Dalam tujuh pertandingan awal Liga Utama Inggris, Manchester United kini terjerembab di peringkat 10 klasemen sementara. Mereka hanya sanggup memenangkan tiga pertandingan dan hanya mencatat clean sheet sekali. Setan Merah sudah kalah tiga kali dan sekali seri.

Sebagai perbandingan, Leicester City hanya kalah tiga kali saat juara di musim 2015/2016. Chelsea cuma kalah lima kali saat mereka juara pada musim 2016/2017. Bila memakai standar Chelsea, deposit kekalahan MU tinggal dua kali, bila masih mau juara. Target yang hampir tidak mungkin tercapai.

Nasib Jose Mourinho kini sedang diujung tanduk. Isu pemecatan mantan pelatih FC Porto tersebut berhembus kencang. Zinedine Zidane dan Antonio Conte adalah dua calon pengganti yang paling santer diberitakan.

Zidane dan Conte adalah pelatih-pelatih juara yang sedang lowong saat ini. Awal musim ini, Zidane mundur dari Real Madrid. Sedangkan Conte dipecat Chelsea. Ada juga nama Laurent Blanc. Namun namanya masih lemah terdengar.

Selain Mourinho, telunjuk kesalahan juga ditudingkan kepada Ed Woodward, wakil kepala eksekutif MU. Woodward dianggap bertanggung jawab atas kegagalan operasi transfer MU. Nama Giuseppe (Beppe) Marotta, mantan CEO dan direktur umum Juventus, pun muncul sebagai pengganti.

Di luar urusan transfer, The Red Devils sedang mengalami masalah teknis permainan dan persoalan harmoni tim. Dalam urusan teknis, pertahanan dan lini serang MU, menjadi biang kerok. Rumor perseteruan Mourinho melawan pemain ikut memanaskan situasi.

Problem Teknis 

Pertahanan Manchester United musim ini menjadi titik lemah. Mereka kedodoran saat mengantisipasi serangan balik lawan dan umpan tarik. Di area berbahaya, mereka bertahan dengan jorok. Wajar saja bila lawan memanfaatkan itu.

Gol tendangan bebas Pascal Gross (44’) yang memenangkan Brighton Halve & Albion (BHA) tepat di depan kotak penalti adalah contohnya (19/8). Keteledoran umpan balik Lindelof pada De Gea yang gagal dimanfaatkan Delle Alli (66’) saat Tottenham  menang di Old Trafford (27/8) juga menunjukkan kelengahan bek MU.  

Namun sisi sayap lini belakang yang menjadi titik terlemah MU. Dua gol BHA pertama (25’ dan 27’) dimulai dari serangan pada sisi kanan sayap MU. Sementara gol Lucas Moura saat MU kalah dari Spurs dan gol Felipe Anderson saat West Ham membantai MU 3-1, berawal dari serangan pada sayap kiri MU.  

Di lini serang pun MU bermasalah. Problem MU secara umum di lini ini adalah sering terjebak offside dan tumpulnya penyelesaian akhir. Romelu Lukaku adalah top skor offside Liga Inggris sementara, bersama Andrey Gray dari Watford, (10). Sedangkan Alexis Sanchez sudah terjebak offside empat kali.

Tumpulnya penyelesaian akhir terlihat mencolok dalam pertandingan melawan Tottenham. Romelo Lukaku yang  sudah melewati kiper Hugo Lloris, masih gagal mencetak gol (16’). Hingga tujuh pertandingan, Lukaku baru mencetak empat gol. Sedangkan Alexis Sanchez belum mencetak gol sama sekali. Padahal, keduanya striker andalan MU.

Problem Psikologis Tim

Saat ini, Paul Pogba digosipkan sedang memimpin perlawanan menentang Jose Mourinho. Andreas Pereira, Anthony Martial, Luke Shaw dan Marcus Rashford berada di belakang Pogba. Eric Bailly yang jarang dimainkan juga sedang resah.

Pogba memang pernah mengkritik taktik Mourinho. Menurut Pogba, MU harus lebih menyerang dan menekan lawan. Gelandang juara dunia bersama timnas Prancis itu juga menekankan MU perlu punya banyak variasi permainan.

Menurut Pogba, bermain lebih menyerang, menekan lawan dan menerapkan banyak variasi permainan akan lebih memudahkan pemain. Dari luar, Mourinho tampak tidak bermasalah. Namun, ia mencopot ban wakil kapten MU dari lengan Pogba. Alasannya, otoritas. Ia adalah pelatih yang mengangkat dan mencopot ban wakil kapten Pogba.

Sekarang, Nemanja Matic, Ashley Young dan Romelo Lukaku menjaga jarak dari Pogba. Rumor belum berhenti setelah Fellaini menyatakan para pemain mendukung Mourinho. Wibawa mantan pelatih Real Madrid tersebut sedang dipertaruhkan saat ini.

Zidane atau Conte?

Melihat problem teknis di lini belakang dan depan, bila akan mengganti Mourinho, MU perlu memperhatikan rekam jejak calon manajer yang terbukti kompetensinya menyelesaikan lubang di lini belakang dan ketumpulan di lini depan.

Selama tiga musim berturut-turut meraih scudetto Serie A, Juventus asuhan Antonio Conte hanya kebobolan 20 gol (2011/2012), 24 gol (2012/2013) dan 23 gol (2013/2014) dari 38 pertandingan. Pertahanan Juventus polesan Conte adalah yang terbaik di Serie A selama tiga musim berturut-turut.

Sedangkan kemampuan Zidane mengorganisir pertahanan patut dipertanyakan. Musim 2017/2018 lalu, kala Madrid berada di peringkat ketiga klasemen akhir La Liga, Los Blancos kebobolan 44 gol dari 38 pertandingan. Sedangkan juara liga Barcelona kebobolan 29 gol dan runner up Atletico Madrid kemasukan 22 gol.

Saat menjadi juara La Liga musim 2016/2017 pun, pertahanan Madrid sudah bobrok. Mereka kebobolan 41 gol. Paling banyak dibanding seluruh juara di lima liga besar Eropa. Kalah jauh dibanding Bayern Munich (22), Juventus (27), AS Monaco (31) dan Chelsea (33).

Memang, Zidane dapat menjanjikan permainan atraktif bila melatih Manchester United. Musim 2016/2017, Madrid mencetak 106 gol di La Liga. Pada musim yang sama, MU hanya bisa mencetak 54 gol. Musim 2017/2018 saat Madrid menyarangkan 94 gol ke gawang lawan, MU mencetak 68 gol.

Sebaliknya, catatan gol tim Antonio Conte belum pernah impresif. Rekor total gol tertinggi Conte saat menjuarai liga hanya 86. Torehan itu diperoleh bersama Chelsea musim 2016/2017. Namun, pertahanan yang kuat, memastikan tim tidak kehilangan angka. Sehingga jumlah gol yang wajar saja cukup membawa pulang titel juara. Itulah modal utama Conte.

Bila melihat lubang besar di pertahanan MU musim ini, Zidane tampaknya bukan pilihan tepat untuk mengatasi masalah lini belakang Manchester United. Walaupun Zidane menjanjikan sepakbola menyerang. Isu yang sering dipermasalahkan para fans MU, sejak Setan Merah ditangani Mourinho.

Sebaliknya, Conte memang tidak bisa menjanjikan sepakbola menyerang. Namun, ia bisa mempertebal tembok di lini belakang MU. Bermodal lini belakang yang kokoh, MU bisa kembali menjuarai Liga Utama Inggris bersama Conte. Seperti pada masa Sir Alex Ferguson.

Zinedine Zidane memang pelatih juara. Ia mempersembahkan hattrick Liga Champions dan sekali juara La Liga untuk Real Madrid. Pria asal Prancis itu juga berpengalaman menangani tim di tengah musim kemudian mengubahnya menjadi tim juara.

Zidane menggantikan Rafa Benitez yang dipecat Real Madrid pada pertengahan musim 2015/2016. Di akhir musim, Real Madrid menjuarai Liga Champions dan berada di peringkat kedua La Liga. Dari sisi ini, Zidane punya curriculum vitae cukup meyakinkankan bila menggantikan Mourinho di pertengahan musim.

Zidane juga punya manajemen personal yang mumpuni. Ia memahami betul cara membuat pemain menghormati dan menurutinya. Ia juga jeli memahami kondisi psikologis pemain. Sebagai mantan kapten, Zidane menguasai cara meledakkan semangat pemain.

Bila Zidane ditunjuk menggantikan Mourinho, ia punya modal pendekatan psikologis yang baik untuk menyelesaikan masalah harmoni di ruang ganti MU. Kharisma Zidane terbukti sukses mengendalikan ego bintang Madrid seperti Ronaldo, Bale, Pepe dan Ramos. Bukan tidak mungkin wibawa Zidane akan menjinakkan ego Pogba, Lukaku dan bintang MU lain. 

Namun, Zidane pernah menjadi pelatih asisten Carlo Ancelotti dan pelatih tim junior di Real Madrid. Ia pun pernah bermain untuk Madrid. Saat ditunjuk melatih Real Madrid dalam keadaan darurat, Zidane mewarisi skuad yang pernah dilatih olehnya saat menjadi asisten.  Ronaldo, Bale, Benzama, Modric dan Ramos, contohnya, adalah pemain yang sudah dikenalnya.

Sedangkan, tidak ada satupun pemain MU yang pernah bekerja sama dengan Zidane. Asumsi maksimal, Zidane akan cepat berinteraksi dengan para pemain berbahasa Prancis, seperti Lukaku, Pogba, Martial dan Fellaini serta pemain berbahasa Spanyol, seperti Herrera, Mata dan De Gea.

Zidane belum pernah bermain dan melatih di Liga Inggris. Ia tentu memerlukan masa adaptasi yang berbeda jika ditunjuk menggantikan Mourinho di pertengahan musim. Pengalaman Zidane pun hanya pernah melatih satu klub di satu kompetisi. Ia belum pernah melatih klub lain di luar Spanyol.

Sebaliknya, Antonio Conte lebih berpengalaman sukses. Bersama Juventus ia mempersembahkan tiga scudetto beruntun sejak musim pertama. Pindah ke Inggris, ia langsung memberi Chelsea gelar liga Inggris di musim pertama.

Walaupun dipecat di akhir musim 2017/2018, Conte masih mewariskan Piala FA bagi Chelsea. Mantan pelatih timnas Italia itu jelas lebih mengenal liga Inggris dibanding Zidane. Di tengah tim yang bermasalah dan mengalami penurunan penampilan, Conte masih mampu memberikan titel juara.

Bila ditunjuk menggantikan Mourinho, Conte akan bertemu dengan Paul Pogba dan Nemanja Matic. Pogba menjadi bintang setelah dipoles Conte saat di Juventus. Sedangkan Matic menjadi tulang punggung Conte saat Chelsea juara liga dua musim lalu. Penjualan Matic ke MU awal musim 2017/2018 lalu, sebenarnya tidak disetujui Conte.

Wakil Kepala Eksekutif

Pada awal musim ini, Mourinho telah menyerahkan lima nama pemain untuk memperkuat komposisi skuad. Namun, yang didatangkan hanya tiga. Yakni, Fred, Diogo Dalot dan Lee Grant. Tak pelak lagi, kesalahan diarahkan pada Ed Woodward, wakil kepala eksekutif MU. Ia bertanggung jawab atas operasi transfer Manchester United

Sementara, di Italia, masa bakti CEO dan Direktur Umum, Giuseppe Marotta, tak diperpanjang Juventus. Marotta sukses mendatangkan pemain tulang punggung tim seperti Arturo Vidal, Stephen Lichsteiner, Carlos Tevez, Andrea Pirlo dan Paul Pogba. Ia arsitek di balik dominasi Juventus di Italia selama tujuh musim beruntun.

Bandingkan dengan Ed Woodward. Ia sudah gagal mendatangkan pemain-pemain penting seperti Milan Skriniar, Kalidou Koulibaly, Robert Lewandowski, Gareth Bale, Harry Maguire, Toby Alderweild, Matt Hummels, Jerome Boateng dan Thiago Alcantara sejak bertugas pada 2013. 

Namun bukan hanya MU yang tertarik dengan Marotta. Gabriel Gravina, kandidat presiden FIGC (federasi sepakbola Italia) tertarik menunjuk Marotta sebagai kepala Club Italia. Tugasnya, mengkoordinasi masalah medis, pencarian bakat, analisis pertandingan serta penampilan dan penelitian untuk timnas Italia.

Steven Zang, kepala perwakilan Sunning Group di Milan, dikabarkan bertemu Beppe Marotta. Pertemuan terjadi selema beberapa hari. Sunning Group sebagai pemilik Inter Milan, kabarnya, mendiskusikan cara membuat Inter menjadi kompetitif lagi di Serie A dan Eropa dengan Marotta.

Arsenal pun, kabarnya, tertarik menunjuk Beppe Marotta sebagai CEO. Posisi tersebut sedang lowong. Ivan Gazidis, CEO Arsenal sebelumnya, pindah ke AC Milan akhir Oktober ini. Tepat di saat yang bersamaan, Marotta resmi lowong. Dengan demikian, Marotta bisa langsung bertugas di London Utara.

Tuttosport melaporkan, Manchester United tertarik mendatangkan Giuseppe Marotta dan Antonio Conte. Bila kabar itu benar, MU harus benar-benar serius merekrut Marotta. Di tangan Marotta, MU bisa mendapatkan pemain-pemain terbaik sesuai kebutuhan manajer.

Duet Conte-Marotta

Berdasarkan rekam jejak teknis, Conte lebih cocok menggantikan Mourinho. Conte berpeluang memperbaiki masalah pertahanan MU. Zidane belum punya resep meyakinkan menutup lubang di lini belakang MU. Zidane memang bisa menjanjikan permainan atraktif menyerang. Tapi bukan itu kebutuhan mendesak MU saat ini.

Dari sisi sentuhan psikologis, baik Zidane maupun Conte sama-sama andal untuk memastikan  kekompakan tim. Mereka berdua hanya berbeda gaya. Bila Zidane dikenal sebagai motivator yang ramah, maka Conte terkenal sebagai penyemangat yang meledak-ledak.

Namun dari sisi pengalaman, Conte menang telak dibanding Zidane. Zidane belum pernah melatih tim selain Real Madrid. Ia pun belum pernah bermain dan melatih di Inggris. Sedangkan Conte sudah dua musim meraih gelar di Inggris. Ia sudah menjadi juara di Italia dan Inggris.

Jika Mourinho dipecat di tengah musim berjalan, Conte dapat menjanjikan reorganisasi tim yang lebih cepat. Ia telah memahami Liga Inggris. Ada Pogba dan Matic yang sudah pernah bekerja di bawah Conte, sebelumnya.

Namun mengganti manajer saja tidak cukup. Manajer sehebat apapun tidak dapat optimal bekerja kalau operasi transfer tidak maksimal. Guna mewujudkan permainan yang meyakinkan, manajer terbaik harus mendapat pemain-pemain yang sesuai. Oleh karena itu, MU perlu mengganti Ed Woodward dengan Beppe Marotta.

Duet Marotta dan Conte telah terbukti sukses di Juventus. Mereka sudah mempersembahkan tiga scudetto. Bila Manchester United berhasil merekrut mereka berdua, stadion Old Trafford akan kembali menjadi theatre of dream.

Sumber:

https://www.calciomercato.com/en

https://www.football-italia.net/

www.mirror.co.uk

https://www.premierleague.com/matchweek/3267/blog

https://www.skysports.com/football

https://www.whoscored.com/