Dua hari lalu, ada kejadian tidak mengenakkan di pertandingan final Piala Indonesia. Sekretaris Jenderal PSSI, Ratu Tisha, diusir oleh supporter PSM Makassar. Bahkan, ia sampai diteriaki “Mafia! Mafia!” oleh mereka. Pengusiran ini terjadi karena supporter PSM Makassar merasa dianaktirikan oleh PSSI.

Tetapi, Ratu Tisha tidak baper. Meski diusir, ia tetap ramah terhadap para supporter. Bahkan, ia memuji supporter PSM Makassar setelah pertandingan berakhir. Ia menilai bahwa mereka tampil kreatif dan mampu menjaga ketertiban (makassar.tribunnews.com, 2019).

Ketika melihat videonya, penulis jadi ingat terhadap kejadian serupa di tahun 1989. Ketika Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher menonton sebuah pertandingan bola di Skotlandia. Tragedi Hillsborough yang menewaskan 96 supporter Liverpool baru saja terjadi. Ketika ia mengambil tempat duduk, semua supporter berteriak, “Huuuuuu!” Reaksi mereka seperti kedatangan sosok nenek lampir.

Kedua peristiwa ini membuktikan suatu tren yang terjadi di antara pemimpin perempuan. Tren tersebut adalah perundungan (bullying) yang lebih intens terhadap pemimpin perempuan. Terhadap cara berpakaian, gaya rambut, sampai hubungan asmara. Seakan-akan masyarakat lebih judgmental terhadap pemimpin perempuan dibandingkan laki-laki.

Lihat saja kehidupan politik pasangan Bill dan Hillary Clinton. Pernahkah Bill Clinton dikritik karena rambutnya yang putih? Atau ketika ia memakai jas yang kebesaran? 

Tetapi, istrinya, Hillary, pernah dikritik karena gaya rambut yang tidak cocok dan pantsuit yang dianggap jelek. Bahkan, ia pernah dirundung sebagai nasty woman karena kepribadiannya.

Lantas, mengapa perundungan seperti ini terjadi pada pemimpin perempuan? Menurut hemat penulis, ada tiga alasan utama yang memicu perundungan ini. Pertama, gender perempuan dianggap kurang pantas menjadi pemimpin. 

Kebanyakan masyarakat di dunia adalah masyarakat patriarkal. Pria menjadi gender utama yang dianggap sebagai pemimpin dalam masyarakat. Sementara, perempuan dianggap sebagai asisten nahkoda yang membantu pria. Mulai dari mengurus anak sampai keuangan dalam level keluarga.

Ketika seorang wanita masuk dan “melanggar” konvensi patriarkis tersebut, ia pasti dianggap sebagai seorang superwoman. Seorang wanita yang bisa melampaui pria dan melakukan segalanya.

Faktor superwoman inilah yang memunculkan alasan kedua. Ketika keunggulan ini muncul, berlakulah pepatah, “Iri tanda tak mampu.” 

Rasa iri hati ini terwujud dalam komentar nyinyir nan merundung. Ujaran-ujaran tersebut bersifat menyindir, personal, dan bertujuan untuk menurunkan semangat si pemimpin perempuan. Agar ia menjadi ‘sama’ dengan kebanyakan perempuan lainnya.

Margaret Thatcher sendiri dirundung sebagai Attila the Hen dan Iron Lady. Imelda Marcos dirundung sebagai The Iron Butterfly. Elizabeth Warren dijuluki sebagai Pocahontas saat dirundung oleh Donald Trump. Pemimpin pria lebih jarang menerima bullying through catcalling seperti ini.

Terakhir, masyarakat selalu menuntut penampilan sempurna dari pemimpin perempuan. Penampilan luar maupun dalam. 

Dari luar, masyarakat selalu menuntut mereka untuk terlihat pantas. Sementara, masyarakat juga menuntut mereka untuk memiliki kepribadian yang pantas dijadikan role model. Dengan kata lain, menjadi seperti malaikat yang sempurna tanpa cela.

Padahal, pemimpin perempuan juga manusia. Mereka punya kelebihan dan kelemahan masing-masing. Seperti Ibu Risma misalnya. Sebagai wali kota, ia adalah pemimpin yang sangat efisien, terlibat di lapangan, serta memiliki langkah kerja yang jelas. Namun, ia juga sosok yang temperamental. Mudah tersulut amarah jika menghadapi ketidaksesuaian.

Ketika pemimpin perempuan tidak berhasil memenuhi ekspektasi masyarakat yang lebih tinggi, berbagai perundungan langsung bermunculan. Dari yang sifatnya politis sampai personal. 

Bahkan, pemimpin wanita sekaliber Margaret Thatcher saja di-bully karena suaranya yang terlalu cempreng. Perundungan ini begitu berbekas, sampai ia berlatih mengubah nada suara di tahun 1975.

Menurut penulis, inilah penyebab lebih sedikitnya pemimpin perempuan. Mereka harus melalui jalan yang lebih berliku dan berbatu. Lebih banyak tantangan, serangan, dan perundungan yang harus dihadapi. Masih banyak glass ceiling yang harus mereka pecahkan dari dominasi laki-laki. Hal ini jelas tidak mudah.

Tetapi, dalam memecahkan dominasi tersebut, perempuan menghadapi stigma bahkan cibiran dari masyarakat yang patriarkis. Banyak orang, termasuk di antara perempuan sendiri, yang menghalangi terbentuknya female leaders di masyarakat. Berbagai alasan pun digunakan sebagai legitimasi stigma dan upaya ini.

Umumnya, stigma patriarkis bertahan karena kebanyakan bakal pemimpin perempuan “belum teruji”. Selain itu, perempuan diasumsikan memiliki conflict of interest antara kepentingan mengurus keluarga dan memimpin dalam karier. Lebih lagi, sifat feminin yang lebih emosional dan sensitif kerap dijadikan bahan perundungan terhadap pemimpin perempuan.

Kesimpulannya, pemimpin perempuan kerap mengalami perundungan karena dianggap melanggar konvensi patriarkis. Selain itu, ada citra pemimpin perempuan sebagai superwoman yang menimbulkan iri hati. Terakhir, tuntutan penampilan sempurna dari masyarakat jauh lebih tinggi bagi pemimpin perempuan.

Pada kampanye pemilu 1979, Margaret Thatcher berkata, “There is only one chance in life for women. It is the law of life.” Ketika pemimpin perempuan gagal meraih kesempatan tersebut, pisau perundungan akan menerjangnya bertubi-tubi. Society shows little mercy for woman leaders.

Maka dari itu, salut dan hormat yang setinggi-tingginya untuk pemimpin perempuan di seluruh dunia.