Science Communicator
2 tahun lalu · 1321 view · 6 menit baca · Filsafat 60138.jpg
ilustrasi: http://www.eharmony.co.uk

Mengapa Orang Harus Bertanya?

Setiap kita menyadari dan menerima sebuah fakta sederhana bahwa manusia selalu bertanya dan mencari jawaban, dan dari setiap jawaban kita akan terus mengajukan berbagai pertanyaan lain tentang berbagai hal untuk menemukan jawaban yang lain pula.

Sejak kecil, manusia memiliki rasa penasaran dengan dunia, kita selalu melihat sekeliling, dan bertanya. Ketika kita duduk bersama orang tua, kita selalu bertanya tentang hal-hal yang sepele di dunia ini. Kenapa benda yang dilempar ke atas selalu jatuh ke bawah? Kenapa kita tidak boleh bermain dengan api? Kenapa kita dilarang keluar ketika musim dingin? Kenapa kita harus berhenti ketika lampu lalu lintas berwarna merah? Itu mungkin beberapa pertanyaan dari sekian banyak pertanyaan yang diajukan oleh anak-anak, termasuk waktu kita kecil.

Ketika kita tumbuh dewasa, kita telah mengetahui banyak hal. Itu karena kita terus mengajukan pertanyaan dalam hidup. Ketika kita berhadapan dengan seorang bocah berusia 3 atau 4 tahun, kita akan selalu mendengar pertanyaan-pertanyaan yang sama ketika kita mengajukannya berpuluh-puluh tahun yang lampau. Kadang kita merasa kesal bahwa anak-anak begitu senangnya bertanya “mengapa begini, mengapa begitu”.

Tahukah bahwa kita yang hidup hari ini dengan pengetahuan yang kita miliki juga diawali dengan proses yang sama? Jadi mengapa kita harus kesal dan bosan mendengar anak-anak bertanya?

Anak-anak bertanya banyak hal kepada kita. Tapi mengapa? Apakah sama antara anak-anak yang mengajukan pertanyaan dengan orang dewasa yang berkata “mengapa?” lantas mengapa orang harus bertanya?

Jawaban sederhana dari pertanyaan di atas, tentu saja karena bertanya adalah proses atau mekanisme paling sederhana dalam mempelajari kehidupan. Bertanya memungkinkan kita memperoleh penjelasan tentang “mengapa ini terjadi”. Anak-anak bertanya karena ketidaktahuan akan sesuatu. Itu pula sebabnya kenapa anak-anak tidak hanya mengajukan satu pertanyaan dan tidak puas hanya dengan satu jawaban.

Ketika mereka melontarkan satu pertanyaan, kita dengan mudah memberikan satu jawaban sederhana. Tapi dari satu jawaban sederhana, kita sering mendengar banyak pertanyaan lain yang terus menerus ditanyakan, hingga kita sendiri sering kesal dan pada akhirnya memberikan jawaban yang sekadarnya supaya mereka berhenti mengajukan pertanyaan.

Mungkin pertanyaan-pertanyaan yang diajukan anak-anak lebih sederhana dibandingkan pertanyaan yang diajukan orang dewasa. Misalnya, ketika anak-anak bertanya “mengapa lintasan zebra cross berwarna hitam putih seperti kuda zebra?”. Kita akan lebih mudah memberi penjelasan dan jawaban dibandingkaan ketika kita berhadapan dengan salah seorang kawan di sebuah rumah kopi, dan mengajukan pertanyaan “mengapa suami atau istri selingkuh?”, “mengapa aku dipecat dari kantor?”, atau “mengapa aku tidak lulus kuliah?”.

Pertanyaan pertama dapat kita jawab, bahkan dalam waktu beberapa detik. Tapi bagaimana kita menanggapi pertanyaan kedua? Kita memerlukan waktu lama untuk memulai berbicara, menata kata, dan memberi penjelasan yang mungkin bisa diterima.

Mengapa kita bertanya tentang suatu hal? Tentu saja, karena kita ingin mencari tahu jawaban. Kita ingin memperoleh penjelasan mengapa suatu hal terjadi atau suatu hal tidak terjadi. Tapi lebih dari pada itu, kita mengajukan pertanyaan karena dengan cara itu kita terus memperbaiki diri dan membuat kehidupan kita lebih baik.

Sejak lahir, kita terus berjuang untuk memperbaiki hidup. Sejak masih terlentang di tempat tidur, kita belajar untuk merangkak. Ketika kita melihat orang berjalan, kita bertanya, mengapa orang berjalan dan aku merangkak? Kita terus bertanya agar kehidupan kita menjadi lebih baik.

Dengan bertanya, kita belajar satu sama lain. bertatap muka dengan orang lain, membawa emosi mereka dan belajar tentang bagaimana  orang lain melihat kita atau kehidupan di sekitarnya. Kemudian kita bertanya tentang kehidupan ini, menguji setiap pendapat kita dan akhirnya kita bisa menerima mana yang “benar” dan terkadang mencoba untuk melakukan hal-hal yang tidak disukai oleh orang lain.

Dengan bertanya, kita juga sedang mengumpulkan informasi, berita dan tanggapan orang lain terhadap kita. Ketika masih kanak-kanak, kita memperoleh jawaban-jawaban yang singkat dan sederhana. Kita tak menuntut penjelasan runut dan informasi yang lebih rinci tentang apa yang kita tanyakan.

Ketika keponakanku yang masih berusia 4 tahun bertanya, “kenapa orang minum obat?”, aku berkata bahwa orang minum obat karena sakit. dan ketika sakit, orang tidak bisa bermain-main dengan kawan-kawannya. Makanya, orang itu harus minum obat agar sehat dan dapat bermain dengan kawan-kawannya lagi. Sesederhana itu. Anak-anak dengan pikiran sederhana mudah menerima jawaban seperti itu.

Tetapi semakin kita tumbuh dewasa, semakin banyak pertanyaan-pertanyaan yang perlu kita ajukan, kita memerlukan lebih dari sekadar jawaban sederhana. kita membutuhkan informasi yang lebih rinci. Semakin banyak kita mengajukan pertanyaan, semakin banyak dan beragam informasi yang kita peroleh. Lantas informasi yang kita dapatkan itulah yang akan kita gunakan di kemudian hari untuk menyelesaikan masalah atau untuk berbagi lagi informasi yang sama dengan orang lain.

Aku pertama kali naik pesawat terbang saat duduk di bangku kuliah. Karena tugas dari kampus, aku harus berangkat ke luar kota menggunakan pesawat terbang. Ini pengalamanku yang pertama bepergian dengan pesawat terbang. Aku tak pernah memiliki pengetahuan sedikitpun tentang pesawat, kecuali karena sering mengantar atau menjemput orang di bandara dan apa yang ku tonton di televisi.

Berbekal tiket dan ransel, aku antri di pintu masuk keberangkatan bandara. Bingung, tentu saja adalah reaksi pertama. Area terjauh yang pernah aku masuk di bandara hanyalah pintu masuk khusus penumpang. Setelah itu, aku tak tahu bagaimana caranya naik ke pesawat. Lantas, apa yang aku lakukan?

Saat itu ponsel pintar masih mahal dan hanya dimiliki sedikit orang. Tidak ada GPS dan penunjuk lain. Tak ada koneksi internet seperti hari ini yang memungkinkan orang bertanya pada Google tentang hal sepele sekalipun. Tapi untunglah, aku masih menggunakan cara tradisional yang masih ampuh: “bertanya”. Tidak ada  yang rumit dengan bertanya, kita hanya perlu memegang satu prinsip umum ketika bertanya “jangan pernah malu bertanya pada siapapun.”

Tepat di depan pintu masuk penumpang, seorang pria berkulit gelap, badan tegap dan potongan rambut ala militer memeriksa tiket setiap penumpang. Saat aku melewati penjaga, aku menyodorkan tiket dan berkata bahwa ini adalah pengalaman pertama naik pesawat. Dia tersenyum dan berkata, “setiap hal pasti memiliki saat pertama.” Dia mengantarku ke tempat pemeriksaan barang, dan berkata jika memerlukan sesuatu, bertanya pada petugas yang mana saja.

Sejak lewat pintu pemeriksaan, ketika aku tak tahu harus menuju ke mana, aku bertanya kepada petugas atau kepada penumpang lain yang ku temui. Hingga akhirnya tiba di dalam kabin pesawat, aku berkata kepada pramugari bahwa ini adalah pengalaman terbang yang pertama dan aku tak punya cukup informasi.

Petugas di pesawat berkata, dia siap membantu apa saja jika diperlukan. Tak ada hal-hal buruk terjadi kecuali sedikit bingung ketika harus merogoh kartu tanda pengenal, tiket dan mencari nomor kursi penumpang.

Itu adalah pengalaman pertama aku naik pesawat, dan bukan yang terakhir. Setelah itu, aku sering-sering menggunakan pesawat untuk bepergian. Tidak seperti pertama kali, perjalanan berikut dengan pesawat jadi lebih mudah dan menyenangkan. Aku sudah mengetahui harus masuk dari pintu sebelah mana, bagaimana memasukkan barang ke bagasi atau merasakan sensasi aneh ketika pesawat lepas landas. Pada akhirnya, aku menjadi terbiasa.

Bagaimana jika seandainya aku tidak pernah bertanya? Entahlah, mungkin aku tak akan pernah naik ke atas pesawat karena kebingungan hingga tertinggal di ruang tunggu. Pengalaman pertama itu pula yang kemudian aku cerita dan berbagi dengan teman-teman dan orang lain yang akan melakukan perjalanan pertama kali menggunakan pesawat.

Mengajukan pertanyaan begitu penting. Kita bisa menyelesaikan masalah, memperoleh jawaban dan mendapatkan informasi. Setiap jawaban yang kita peroleh, penjelasan yang diberikan atas pertanyaan yang kita ajukan tidak hanya akan bermanfaat untuk kehidupan kita, tapi juga bagi orang lain. Itu pula sebabnya kenapa kita harus lebih sering mengajukan pertanyaan dalam hidup ini.

Bertanya membuat kita semakin baik. Bertanya membuat kita mendapatkan pelajaran, apa yang harus kita lakukan dan mana yang tidak boleh kita lakukan. Apa pun yang kita lakukan, maka ajukanlah pertanyaan. Begitu banyak hal-hal mengesankan di dunia ini yang belum sepenuhnya kita nikmati. Maka mulailah mengajukan pertanyaan, pada diri sendiri dan tentang apa saja. Semakin banyak pertanyaan yang kita ajukan, maka semakin banyak hal-hal baru yang kita ungkap.

Artikel Terkait