Internet sebagai ranah baru penyebaran informasi tak dapat ditampik telah membawa cara baru bagi manusia menikmati bertukar informasi dalam hitungan detik yang begitu singkat, mudah dan efisien.

   Bila sebelumnya kita terbiasa membaca koran dengan media kertas, kini internet memberikan cara yang lebih fleksibel. Cukup dengan membuka portal berita lewat mesin peramban, maka segala informasi paling baru akan terpampang di depan mata dengan setumpuk pilihan yang bergantung seberapa relevan dengan informasi yang kita inginkan.

   Teknologi bagaimanapun telah membawa manusia memasuki ranah penyebaran informasi yang lebih mutakhir, lebih berkembang, lebih cepat dan tentu saja jauh lebih memanjakan. Namun, tanpa sadar segala kepraktisan ini telah membawa kita pada jurang 'kebodohan' yang sama massive-nya dengan bagaimana informasi disebarkan dalam hitungan detik.

   Hoax yang merajalela dalam berbagai kanal platform sosial media misalnya, menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi yang memanjakan kita di saat yang sama dapat menjadi mesin yang membawa kematian pada logika berpikir manusia. Dan hal tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh masalah hoax itu sendiri melainkan pula bagaimana hoax itu ditanggapi ketika ia sampai di ruang publik.

     Masyarakat bagaimanapun tak bisa melulu dianggap sebagai korban. Ia juga merupakan pengkonsumsi utama sekaligus dalang penyebaran informasi-informasi tak bertanggungjawab.

     Minimnya literasi, kemalasan dalam mencari sumber informasi terverifikasi dan hampir tak adanya penggunaan logika berpikir merupakan satu dari sekian banyak masalah yang umum dijumpai hari ini, menjadi penyakit utama yang menggerogoti masyarakat pengguna internet tak hanya di Indonesia namun juga dunia.

    Logical fallacy menjadi satu fakta yang tak bisa dihindari. Sebaliknya ia terus menerus menghantui dan menjadi pemandangan yang terasa makin umum ditemukan terutama pada ranah internet yang begitu bebas, di mana sebuah informasi tak memerlukan adanya bukti empiris, data, juga fakta. Klaim sepihak bernada melecehkan, merendahkan dan cacat pikir seringkali meraih perhatian utama dan sering pula dipercaya begitu saja.

    Hal ini lantas menjadi sebuah pertanyaan yang lumayan menggelitik. Apakah masyarakat kita dewasa ini adalah masyarakat yang begitu naif dalam menerapkan etika informasi? Atau kebodohanlah yang menjadi penyebab utama sekaligus pemantik suburnya informasi palsu yang menyebar bagai virus yang merusak autoimun kecerdasan manusia?

    Jawabannya mungkin tak bakal ketemu, sulit diterka, sama dengan sifat manusia yang memiliki banyak ambiguitas. Tetapi ambiguitas ini bahkan terasa lebih aneh lagi bisa menimpa kalangan terpelajar. Orang-orang dengan pendidikan tinggi, atau seseorang dengan jabatan yang berpengaruh dalam pemerintahan rupanya tak punya impunitas menghalau diri dari maraknya informasi palsu.

    Ini bukan lantaran seseorang bodoh atau ilmu yang ia dapat sama sekali tak berguna. Ilmu di manapun itu membantu dan menyokong manusia untuk memahami segala sesuatu dengan sudut pandang subjektif. Namun, implementasi dari hasil belajar tidak selalu membawa hasil menggembirakan di lapangan seturut ilmu yang dipelajari.

    Hal ini tak lain disebabkan kecenderungan sebagian besar orang yang menilai kecerdasan dari bilangan nilai di atas kertas. Hingga tanpa sadar perspektif yang berkembang secara umum menjadi sesuatu yang bias. Dan menitikberatkan kecerdasan sama dengan nilai akademis yang pada kenyatannya tidak selalu menghadirkan fakta yang sejalan.

    Apa yang menambah keanehan lain dari fenomena ini, adalah, tak peduli seberapa menyimpang atau tak masuk akal sebuah pemberitaan, semakin ia mengandung banyak kebohongan yang bersebrangan dengan kenyataan di lapangan demi mendukung kelompok tertentu, maka makin populer pula ia disebarkan dan makin cepat ia memperoleh popularitas dibandingkan berita-berita dengan ditunjang fakta nyata.

    Sampai di sini logika bukan lagi titik tumpu satu-satunya. Ada faktor lain yang seringkali terlupakan namun ia juga berperan begitu aktif di belakang layar. Ia memainkan emosi manusia, sekaligus membawa pengaruh pada penilaian tertentu. Dan hal tersebut tak lain perasaan emosional manusia yang berkutat pada benci atau cinta.

    Dua emosi ini begitu dominan. Ia bisa memberi dukungan begitu kuat namun di saat yang sama memberi alasan penyangkalan dan penolakan tak kalah kerasnya.

    Kebencian bagaimanapun adalah faktor yang sulit terukur, membuatnya seringkali terlupakan. Sekalipun sebenarnya ia merupakan bagian tak terpisahkan dari fenomena sosial sekaligus psikologis manusia.

     Baik kebencian atau cinta, ia dapat dengan mudah mempengaruhi perspektif dan bagaimana seseorang seharusnya berpikir atau bereaksi. Lebih buruk, perasaan emosional mempengaruhi bagaimana seseorang bertindak atau memutuskan segala sesuatu. Ia mempersempit sudut pandang dan seringkali menjadi alat yang ampuh mematikan nalar sekaligus empati manusia.

    Akumulasi dari kecacatan nalar, minim logika dan rasa cinta atau rasa benci yang berlebihan menjadi sumber masalah utama yang begitu sulit dilerai. Ia hanya berakhir di suatu tempat dalam pikiran manusia dan menjadi benang kusut yang bahkan oleh gerakan apapun seolah tak akan membawa hasil menggembirakan.

     Namun, sungguhkah tak ada cara bagi kita menyadarkan masyarakat yang dengan mudah diracuni ini?

     Jawaban atas pertanyaan ini ibarat meraba dalam gelap. Bila masyarakat sebagai satu pilar utama kehidupan sosial bermartabat, tak bisa diharapkan lagi pemikiran maupun tindakannya sebab telah melenceng jauh dari hakikat kebenaran, maka pemerintah menjadi tumpuan utama yang tersisa. Ia hal pertama yang datang dalam benak siapa saja, ketika pertanyaan dengan dampak besar dilontarkan.

    Namun, selama ini pemerintah terkesan tak begitu serius dalam menggalakan kampanye anti hoax. Ia hanya berkutat pada pengaduan kasus-kasus bersifat pidana yang menyasar pemerintah maupun instansi tertentu. Namun, ia sama sekali tak menyentuh akar masalah di mana masyarakatlah sesungguhnya yang bertindak sebagai pihak yang paling rentan menjadi penyebar, pembikin, sekaligus juga korban informasi palsu. Namun, fakta ini ditenggelamkan dengan menggunakan senjata hukum berupa rasa takut.

    Efek kejut dari hukuman penjara selalu dinilai paling mujarab. Ia bagaimanapun menjadi sisa masa lalu kehidupan otoriter yang mencengkram seluruh dunia, di mana hanya sedikit atau bahkan mungkin tak pernah ada yang berhasil keluar dari sifat otoritarian. Sama dengan kemustahilan bagi manusia untuk keluar sepenuhnya dari kebodohannya.