Sejak Raden Ajeng Kartini mencetuskan gerakan emansipasi perempuan, perempuan memiliki tempat yang sejajar dengan pria di dalam masyarakat. Perempuan memiliki kebebasan terbatas, yang artinya ia bisa dengan mudah memilih pekerjaan dan siapa pasangannya kelak.

Sementara keterbatasan perempuan terjadi dalam lingkup rumah tangga, di mana ketika sudah bersuami, segala perbuatan dan tindakan harus memikirkan dan mempertimbangkan restu suami. Poin kedua ini harus diakui masih sangat berlaku dalam sistem masyarakat Indonesia yang berkiblat pada adat ketimuran dan menjunjung tinggi akhlak beragama.

Namun pada tulisan kali ini, penulis akan mencoba menjabarkan seberapa bebas perempuan masa kini memilih jalan hidupnya, terutama dalam hal memilih pasangan. Dalam sistem masyarakat tanah air saat ini adalah sebuah ketidaklaziman bila perempuan memilih bersuami dengan pria yang rentang usianya jauh melampaui dirinya.

Janganlah memutuskan menikah, baru mengungkapkan rasa suka atau ketertarikan dengan pria yang berumur lebih tua saja, seluruh dunia sudah menghakimi. Padahal, ada berbagai bentuk rasa suka yang dapat dirasakan manusia, terutama perempuan yang diyakini memiliki ruang hati paling sensitif dalam menginterpretasikan perasaan.

Di masa kolonial, bukan hal aneh bila melihat terjadi pernikahan antara perempuan muda, bahkan di bawah umur, dengan pria yang lebih tua. Maka itu di masa lalu muncul pula istilah ‘nyai’ atau ‘gundik’, yang mengawinkan dua pasangan lawan jenis berbeda usia.

Lantas apakah hal itu dibenarkan? Tentu tidak, sebab praktik gundik di masa lalu lebih menekankan kepada hawa nafsu, uang, utang budi, atau berbagai hal politis lain. Terlepas dari benar adanya rasa suka atau cinta di antara keduanya.

Sementara di masa kini, ketika banyak pernikahan berbeda usia terjadi, masyarakat pun seolah bertanya-tanya. Apakah artinya pranata pernikahan di Indonesia kembali kepada budaya masa lalu?

Ingatkah kalian dengan kisah seorang kakek berusia 103 tahun yang menikahi perempuan berusia 27 tahun? Peristiwa yang terjadi di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan itu sempat membuat gempar jagat maya di awal tahun 2020 lalu. Sebenarnya apa yang terjadi di balik kisah-kisah pernikahan beda usia tersebut?

Cermin Figur Ayah di Masa Kecil

Dalam teori psikologi, ada istilah kompleks oidipus yang dicetuskan oleh Sigmund Freud. Tahapan psikoseksual ini terjadi ketika seorang pria jatuh cinta kepada sosok ibunya dan begitu pula sebaliknya, seorang perempuan jatuh cinta kepada sosok ayahnya.

Namun ada dua kasus yang ditemukan bila berkaitan dengan mengapa seseorang perempuan menyukai pria yang lebih tua.

Pertama, secara psikologis, bila seorang perempuan  memiliki kedekatan erat dengan ayahnya di masa kecil, maka ia pun akan mencari pasangan yang memiliki karakter sama persis dengan sang ayah. Kadangkala gap usia pun tercipta di fase ini, lantaran ketika kecil ia terbiasa dimanja oleh sosok ayahnya yang memiliki usia jauh, ia pun tidak mampu terlepas dari tahapan tersebut sampai dewasa sehingga akan terus mencari sosok seusia sang ayah.

Kedua, seorang perempuan yang sejak kecil terpisah dari ayahnya, atau bahkan tidak mengenal sosok ayah sama sekali sejak kecil akan cenderung mencari “bagian” yang hilang dari dirinya ketika sudah menginjak usia remaja. Ia akan lebih mudah bermanja dan mencari perhatian secara berlebihan kepada pria yang matang atau dewasa, karena merasa sejak kecil tidak pernah mendapatkan perlakuan serupa.

Trauma Masa Lalu

Faktor kedua ini memang masih berkaitan dengan faktor pertama mengapa seseorang perempuan memilih menambatkan hatinya kepada pria yang rentang usianya jauh lebih tua.

Namun bila kompleks oidipus disebabkan oleh permasalahan psikologis masa kecil, trauma masa lalu terjadi karena sebuah  kejadian yang terjadi bukan di masa. Seorang perempuan menaruh harapannya pada seorang laki-laki seusianya, tetapi kemudian ia mengalami patah hati terhebat yang memusnahkan hampir seluruh harapan hidupnya.

Biasanya, rasa sakit dan trauma itu akan membuatnya berpikir dua kali untuk membangun relasi kembali dengan pria seusianya. Pilihannya hanya dua, beralih mencoba bangkit dengan laki-laki yang lebih muda atau justru dengan yang lebih tua. 

Namun, bila trauma masa lalu berkaitan dengan tanggung jawab, maka biasanya perempuan akan membawa pergi hatinya yang luka kepada sosok yang dianggapnya lebih dewasa dan mampu menjaga tanggung jawab.

Kemapanan dan Kebutuhan Materiil

Bisa dibilang, stigma perempuan matrealistis menjadi yang paling umum berkembang liar di masyarakat. Seorang perempuan dianggap hanya mengincar harta karena mendekati pria yang lebih tua.

Banyak kasus nikah muda di berbagai daerah di Indonesia, tak jarang juga terjadi karena faktor utang piutang keluarga atau perjodohan keluarga.

Dengan alasan demikian, artinya pemikiran masyarakat belum maju, karena perjodohan gadis belia dengan pria berusia lanjut lazimnya terjadi di masa kolonial yang secara tidak langsung merendahkan martabat kaum pribumi di masa itu. Perempuan di masa itu tak ubahnya alat transaksi ekonomi, dapat dipertukarkan sesuka hati, tanpa bisa memilih dan menolak.

Dalam kasus ini, pria yang ditaksir umumnya memang sudah mapan dan memiliki karier bagus. Tak dapat dipungkiri, ada perempuan yang memang berorientasi pada uang dan kemewahan. Meski bisa saja di masa kini, pria mapan tidak harus yang sudah berusia lanjut. Banyak pria yang sudah sukses mendulang karier emas di usianya yang masih sangat muda.

Geronontofilia

Sebelum membahas geronontofilia, ada baiknya kita mengupas terlebih dahulu apa itu fetish. Istilah fetish mulai ramai dibicarakan ketika kasus ‘Gilang Bungkus’ yang mempunyai hasrat seksual terhadap sesama jenis yang dibalut dengan kain jarik. Sebelumnya mungkin, generasi muda mengenal istilah ini melalui single milik Selena Gomez, tanpa pernah berupaya menelaah lebih dalam makna di balik kata fetish itu sendiri.

Mengutip dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-5, fetish adalah gangguan di mana seseorang memiliki ketergantungan terhadap benda atau anggota tubuh tertentu untuk mencapai gairah seksual. Lalu apakah fetish ini termasuk dalam menyukai pria yang lebih tua?

Ternyata justru ada istilah khusus yang lebih tepat dibandingkan menggunakan istilah fetish, yaitu geronontofilia. Pengidap geronontofilia ini mengalami ketertarikan atau memiliki hasrat seksual besar kepada seseorang yang lanjut usia.

Seorang perempuan mengatakan saat penulis melakukan survei, tertarik kepada pria yang lebih tua karena pembawaannya yang tenang, kebapakan, dan kharismatik. Walaupun ada pula pria muda yang memiliki klasifikasi demikian, tetapi orientasi usia tetap menjadi perhitungan utama karena dianggap memiliki jam terbang lebih lama.

Ekstremnya, fakta lain yang didapat dari salah satu narasumber perempuan yang berhasil disurvei mengatakan bahwa, libido atau gairah seksualnya memuncak ketika berhadapan dengan pria yang menunjukan kondisi fisik menua (seperti gerakan yang lambat, keriput di wajah, dan sebagainya).

Pengaruh Peranan Orang Tua sejak Kecil dalam Orientasi Ketertarikan Perempuan

Sejak remaja, perempuan harus diperkenalkan dengan berbagai ragam usia di sekitarnya. Adalah kesalahan besar bila orang tua melarang seorang anak perempuan bergaul dengan pria dari berbagai rentang usia atau membatasi pergaulannya dengan lawan jenis.

Dengan tetap menerapkan batas etika dan moral dalam berteman, kebebasan itu justru diperlukan agar perempuan tidak terbelenggu dalam satu dekadensi moral tertentu. Sebab ia kelak akan dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, setelah benar-benar terjun menyelami dunianya sendiri, bukan dari cerita dongeng orang-orang tua di sekitarnya.

Setelah itu, ia akan menemukan kebebasan pula untuk memilih pasangannya ketika sudah memasuki usia dewasa. Ia yang akan menentukan sendiri seperti apa pasangannya kelak. Kesalahan baru akan tercipta bila perempuan tidak memiliki rasa kendali terhadap perasaannya dan mengabaikan rasa empati.

Kendali terhadap perasaan berkaitan erat dengan kondisi psikologis. Bila dianalogikan seperti orang yang kelaparan, pasti akan memakan rakus apa yang disuguhkan di depan matanya dan lupa berbagai kepada  yang lainnya.

Sementara mengabaikan rasa empati adalah dengan tidak berusaha menguasai apa yang dimiliki orang lain. Dengan kata lain, tidak berusaha merebut pria milik orang lain hanya demi memuaskan keinginannya memiliki pasangan yang berusia lebih dewasa.

Bila seorang perempuan sudah terjerumus dalam mencintai pria yang bukan miliknya, maka artinya ia memiliki masalah dalam mengelola dan mengendalikan diri. Perempuan harus cerdas, sebab ia kelak akan menjadi ibu yang memberikan pendidikan nonformal kepada anak-anaknya. 

Perempuan harus mendidik anak-anak mereka kelak menjadi sosok yang mampu mengendalikan diri dan menghargai kepunyaan orang lain, sehingga anak-anaknya tidak menjadi anak yang suka merebut mainan temannya. Dan kelak ketika dewasa, tidak menjadi seorang perebut pula atas hak orang lain.