Kartini lebih dikenal sebagai sebuah persona. Begitulah yang dikata oleh Goenawan Mohammad di esainya, "Kartini, Sebuah Persona", dalam buku "Setelah Revolusi Tak Ada Lagi". 

Kartini adalah wanita keturunan bangsawan yang terpasung oleh tradisi. Ia melawan, tetapi dengan pikiran-pikirannya yang dituangkan dalam surat.

Buku kumpulan esai itu memang menyebut Kartini memiliki cita-cita yang besar. Tetapi juga menyebut Kartini lemah hati, terpojok, kecewa, terikat, dan mati dalam usia yang muda--24 tahun. Hingga Goenawan Mohammad menyebutnya, "Bukan karena gagasan feminisme maka Kartini ada. Tetapi karena Kartini ada, maka ia seorang feminis."

Sempat ada yang mempertanyakan, mengapa Kartini diangkat menjadi pahlawan nasional, sementara ia tidak berjuang apa-apa? Dalam kesehariannya, ia dipingit sejak 12 tahun. 

Kalau hanya mengandalkan kegelisahannya melalui surat menyurat dengan sahabat penanya di Belanda, Stella Zeehandelaar, atau kepada keluarga J.H. Abendanon--menteri pendidikan yang mengurusi urusan agama dan kebudayaan di masa kolonial--atau kepada Van Kol, itu tidaklah cukup untuk membuatnya layak disebut pahlawan.

Meski sempat ia dilonggarkan dari masa pingitan oleh ayahnya--R.M. Sosroningrat, Bupati Jepara--lalu dengan itu ia bersama tiga orang adiknya R.A. Roekmini dan R.A. Kardinah bebas berkeliling menemui masyarakat desa. Orang-orang menjadi heran, kok anak Bupati, perempuan lagi, berkeluyuran secara bebas di tengah-tengah mereka. Kartini rajin mendengarkan keluhan masyarakat, dan Bupati Jepara senang dengan laku anaknya ini.

Akan tetapi anggapan itu tetap saja, bahwa Kartini tidak memperjuangkan kaumnya, dalam arti sesuai dengan yang ada di benak kita; ia tidak turut mengangkat senjata melawan kolonial. 

Sebaliknya, ia hanya memperjuangkan diri sendiri. Ia ingin sekolah, ingin bebas, dan ingin perempuan setara dengan kaum lelaki, tetapi ibunya saja yang selir tak mampu diperjuangkannya, bahkan ia beberapa kali harus berselisih paham dengan orang yang seharusnya ia perjuangkan.

Kartini di lain kesempatan harus diabaikan, sebab ia tak berjilbab, wanita Islam yang ada di tanah air harusnya berkiblat pejuang wanita yang berjilbab. Misalnya ke Cut Nyak Dien, yang beberapa kesempatan dipertanyakan; apakah fotonya yang terpampang di poster para pahlawan adalah fotonya yang asli, ataukah rekaan? Bukankah Cut Nyak Dien berjilbab? Ditambah pertanyaan itu didukung oleh temuan foto pejuang perempuan berjilbab yang diyakini adalah Cut Nyak Dien.

Ada yang dilupakan saat asumsi itu diajukan, bahwa latar kehidupan Kartini. Yakni di keluarganya, Islam tak lebih dari sekadar ritual salat, mengaji, atau berpuasa. Islam tak dikaji secara akademik, dari mana sumber yang mewajibkan jilbab? 

Maka, ukuran keislaman seseorang kala itu bukan soal berjilbab atau tidak (bagi perempuan), tetapi soal apakah ia melakukan ibadah formal seperti yang dicontohkan oleh para guru dan orang tua atau tidak.

Tidak seperti sekarang, tafsir mengenai jilbab mengerucut kepada wajib. Itupun sebagian bukan dilandasi kesadaran ideologis, tetapi lebih kepada fashion. Aji mumpung, dikawinkan saja, yang wajib harus dikerjakan, tetapi penampilan harus tetap modis dong!

Mengapa Kartini lebih dikenal ketimbang tokoh perempuan lainnya? Pertama, karena Kartini menulis, surat-suratnya mengabadikannya. Kata eyang Pram (Pramoedya Ananta Toer), "Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat, dan dari sejarah."

Kartini sebelumnya tak akan menyangka, bahwa namanya akan dikenang sampai sekarang. Berkirim surat perihal kehidupannya yang bagai hidup di penjara, diskriminasi bagi kaum perempuan, serta perilaku orang Belanda yang tak menganggap pribumi sebagai manusia yang sama dengan mereka; punya hak setara, semata karena respons terhadap kondisi kaum perempuan saat itu

Bukan hanya surat-surat, tetapi Kartini aktif menulis di koran. Sebagaimana pengakuannya dalam surat-suratnya bersama Stella Zeehandelaar:

"Apa yang kutulis di surat kabar omong kosong saja... Aku tidak diizinkan menyinggung isu-isu penting... Ayah tidak suka bila anaknya menjadi buah bibir orang banyak..." (20 mei 1901).

Hanya saja, ia tak mau membuka identitasnya kala menulis di ruang publik. Hal itu dapat dilihat dari suratnya setahun kemudian:

"Aku ingin menulis di surat kabar, tapi tidak dengan namaku sendiri. Aku ingin tetap tidak dikenal..." (14 maret 1902).

Ia memilih menjadi penulis anonim di surat kabar, lantaran tekanan budaya, tidak pantas seorang Raden Ajeng, puteri seorang Bupati Jepara, mengugat tradisi yang dijunjung moyangnya sendiri. Namun begitu, ia dikenal melalui surat-suratnya, dari sana diketahui bahwa ia salah satu penulis anonim di beberapa surat kabar itu.

Kedua, karena Kartini berasal dari keturunan bangsawan. Meski asumsi kedua ini hanyalah sebuah perkiraan--tak ada bukti yang mengungkapkan secara pasti--bahwa berkat kebangsawanannyalah ia dengan mudah dikenali sebagai seorang tokoh. Dalam hal ini, menulis saja tidak cukup, ia harus dikenali, ia siapa?

Ketiga, karena Kartini adalah seorang perempuan.  Bukan itu saja, kehidupan perempuan dalam latar sejarah penjajahan kolonial belanda begitu menyesakkan, hampir tak ada artinya. 

Bisa dibayangkan, tokoh Minke dalam tetralogi pulau buru karya eyang Pram. Sedangkan ia adalah seorang lelaki pribumi asli. Di mata orang Belanda, ia rendah, tak pantas duduk bersama dengan Belanda Totok (asli) maupun Indo (campuran). Perempuan pribumi, pasti lebih rendah dari itu.

Posisi perempuan di masyarakat pribumi pun tak boleh mendahului kaum lelaki. Kartini diharuskan mengalah pada abangnya yang lelaki, R.M. Slamet Sosroningrat. Perempuan dipingit, lelaki tidak. Pokoknya, perempuan harus menjadi makhluk nomor dua. Kehidupan perempuan yang macam ini, menarik untuk diangkat dan dijadikan grand discourse pembelaan hak-hak perempuan di tanah air.

Keempat, Kartini membawa isu keperempuanan secara umum, tidak terbatas pada pandangan agama tertentu. Tidak juga Islam yang menjadi pilihannya dalam perjalanan menuju Tuhan. Makanya, Kartini tidak dikenal sebagai tokoh muslim, padahal ia beragama Islam, melainkan ia dikenal sebagai tokoh perempuan, semua agama boleh mengklaim dia sebagai tokoh mereka.

Kelima, kisah hidup Kartini memang adalah kisah yang menarik; seorang perempuan keturunan bangsawan yang sadar akan kondisi ketertindasannya. Keinginannya untuk bersekolah di Belanda, semata karena ingin mengangkat kaum perempuan. 

Yang terpenting, Kartini mendirikan sekolah bagi para perempuan, ia melakukannya dengan meminta bantuan kepada pemerintah, sebagai ganti bahwa ia tak jadi bersekolah ke Belanda.

Hatinya tersentuh saat dibebaskan berkeliling di tengah masyarakat, ia dapati para pengrajin sulit memasarkan hasil mereka. Melalui kemampuannya, Kartini menuliskan informasi mengenai hasil kerajinan kepada pihak luar, dan akhirnya para pengrajin bisa memiliki pelanggan, nasib mereka jadi lebih baik.

Lagipula, Kartini adalah pribadi yang menarik. Rajin membaca, sekalipun buku-buku yang berbahasa asing. Hasil bacaannya dieksplorasi, dipertukar pikirkan bersama sahabat-sahabat penanya.

Jadi, mengapa membela Kartini? Karena komitmennya, tekadnya, pikiran-pikirannya, tindakannya yang tidak biasa di jamannya, ia berbuat demi diri dan kaumnya. Kartini layak menjadi seorang tokoh. Tidak seperti tuduhan sementara orang, dengan semena-mena mempertanyakan, "Mengapa harus Kartini?"

Kartini tidak butuh kumpulan orang, organisasi, untuk membangunkan kesadarannya mengenai ketertindasan kaumnya, dan olehnya mengapa harus melawan.

Tidak seperti mereka yang kemudian hadir sebagai pencela Kartini, membaca sejarah hanya sebatas jalan cerita, tanpa menelisik kondisi psikologis dan sosiologis yang melatari sang tokoh. Mereka yang memiliki kesadaran semu, kritis kala berkelompok, tetapi gamang ketika sendiri.

Serta, mereka tak mampu seperti Kartini, menjadi abadi dalam epik awal abad ke-20, kisahnya membawa empunya kepada keabadian. Sementara kisah itu hanya bisa mengabadi melalui perantaraan pena; ia menulis, dan kemudian dirinya ditulis.