Adalah sesuatu yang patut disyukuri dan membesarkan hati, wacana lingkungan hidup perlahan-lahan mengarus-utama di Indonesia. Kiwari, yang mengampanyekan wacana lingkungan hidup bukan hanya organisasi-organisasi besar seperti WWF, Walhi, dan FOEI. Jamak kita dengar pergerakan komunitas di berbagai daerah mengusung tema hijau.

Di Lombok Barat, berawal dari Kebun Sains, berdiri Madrasah Alam Sayang Ibu yang basisnya riset konservasi. Ada yang membangun Ecoschool Nusantara, basisnya pendidikan lingkungan hidup dengan cara penguatan literasi dan kebudayaan Sasak. Beberapa komunitas kerap bergerak membagi benih, menanam pohon, dan mengampanyekan zero waste sebagai tekunan.

Di Muhammadiyah, kita bersyukur KHM (Kader Hijau Muhammadiyah) berdiri. Harapannya, KHM mengisi misi Muhammadiyah dalam membela lingkungan hidup. Bila perlu, KHM kudu memobilisasi anak-anak muda Muhammadiyah untuk menggelar pertemuan besar untuk merumuskan rencana strategis aksi penyelamatan lingkungan hidup.

Namun, memperbanyak aksi saja sesungguhnya tidak cukup. Kita juga butuh orang-orang yang mandito atau menghibahkan diri menguasai gagasan-gagasan lingkungan hidup.

Dalam surat At-Taubah 122, Allah mengingatkan mukminin agar tidak seluruhnya terjun ke medan perang. Harus ada kalangan yang “memperdalam pengetahuan agama mereka (liyatafaqqahu fiddin) dan memberi peringatan kepada kaumnya (liyundziru qoumahum) bila mereka kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.”

Ayat di atas menggambarkan suatu ilmu yang memiliki korelasi dengan kemampuan menjaga diri. Dalam konteks keselamatan ekologis, kita bisa menarik refleksi bahwa yang dimaksud ayat tersebut adalah etika lingkungan hidup. 

Sebab, etika adalah percakapan tentang premis dasar nilai yang menjadi rujukan bagi ‘apa’ yang boleh ditoleransi (dan sebaliknya) dan ‘bagaimana’ menoleransinya. Etika adalah percakapan tentang batas.

Etika lingkungan perlu didalami untuk membarengi aksi-aksi konkret penyelamatan lingkungan, baik yang bernuansa ekopol atau tidak. Sebab etika lingkungan berguna sebagai alat evaluasi bagi mereka (individu, komunitas) yang melakukan penyelamatan lingkungan. Salah satu faedahnya adalah agar tidak ada blunder berkenaan dengan komitmen.

Kawan saya, sebut saja namanya Burung, pernah mempertanyakan dirinya yang kerap mengadvokasi kasus perampasan tanah rakyat oleh korporasi, namun masih doyan ngopi di kafe-kafe yang berdiri di atas lahan bekas sawah. Burung mengutuk penyempitan ruang hidup karena ganasnya nafsu para pemodal mendirikan alat-alat produksi, namun ia tidak bisa lari dari kenikmatan yang ditawarkan para pelaku alih-fungsi lahan tersebut.

Kesimpulannya bukan “Burung melanggar etika”, namun karena etika lingkungan tidak pernah menjadi diskursus yang ditekuni, Burung sedikit bingung mendialogkan kegelisahannya. Ia merasakan semacam kontradiksi: dalam perjuangannya, Burung melawan mode produksi industrial, namun mode konsumsinya sendiri melanggengkannya.

Sebuah kawasan persawahan di Kabupaten Malang, dalam kurang dari setahun, tersulap menjadi jejeran kafe. Perubahan itu dipicu karena sebuah kafe (cukup satu saja) yang sukses menjanjikan tempat ngopi yang tenang dengan alam asri. Janji manis itu tinggal kenangan; sekarang, sekitar sepuluh kafe telah dan sedang akan berdiri di sekitarnya.

Dalam satu malam, satu kafe bisa memproduksi sampah lebih dari lima kantong plastik besar, hasil dari kemasan bahan baku produksi. Makin besar konsumsi, makin banyak limbah. Sampah hanya diantar sampai TPS. Lebih dari itu, kafe tidak menanggung sebab limbah (dan apa pun dampaknya) terhitung sebagai biaya eksternal. Burung merasa menjadi bagian dari itu semua.

Burung baru sadar ia bukan saja harus melawan ke luar. Burung harus juga melawan ke dalam. Sebab lawan Burung bukan semata kapitalis: di baliknya ada ideologi growth, yang “mengipas-ngipasi manusia” menjalankan bukan saja mode produksi, tapi juga mode konsumsi yang menopang pertumbuhan. Keduanya saling melanggengkan. 

Burung tidak mengenal wacana degrowth atau blue economy, yang menyarankan penyederhanaan secara radikal demi melawan kegilaan langgeng tersebut.

Etika lingkungan bukan sekadar penjabaran antroposentrisme, biosentrisme, dan ekosentrisme. Etika lingkungan menuntut perubahan mode produksi/konsumsi. 

Melihat pengrusakan yang berlangsung secara mengerikan, dan mendapati kesimpulan bahwa alam adalah ornamen sakral, Arnae Naess mencanangkan Deep Ecology. Bukan sekadar gerakan; Naess melakukan perubahan besar-besaran pada cara hidupnya, dimulai dari cara berpikirnya.

Bagaimana dengan etika lingkungan Islam? Apakah cukup dengan membaca karya-karya ‘refleksi hijau’ para intelektual muslim

Sangat perlu, namun itu saja belum cukup. Ada perbedaan antara mempelajari etika dan menggali etika. Yang pertama bisa tergelincir pada kapitalisasi pengetahuan tanpa aktualisasi. Yang kedua, menuntut pergumulan intelektual (ilmu, pengalaman) secara orisinal, dan orisinalitas merawat komitmen perjuangan.

Misalnya, sebagai orang Islam, kita bisa dengan saksama membaca Alquran dan mengumpulkan ayat-ayat relasi etis manusia dan alam (berbeda dengan ayat-ayat ekologis). Saya pribadi menemukan lebih dari seratus lima puluh ayat etis, termasuk yang sekunder, seperti anjuran penyederhanaan mode produksi/konsumsi, hingga anjuran membangun kehidupan berkiblat nilai/non-benda.

Ada banyak cara untuk menggali etika. Tapi intinya, rumusan etis memberi petunjuk tentang mana yang sah dan sebaliknya. Agar pergerakan tahu ke mana harus melaju dan dengan siapa harus bersekutu.

Tentu nanti ada pro-kontra. Tapi dialektika akan membuat pro-kontra itu memperkaya khazanah etis gerakan.