Guru
2 tahun lalu · 720 view · 5 menit baca · Agama img_1074.jpg
Google search

Mengapa "Penjahat" di Indonesia Kerap Ber-KTP Islam?

Islam pada hakikatnya adalah agama yang mengajarkan kepada setiap pemeluknya untuk senantiasa cinta pada perdamaian. Hal ini sebagaimana yang ditegaskan dalam QS. An Nahl:125 yang artinya: 
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” 

Doktrinisasi ini terus disampaikan dalam misi dakwah yang tercermin dalam setiap kajian majelis ilmu, pesan para khatib disetiap Jumat, tausiah para ulama diberbagai kesempatan sampai pada upaya memberikan pemahaman melalui berbagai literasi sehingga mudah untuk dipahami oleh setiap orang termasuk mereka yang berada di luar Islam.

Sayangnya pada hari ini khususnya di Indonesia semuanya terkesan bertolak belakang dengan apa yang menjadi ajaran agama Islam itu sendiri. Sebut saja aksi pelaku bom bunuh diri di beberapa gereja yang gagal dilakukan, dan sialnya si pelaku membawa identitas yang katanya dengan jelas terbaca beragama Islam. Akibatnya persepsi masyarakat terhadap agama Islam menjadi miring bahkan ada pihak yang memberikan "stempel" bahwa Islam identik dengan ajaran terorisme. 

Tidak cukup sampai disini, berlanjut lagi pada berbagai kasus korupsi yang selalu saja menjerat oknum pejabat ber-KTP Islam, lagi-lagi menambah coretan hitam agama Islam. Bahkan pemberitaannya pun sengaja dihebohkan sedemikian mungkin dengan harapan seluruh umat manusia dibelahan dunia termasuk Pinguin di kutub pun harus tahu bahwa koruptor di Indonesia itu beragama Islam. 

Kemudian katanya aksi kekerasan, intoleransi, tidak menghargai kelompok minoritas juga selalu dilakukan oleh pihak beragama Islam. Akhirnya orang-orang yang tidak tahu sama sekali pokok permasalahan termasuk yang beragama Islam itu sendiri akan ikut-ikutan menghardik dan merendahkan ajaran Islam yang pada prinsipnya sangat tegas dan jelas dalam memberi batasan antara yang benar dan salah. Karena mereka yang mengklaim "waras" berusaha terus memprovokator sesuai selera yang diinginkan. Akibatnya cikal bakal perpecahanpun pelan-pelan semakin mengkhawatirkan. 

Begitu juga dengan aksi kriminalitas mulai dari kasus narkoba, pemerkosaan, pembunuhan dan lain sebagainya di Indonesia juga selalu dilakukan oleh orang-orang yang ber-KTP agama Islam. 

Sehingga lengkaplah sudah berbagai keburukan dan kejelekan disetiap penjuru tanah air akan selau tertuju pada pemeluk agama Islam. Terlalu banyaknya hal-hal buruk tersebut seolah-olah memberi stigma negatif bahwa orang yang ber-KTP Islam di Indonesia adalah "penjahat".

Pokoknya Penjahat titik! Begitulah kata mereka menghardik, dan syukurnya emosi kelompok mayoritas di negeri ini tidak sepenuhnya terpancing. Lantas setujukah kita dengan berbagai fakta dan data yang ada, disebut bahwa "penjahat" di Indonesia itu cenderung dilakukan pemeluk agama Islam?

Jawabannya tentu dengan tegas bahwa tidak sepakat dengan pernyataan tersebut. Biarpun berbagai fakta dan data sudah cukup menjadi alasan bagi sebagian orang untuk menyatakan bahwa "penjahat" di Indonesia selalu saja ber-KTP Islam, melalui tulisan ini penulis ingin menyampaikan bahwa umat Islam di Indonesia masih mempunyai seribu alasan untuk membantahnya. 

Mari sejenak kita berfikir secara rasional dalam memahami pokok permasalahan. Masih ingatkah kita dengan teori Peluang (probability) dalam ilmu Matematika yang ditemukan sekitar abad ke tujuh belas? Membahas tentang teori Peluang tentunya akan berkaitan dengan hal-hal mendasar yang juga harus dipahami misalnya konsep permutasi, kombinasi dan pemecahannya, serta menentukan sampel, peluang, kejadian dan kemudian menafsirkannya.

Di sini kita tidak akan membahas hal demikian, akan terapi penulis mencoba untuk menghubungkannya dengan pokok permasalahan. Kita fokus pada konsep dasar teori Peluang yang berkaitan dengan "Ruang Sampel" dan "Kejadian". 

Ruang Sampel adalah himpunan semua kemungkinan hasil dari suatu percobaan/kejadian, sedangkan kejadian adalah suatu himpunan bagian dari ruang sampel (ingatkan jika salah). Sederhananya Peluang disebut juga dengan "nilai kemungkinan". Jika ditanya berapa Peluang atau "kemungkinan" yang dapat terjadi bagi pemeluk Islam di Indonesia untuk melakukan "kejadian" baik atau buruk/kejahatan?

Jawabannya tentu peluang umat Islam sebagai kelompok mayoritas untuk melakukan tindak kejahatan (kejadian) adalah sebanyak "n" kejadian, alias sudah pasti memiliki peluang yang jumlahnya relatif lebih besar. Karena "ruang sampel" dalam kasus ini berkaitan langsung dengan orang yang mayoritas ber-KTP Islam, maka "kejadian" baik atau buruk pasti akan selalu menyertakan kata "Islam". Jadi ini tidak lebih adalah faktor "kebetulan" karena penduduk Indonesia mayoritas ber-KTP Islam. Sederhana bukan cara memahaminya.

Baiklah jika masih sulit memahami penjelasan di atas, penulis mencoba menganalogikan dengan hal yang lebih sederhana lagi sebagai alasan yang mudah-mudahan dapat meluruskan persepsi negatif terhadap agama Islam. Analogi ini sebenarnya sudah selalu penulis sampaikan termasuk dibeberapa tulisan terdahulu. Akan tetapi tidak ada salahnya jika kembali disampaikan pada kesempatan ini. 

Kita misalkan kelompok agam Islam sebagai tanaman padi, sedangkan kelompok agama lain sebagai sebagai tanaman jagung. Ketika kita menghampiri kebun yang dominan tanaman padi (pemeluk agama Islam), sedangkan tanaman jagung (non Islam) hanya sedikit maka sudah pasti dan menjadi hukum alam bahwa yang akan kita lihat adalah banyaknya jenis ragam tanaman padi mulai dari yang tumbuh subur, ada yang sedikit merunduk, ada pula padi yang rusak, bahkan akan terlihat tanaman padi yang tumbuh tidak sempurna alias "hidup segan mati tak mau".

Begitu juga sebaliknya, apabila kita menghampiri kebun yang mayoritas isinya tanaman jagung, maka akan terlihatlah dengan jelas berbagai jenis jagung mulai dari yang tumbuh subur, tumbuh tapi tidak berbuah, ada yang rusak bahkan akan ada jagung yag kerdil karena tidak mampu menyesuaikan iklim yang ada. Akan tetapi patut kita syukuri padi dan jagung masih dapat tumbuh dan berkembang secara bersamaan di lahan yang sama.

Artinya bahwa jika hari ini di Indonesia para pelaku "kejahatan" selalu ber-KTP Islam itu secara peluang kejadian adalah sesuatu yang wajar meskipun secara ajaran agama tetap sesuatu yg salah. Karena kejadian ini akan berlaku sebaliknya jika kita berada di Amerika Serikat yang kelompok mayoritasnya adalah bukan pemeluk agama Islam. Maka akan dapat dipastikan pelaku kejahatan di Amerika Serikat akan didominasi pula oleh orang-orang yang beragama non-Islam. 

Jadi logika berfikirnya sangat sederhana bukan. Terpenting dan harus diingat bahwa kita semua telah sepakat bahwa semua ajaran agama di muka bumi ini termasuk enam agama yang diakui di Indonesia ini selalu mengajarkan pada sisi kebaikan dan cinta perdamaian. Ini sudah menjadi harga mati yang tidak perlu dilerdebatkan.

Oleh karena itu melalui kesempatan ini penulis dan juga jutaan umat Islam yang ada di Indonesia mengharapkan, sudahilah pandangan-pandangan negatif terhadap umat beragama Islam di Indonesia. Mari kita kembali merajut tali persaudaraan dalam bingkai kebhinnekaan. 

Terlepas kedepannya akan selalu ada orang-orang yang berbuat kesalahan di sekitar kita, kalaupun terpaksa harus membencinya jangan lupa menyertai kata "oknum" biar tidak ada pihak yang tersakiti. Permasalahan SARA ini sangat sensitif, beda tipis dengan orang yang sedang sakit gigi lalu dimarahi, tidak lucu. Jangan gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga. Ingatlah, pilihan sudah ada di depan mata kita bahwa kebersamaan ini selalu siap untuk dirusak atau tetap dijaga sampai akhir zaman.