datang juga kiranya keadaan baru dalam dunia Bumiputra; kalau bukan oleh karena kami, tentu karena orang lain." (Surat kepada Nona Zeehandelaar, 9 Januari 1901)

 "Kemerdekaan perempuan tak boleh tidak akan datang juga; pasti akan datang juga, hanyalah tiada dapat dipercepat datangnya." (Surat kepada Nyonya van Kol, 1 Agustus 1903)