Sampah sebagai hal yang selalu dihasilkan orang setiap hari. Jumlah sampah yang menumpuk tersebut, kalau tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan pencemaran lingkungan. Tetapi masih ada yang membakar sampah dengan beberapa alasan. Sebaiknya sampah tidak dibakar, melainkan ditanam ataupun diuraikan. Alasan orang membakar sampah yaitu,

Tidak perlu membayar biaya pengangkutan sampah

Benar sekali. Untuk membayar sampah bulanan hal tersebut tentu saja memberatkan. Karena orang tentunya ingin menghemat pengeluaran. Apalagi sampah yang dihasilkan sedikit, tidak perlu diangkut lebih baik dibakar saja. Daun-daun yang berjatuhan pun juga sama. Semuanya lebih baik dibakar, daripada bayar.

Menanam sampah sulit sebab tanah terbatas, sementara jumlah sampah selalu meningkat

Lahan untuk menanam pohon saja sudah jarang ditemui di kota-kota, apalagi untuk menimbun sampah. Solusinya yaitu dibakar saja. Dengan begitu sampah tersebut akan langsung menghilang. Lagipula menanam sampah memerlukan upaya lebih.

Tidak ingin direpotkan oleh sampah

Orang Indonesianya tentunya lebih menyukai yang efisien. Tidak ingin repot, maunya yang mudah. Membakar sampah selain cepat, juga murah. Hal ini menjadikan membakar sampah sebagai solusi utama.

Tempat pembuangan sampah dikelola dengan kurang baik

Tempat pembuangan sampah yang mendapatkan sampah begitu banyak setiap harinya. Kalau pengelolaannya kacau, hal tersebut bisa dibayangkan sendiri. Maka pengelolaan sampah menjadi penting. Setiap hari sampah harus disortir dan dikelola dengan benar.

Alternatif lainnya ialah membuang sampah ke kali, maupun ke sembarang tempat.

Selain membakar sampah, membuang ke kali merupakan solusi jitu lainnya. Dengan hanyut ke kali, sungai, sampah tersebut akan menghilang dari pandangan. Tetapi sampah itu akan tetap ada, dan terbawa ke hilir. Kemudian di hilir pun menjadi tercemar karena setiap orang membuat sampah.

Akibat Membakar Sampah

Beberapa orang menganggap bahwa membakar sampah bukanlah sebuah masalah besar. Padahal hal tersebut dapat menganggu orang-orang yang tidak menyukai baunya, menganggu lingkungan. Apalagi kegiatan membakar sampah ini memiliki beberapa akibat yang cukup mengerikan bagi kesehatan.

Menganggu Tetangga

Larangan membakar sampah terdapat di pasal 29 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Jika tidak bisa didiskusikan baik-baik, maka tetangga boleh melalui jalur hukum. Membakar sampah menjadikan pusing dan dada menjadi sesak. Tentunya tetangga berhak melaporkan, jika pembakaran sampah dilakukan secara kontinu.

Mencemari Lingkungan 

Membakar sampah dapat menyebabkan polusi udara, sebab memunculkan debu dan asap abu-abu maupun hitam. Melepaskan karbon dioksida (CO2) yang justru memparah pemanasan global. Gas chlor yang terdapat di dalam asapnya sanggup untuk merusak atmosfer bumi.

Merusak Kesehatan

Tidak hanya karbon dioksida, ada pula karbon monoksida (CO) dan bahan-bahan lain yang tidak kalah berbahaya. Menghirup CO dapat menganggu hemoglobin yang bertugas mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Asapnya bernama benzopirena 350 kali lebih berbahaya daripada asap rokok. Sementara kandungan dioksin dari sampah plastik yang bersifat karsignogenik bisa menganggu sistem hormon, dan akan menumpuk di dalam lemak tubuh.

Selain itu iritasi pada mata, hidung, mulut dan tenggorokan akan terjadi. Membuat sesak napas, dapat pemicu asma, serta dapat memicu kanker paru-paru. Kemungkinan lainnya yaitu penyakit kardiovaskuler seperti serangan jantung dan stroke.

Tidak hanya asapnya, abu bekas pembakarannya pun mengandung bahan berbahaya. Jadi abunya sebaiknya dihindarkan dari jangkauan anak-anak. Meski sudah dilarang undang-undang, membakar sampah nyatanya masih tetap terjadi. Entah karena beberapa alasan yang saya sebutkan diatas, ataupun alasan lainnya. Yang jelas membakar sampah menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan, terutama orang lain.

Jika seseorang yang membakar sampah sudah mengerti bahwa sebenarnya membakar sampah itu tidak baik, maka kenapa masih dilakukan? Kalau tidak mengerti, maka sebaiknya untuk diperingatkan agar tidak membakar sampah lagi. Membakar sampah hanya untuk tidak mau repot, kedepannya akan dapat merusak kesehatan.

Ketika membakar sampah menjadi sebuah solusi, hal ini yang berbahaya. Sampah selalu dibakar dalam jangka waktu yang lama. Berulang-ulang tanpa ada yang menghentikannya. Sesuatu yang dilakukan berulang-ulang seharusnya menjadikan hal tersebut kemudian menjadi besar. Dimulai dari diri sendiri untuk tidak membakar sampah. Sebab ketika satu orang membakar sampah, dan ia tidak menyadari, bahwa di dunia ini banyak orang yang seperti dirinya.

Maka pemanasan global yang menyebabkan iklim berganti sedemikian cepat akan terus terjadi. Ia tidak mengetahui hal yang dianggapnya remeh itu merusak bumi, merusak kesehatan orang lain, merusak dirinya sendiri. Sayangnya ia sendiri tidak tahu, dan tidak mau berhenti.

Daftar Bacaan