Steven Weinberg dan Abdus Salam (ditambah Sheldon Glashow) berbagi Hadiah Nobel Fisika 1979 atas temuan mereka, yaitu unifikasi interaksi elektromagnetik dengan gaya nuklir lemah. Tapi dalam hal iman, keduanya bertolak belakang. Weinberg adalah ateis garis keras, sekubu dengan Richard Dawkins, dan Sam Harris. Namun Abdus Salam adalah seorang teis.

Apa yang membuat seseorang beriman atau tidak beriman? Faktornya sangat kompleks. Seorang pemikir, peneliti alam semesta, atau peneliti makhluk hidup tidak otomatis teis atau ateis. Jadi, berpikir bukanlah penentu iman.

Lalu, apa yang menentukan? Lingkungan tempat lahir? Inipun tidak. Banyak orang menjadi ateis meski ia berasal dari keluarga religius. Tidak sedikit pula yang sebaliknya, menjadi religius meski dibesarkan dalam keluarga ateis.

Usaha untuk menelisik soal ini juga dilakukan dengan melihat statistik. Negara-negara “selatan” (selatan sering dipakai untuk mendeskripsikan negara berkembang) yaitu negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin secara umum religius.

Sebaliknya, negara-negara “utara” seperti kebanyakan negara Eropa, Kanada, ditambah Australia adalah negara-negara dengan dominasi ateis. Menariknya, Rusia dan Cina, juga Jepang, termasuk yang dominan ateis.

Ada yang mencoba mengaitkan ateisme dengan kesejahteraan/kemajuan. Di negara-negara Eropa yang maju, orang cenderung ateis. Sedangkan di negara-negara berkembang, orang cenderung religius. Penjelasannya, di negara-negara itu orang hidup lebih pasti, soal masa depan dan kehidupan ekonomi. Artinya, orang tidak hidup dalam ketakutan, sehingga Tuhan tak terlalu diperlukan.

Tapi penjelasan di atas bukanlah penjelasan yang memuaskan. Secara umum Amerika tentu lebih maju dari Cina dan Rusia. Tapi kedua negara ini lebih ateis lebih tinggi persentasenya dibanding Amerika.

Kita semua ingat bahwa Rusia dan Cina adalah negara berbasis ideologi komunis yang tidak ramah terhadap agama. Terlebih bila kita pertimbangkan situasi pada zaman Uni Sovyet. Artinya faktor tekanan politik tidak bisa diabaikan.

Atheist vs Theist IQ distribution

Menariknya, ada yang menganalisa sebaran ateis vs teis berdasarkan IQ. Orang-orang dengan IQ rendah <70 kebanyakan adalah ateis. Mudah diterka sebabnya, bahwa orang-orang pada level ini sulit memahami konsep Tuhan.

Pada IQ yang lebih tinggi, meliputi wilayah kecerdasan rendah, rata-rata, hingga di atas rata-rata, populasi dominannya adalah para teis. Puncak populasi teis ada di golongan IQ kecerdasan rata-rata, sekitar 100. Pada golongan kecerdasan tinggi dengan IQ >115, populasi ateis meningkat drastis, dan populasi teis menurun drastis.

Jadi, apa yang membuat orang beriman atau tidak beriman? Embuh.