Bagi anak perantauan, kampung halaman adalah hal yang paling dirindukan. Selain suasana di rumah, masakan ibu adalah salah satu sumber dari kerinduan tersebut. Rasanya nggak ada yang akan bisa menggantikan kelezatan masakan ibu.

Saat masa kuliah dulu, ketika benar-benar rindu pada rumah dan kesibukan membuat saya nggak bisa pulang, saya memutuskan untuk memasak makanan-makanan yang biasanya ibu masak di rumah. Berharap dengan masakan tersebut, rindu saya sedikit terobati.

Namun entah mengapa, menurut saya, rasa masakan yang saya buat pasti selalu berbeda dengan masakan ibu di rumah. Meskipun dengan menggunakan resep dan komposisi bahan yang sama, rasanya justru jauh berbeda.

Awalnya, saya kira ini cuma perasaan saya saja. Barangkali, takaran bumbu-bumbu yang saya masukkan kurang atau lebih dari resep yang sudah ibu berikan. Atau, bisa jadi cara pembuatannya berbeda? Ya, kira-kira begitulah asumsi saya.

Hingga suatu kali, saat sedang KKN dan benar-benar rindu rumah—juga karena ada aturan mahasiswa KKN nggak boleh pulang selama masa pengabdian, saya memutuskan untuk memasak tumis kangkung. Masakan yang sering disajikan oleh ibu ketika saya pulang ke rumah.

Untuk benar-benar memastikan bahwa masakannya sama persis, selama proses memasaknya, saya memutuskan untuk menelepon ibu. Membiarkan ibu memberikan petunjuk langkah-langkah dalam proses memasak tumis kangkung.

Saya berusaha teliti dan nggak melewatkan step apa pun. Namun, saat tumis kangkungnya sudah matang dan siap disantap, entah mengapa rasanya justru sangat berbeda. Jauh berbeda sekali dari masakan tumis kangkung buatan ibu di rumah.

Saya berspekulasi, kira-kira apa yang membuat hasil masakan saya dan ibu berbeda meskipun resepnya sama? Apakah suasananya? Ataukah karena tangan yang memasaknya berbeda? Mungkin bisa jadi karena alat-alat yang digunakan dalam memasak juga beda? Saya kemudian mencoba mencari jawaban ilmiahnya di berbagai sumber—khususnya di media-media online.

Dilansir dari Kumparan, menurut seorang psikolog asal Inggris, Christy Fergusson, hal tersebut berkaitan dengan persepsi emosional seseorang akan rasa masakan. Rasa tersebut dapat ditingkatkan oleh faktor waktu, cinta dan rasa peduli terhadap sebuah masakan.

Jadi, mengapa rasa masakan saya berbeda dengan rasa masakan ibu? Ya karena alasan memasaknya saja juga berbeda. Ibu saya memasak untuk anak-anaknya dan seluruh anggota keluarga yang lain dengan penuh cinta dan untuk bertahan hidup.

Lah, saya memasak hanya untuk memuaskan ego saya saja, juga sekaligus melakukan perbandingan antara masakan saya dan ibu. Ya jelas saja, dari awal niatnya sudah beda dan sudah pasti hasil akhir dan rasa masakannya juga lain.

Ibu saya memasak dengan penuh cinta dan kasih sayang. Resep dan cara memasaknya sebagian besar dilakukan berdasarkan insting dan intuisi semata, nggak berpatokan pada ukuran, keteraturan, waktu dan ketepatan.

Sedangkan, saya memasak dengan mengukur berapa banyak garam yang digunakan, seperti apa potongan wortel yang bagus, juga kadang saya melakukan hal-hal konyol lainnya, seperti menghitung pada menit ke berapa saya harus memasukkan garam dan penyedap rasa. Sungguh berbeda dengan cara ibu dalam memasak.

Ibu juga biasanya nggak berpatokan pada waktu. Sebagian dari mereka memasak dengan bermodalkan ilmu mengira-ngira saja. Untuk mengetahui apakah nasi sudah matang atau belum, cukup dilihat saja nasinya. Cium baunya dan letakkan tangan pada permukaan nasi.

Menurut ibu saya, jika nasinya menempel, maka ia berarti sudah matang. Nggak perlu lagi mengukur lama waktu yang digunakan untuk menanak nasi. Mungkin hal inilah yang membuat masakan ibu selalu terasa lebih enak.

Selain karena cinta kasih dan ilmu intuisinya, alasan lain yang mungkin membuat masakan ibu terasa lebih enak ya karena dimasak dan dimakan di rumah.

Bagaimanapun juga, selain rindu pada masakan ibu, dalam lubuk hati yang paling dalam, tentu saja saya juga merindukan suasana di rumah. Rindu pada kenyamanan dan kehangatan yang ditawarkan di dalam rumah. Makanya, makan masakan ibu dan memakannya di rumah tentu saja makin menambah nilai rasa nikmatnya.

Faktor lain yang juga sangat berpengaruh adalah karena saat makan masakan ibu, semuanya dilakukan secara gratis dan tanpa perlu usaha berlebih. Nggak, saya nggak akan bilang bahwa karena gratislah masakan ibu terasa enak, tetapi karena didapatkan tanpa usahalah yang membuatnya lebih nikmat.

Setiap kali rindu masakan ibu dan memutuskan memasaknya, entah mengapa, saat masakan sudah matang, saya mulai kehilangan selera makan.

Saya berasumsi, mungkin karena saya sudah kelelahan selama proses memasak. Energi yang sudah saya keluarkan saat memasak tersebut justru menghilangkan gairah keinginan saya dalam menyantap masakan. Sedangkan saat di rumah, saya mungkin hanya tinggal langsung makan saja tanpa harus berjibaku dengan proses memasaknya.

Jadi, meskipun menggunakan resep yang sama, masakan ibu memang akan selalu terasa spesial di mata anak-anaknya. Ini semacam misteri yang sebaiknya memang nggak perlu dicari kebenarannya. Dibiarkan saja seperti ini.