Ada beberapa pertanyaan yang terus mengusik dan mengganggu pikiran saya pribadi sejak dulu, yaitu tentang perempuan, seks, dan kultur, mengapa perempuan harus perawan sebelum menikah?

Mengapa keperawanan menjadi satu-satunya ukuran perempuan baik-baik? Mengapa perempuan selalu disalahkan ketika tidak mampu hamil? Pertanyaan yang lebih miris ialah: Mengapa perempuan dengan mudahnya menerima semua itu sebagai takdirnya yang memang harus dijalani tanpa adanya sikap kritis?

Lalu bagaimana dengan laki-laki, apakah laki-laki juga harus perjaka sebelum menikah?, lalu apa tandanya? Tak bisakah sistem pemilu diadopsi oleh laki-laki, setelah ‘nyoblos’ langsung pake ‘tinta’? Lalu apakah laki-laki juga memikul beban salah, jika ia tak memiliki keturunan?

Pertanyaan itu terus membuat saya muak dan marah, karena saya sebagai perempuan menganggap ini sangat tidak adil. Ironisnya hal ini terjadi hampir di seluruh daerah di Indonesia, yang memiliki aneka kultur yang berbeda.

Entah mengapa untuk urusan ini, semua daerah di Indonesia menjadi kompak? Mengapa semua daerah di Indonesia menjadi kompak menjadikan perempuan sebagai subordinasi dalam konteks seksualitas?

Bukankah seks itu adalah simbol kesenangan, namun mengapa menyisakan kesedihan bagi satu pihak, yaitu perempuan. Lalu apa sebenarnya yang terjadi? Sejak kapan seks menjadi tabu? Mengapa ketika kita memperbincangkannya, selalu muncul sikap atau perkataan permisif, dengan bahasa, ‘maaf’, yang seakan-akan memperbincangkannya adalah sesuatu yang memalukan dan membahayakan?

Hal ini menunjukkan bahwa wacana seks berkaitan dengan kekuasaan kultur, yang siapa pun yang memperbincangkannya akan dianggap sebagai pihak yang tidak tahu sopan santun, atau buta etika, sebab seks dianggap sebagai sesuatu yang privat dan tidak perlu menjadi konsumsi publik.

Lalu mengapa demikian? Bukankah seks bukan sesuatu yang salah ? Jika memang seks itu salah, lalu mengapa sering menjadi bahan obrolan, bahkan menjadi bahan lelucon untuk sekedar menjernihkan pikiran yang kaku dan beku. Jangan-jangan seks itu tidak salah tapi lucu?

Persoalan seks memang bukan hal yang sepele. Seks bukan hanya sekedar sensasi dan kenikmatan atau hukum. Tetapi didalam seks dipertaruhkan masalah benar dan salah, patut dan tidak patut. Mengetahui apakah dalam seks itu benar atau berbahaya membuka peluang dominasi dalam interaksi kekuasaan?

Dua hal yang sebenarnya tidak terpisahkan adalah kekuasaan dan seks. Bila berbicara tentang bagaimana peradaban kita terbentuk, dua elemen penting ini adalah penggerak utama yang mendorong perubahan. Kekuasaan adalah seks, seks adalah kekuasaan. Kronik kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari pemahaman tentang seksualitas.

Secara sederhana, pengertian tentang seksualitas memang diinterpretasikan berbeda di berbagai budaya. Ada yang mengatakan bahwa seks adalah tabu dan bukan topik yang pantas di bicarakan secara publik, namun ada pula pandangan yang menyatakan bahwa seks adalah bagian paling fundamental dari manusia.

Dalam tubuh manusia terpampang wujud dari kekuasaan. Kita bisa menyaksikan kekuasan dari gerak-gerik tubuh. Seluruh sistem ekonomi, sosial dan politik dari suatu negara berkaitan erat dengan seksualitas.

Seksualitas berhubungan dengan populasi, berhubungan pula dengan kebebasan dan juga pernyataan politis seseorang. Ada represi terhadap tubuh, dan represi itu adalah bentuk dari kontrol. Kekuasaan bekerja dengan cara mengkontrol, dan tubuh adalah objek yang dikendalikan dan dikuasai. Sederhananya, sejarah perkembangan pemikiran manusia selalu melibatkan bagaimana suatu era memahami seksualitas.

Tubuh selalu diperlawankan dengan kesucian. Gairah seksual dianggap menjerat manusia di bumi dan menjauhkan manusia dari Tuhan. Tubuhlah penyebab dari kesengsaraan manusia, tubuh yang menyebabkan dosa. Terhadap anggapan ini, buat saya, tubuh adalah alat bagi penanaman nilai-nilai moral di dalam aktivitas beragama. 

Tetapi, tidak semua agama menyatakan bahwa tubuh adalah beban yang menjadikan manusia selamanya terhukum menjadi pendosa. Terdapat pula keyakinan-keyakinan yang menempatkan tubuh justru sebagai aparatus untuk mencapai penyatuan dengan Tuhan.

Buat saya, melalui penjelajahan tubuh kita dapat mencapai tingkat kesadaran spiritualitas yang tinggi. Saya meyakini bahwa tubuh memancarkan energi, dan bila tubuh dilatih secara tepat maka ia dapat mencapai suatu titik ketentraman. 

Relasi seksual bukan lagi relasi demi alasan prokreasi, atau mencari kepuasan yang dangkal. Relasi seksual adalah suatu penjelajahan spiritual, tubuh adalah citra mungil dari makrokosmos yang tak berhingga. Ketika tubuh menyatu, sesungguhnya penyatuan tersebut adalah proses penciptaan yang serupa dengan cikal bakal dari keberadaan alam semesta.

Itulah yang kerap dilupakan ilmu-ilmu yang mengkaji tentang tubuh manusia. Tubuh direduksi sebatas fungsi-fungsinya saja, seperti suatu perlengkapan yang mekanistik. Tubuh memang diperuntukan merasakan ekstase penyatuan tubuh. Tubuh adalah simbol menjelmanya kekuatan ilahi ke dalam dunia. 

Karena itu, aktivitas seksual tidak perlu dianggap sebagai suatu yang rendah, sebaliknya relasi seksual adalah ritus penyucian, dan cara bagi manusia menyerap energi jagat raya.

Pengetahuan kita tentang seks sarat dengan prasangka. Padahal, tidak cukup kita memahami tubuh dan perilaku seksual melalui narasi ilmu pengetahuan. Relasi seksual adalah suatu pengalaman. Suatu peristiwa yang menempatkan seseorang pada ruang dan waktu yang spesifik. Sebuah momen ketika seseorang sungguh-sungguh merasakan denyut kehidupan.

Sensasi semacam ini, tidak dapat dirasionalisasikan. Buat saya, relasi seksual adalah suatu seni yang erotis. Relasi seksual hanya dapat dipahami seperti halnya kita mengalami sesuatu yang estetis, ada intensitas, keterlibatan emosi, rasa haru atau senang. Meski manusia diunggulkan akal budinya, tetapi ia juga makhluk yang mengejar kenikmatan, yang secara alamiah memang mencari kepuasan ragawi.

Seksualitas dapat disimak dari berbagai spektrum, seperti halnya bahwa ada evolusi pemikiran manusia, dan evolusi itu berkaitan erat dengan bagaimana kita mengerti konsep seksualitas. Gairah seksual adalah petanda perihal kemanusiaan kita. Gairah itulah yang menjadikan kita manusia.

Terlepas dari itu semua, faktanya bahwa seks terlalu lama dipikirkan dalam kerangka penolakan atau peminggiran yang dijenuhkan oleh larangan dan sensor. Keluarga menggunakan seksualitas sebagai rejim yang meminggirkan keberadaan seks. Keluarga tidak boleh membicarakannya, sedang praktiknya harus sangat tertutup.

Rejim seksualitas yang menyebabkan frustrasi secara sistematis ini, tidak bisa dilepaskan dari kepentingan sistem kapitalis yang menolak pemahaman tubuh yang menikmati agar tidak menghabiskan enersi yang tak ada gunanya. Tujuannya, menggunakan semaksimal mungkin kekuatan tubuh untuk kerja.

Secara ontologis, tidak ada manusia yang bisa memilih untuk dilahirkan sebagai laki-laki atau perempuan. Artinya menjadi perempuan itu bukan pilihan, begitu juga dengan menjadi laki-laki.

Jika ternyata peran dan fungsi keduanya dibedakan, itu masih wajar, tapi jika dibatasi hingga terjadi ketertindasan atau ketidakadilan bagi satu pihak demi pihak yang lain, maka hal itu disebut dengan intimidasi. Misalnya saja, mengapa perempuan harus perawan sebelum menikah? Dan mengapa bercak darah di malam pertama menjadi ukuran, sementara laki-laki tidak demikian?

Keharusan perempuan menjaga keperawanannya sebelum menikah adalah bentuk dari kekuasaan kultur masyarakat. Jika tidak demikian, maka di perempuan tersebut akan dikenai sanksi sosial sebagai perempuan tidak baik-baik.

Klasifikasi perempuan baik-baik atau tidak baik-baik menjadi kesenjangan yang hegemonik. Karena, jika perempuan baik-baik berteman dengan perempuan yang tidak baik-baik, akan mendapatkan sanksi sosial sebagai bagian dari mereka.

Kekuasaan ini tidak hanya diberlakukan dalam kultur masyarakat, namun juga di dalam instutusi keluarga. Jika perempuan itu memilih menjadi perempuan tidak baik-baik, maka ia pun akan teralienasi dari keluarga. Namun pertanyaannya adalah, keluarga yang seperti apa? 

Jika keluarga kelas menengah keatas, mungkin hal itu menjadi konflik, namun jika keluarga kelas menengah ke bawah, tidak menjadi konflik yang berkepanjangan. Perbedaan antar kelas di institusi keluarga pun menyebabkan bias pada perempuan.

Kembali pada persoalan seksualitas, bahwa seks adalah kesenangan. Seks adalah salah satu kebutuhan fisik manusia, sebagaimana sama dengan makanan atau minumam. Namun kemudian menjadi sesuatu yang privat, yang tidak boleh menjadi konsumsi publik karena ada otoritas agama atau polisi moral yang membatasi wacana seks sebagai wacana publik.

Ketika perempuan tidak lagi perawan atau sudah melakukan hubungan seksual sebelum menikah, maka ia tidak hanya mendapatkan sanksi sosial, namun juga mendapatkan sanksi agama, sebagai pelaku zinah, yang harus mendapatkan hukuman.

Ketidakadilan terjadi dikala sanksi tersebut hanya dibebani pada perempuan saja, padahal hubungan seksual itu tidak mungkin dilakukan oleh perempuan itu sendiri, yaitu ada keterlibatan laki-laki dalam hal tersebut, namun mengapa lakai-laki bisa melenggang asyik dalam kultur yang demikian ini? Hal ini lah yang kemudian di perjuangkan oleh para feminis, untuk keadilan manusia.