Sekitar abad ke-12 Masehi, terdapat sebuah pelabuhan besar yang amat sibuk. Menjadi tempat bersandar setiap kapal dari belahan dunia lain, seperti Tiongkok, Jepang, India Selatan, hingga Timur Tengah, pelabuhan tersebut terletak di sebuah kota besar, yang kelak menjadi ibu kota sebuah negara yang bernama Indonesia, yakni Jakarta.

Jakarta sedari dulu tak pernah bisa lepas dari lampu sorot, memiliki pelabuhan yang menjadi pusat perdagangan, hingga menjadi ibu kota sebuah negara, Jakarta selalu terlihat seksi dan mengundang untuk dikunjungi.

Tak heran jika kini Jakarta dianggap sebagai pusat peradaban di Indonesia. Jakarta seakan terus menunjukkan kehebatannya lewat kerlap kerlip lampu jalanan yang mewah, gedung-gedung saling berlomba untuk jadi yang paling tinggi, hingga keriuhan festival musik yang saban minggu hadir di Jakarta.

Selain itu muda-mudi di Jakarta tampak hebat betul mengenakan pakaian modis dengan lanyard yang menggantung di leher. Berbicara lantang dengan perpaduan bahasa Indonesia dan Inggris kerap kali muncul di fyp Tiktok.

Hal tersebut lantas membuat anak daerah merasa harus untuk menjadi Jakarta, baginya bergaya ala orang-orang Jakarta tampak akan lebih hebat.

Daerah dalam hal ini sebuah tempat selain Jabodetabek tampaknya kerap kali cemburu dengan privilege yang dimiliki oleh Jakarta. Mereka yang merasa menjadi bagian dari Jakarta sejak kecil akan selalu menganggap orang dari daerah lain sebagai anak daerah.

Wajar jika anak-anak di daerah merasa harus untuk mengejar mimpi di Jakarta, sebagian perusahaan besar di Indonesia berpusat di kota ini, pun dengan segala macam hiburan semua tersedia lengkap di sini.

Akhirnya timbul sebuah pertanyaan, apakah Jakarta hanya tampak menawan dari sisi hiburan?

Mari kesampingkan dahulu sebuah kenyataan bahwa beberapa orang pergi ke Jakarta untuk mengejar karir, bukan untuk bekerja di sebuah tempat agar bisa dibuatkan konten (kalimat terakhir mungkin bisa terjadi mengingat banyak hal gila dilakukan seseorang hanya untuk sebuah konten).

Gaya hidup anak muda saat ini seakan berkiblat pada Jakarta, Jakarta Selatan (Jaksel) bahkan kerap diolok-olok lantaran sering menjadi gaya hidup yang banyak ditiru anak daerah.

Kosa kata 'lo' dan 'gue' kini bahkan sudah akrab diucapkan oleh orang-orang yang bahkan tinggal di luar Jawa.

Belum lagi soal pencapaian hidup, berkat sosial media, kerja di startup jadi idaman banyak anak daerah lantaran bisa kerja dengan pakaian bebas dan lagi-lagi demi sebuah lanyard di leher yang mungkin akan terlihat menarik saat berpose selfie.

Jika memang yang terjadi demikian, kesimpulan yang bisa diambil hanyalah obsesi anak daerah terhadap Jakarta hanyalah sebatas hiburan dan gaya hidup semata.

Mari menilik kenyataan lain dari Jakarta.

Baru-baru ini, Jakarta memiliki identitas baru, sebuah identitas yang bahkan tidak bisa dimiliki oleh kota-kota di negara lain. Jakarta resmi jadi kota yang memiliki kualitas udara paling buruk di dunia.

Berdasarkan data pada hari Senin (20/6/2022) pukul 07:33 WIB, udara di Jakarta mengandung konsentrasi PM 2.5, atau 27 kali lebih tinggi dari nilai pedoman kualitas udara tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Catatan IQ Air menunjukkan AQI US Jakarta berada di angka 196 yakni kategori kualitas udara tidak sehat.

Anak-anak muda yang memandang Jakarta hanya sebatas gaya hidup semata tentu tidak akan khawatir dengan masalah ini. Orang tua yang berkali-kali memimpikan ketenangan hidup kini kembali terancam ketenangannya lantaran kualitas udara yang kian tidak ramah.

Selain itu The Economist Intelligence Unit pada tahun 2021 pernah merilis daftar kota-kota yang aman di dunia. Jakarta menempati urutan ke-46 dengan skor 56,4. Jakarta bahkan kalah aman dari kota Ho Chi Minh City di Vietnam yang memperoleh skor 58,5 dan Johannesburg di Afrika Selatan dengan skor 56,2.

Jangan lupa bahwa Jakarta adalah kota dengan penduduk paling banyak di Indonesia, maka kemacetan tentu menjadi bagian tak terpisahkan dari sebuah kota dengan titel penduduk terbanyak.

Pada tahun 2021 terdapat sebuah laporan dari Hiyacar, sebuah platform car-sharing asal Inggris. Pada laporan tersebut, Jakarta masuk dalam daftar kota paling stres untuk mengemudi di dunia.

Di tahun yang sama Jakarta kembali mendapatkan julukan baru sebagai kota dengan tata kota paling buruk sedunia. Media arsitektur, Rethinking The Future (RTF) merilis sebuah tulisan yang berjudul "10 Examples of Bad Urban City Planning" atau "10 Contoh Kota dengan Perencanaan Paling Buruk," dan Jakarta menjadi juaranya.

Melihat semua kenyataan ini maka saya tidak akan heran bila sebagian kawan-kawan saya yang sedari kecil menghabiskan hidup di Jakarta begitu mendambakan hidup di daerah dengan pemandangan pohon-pohon serta hamparan sawah. Atau sebagian orang yang telah merencanakan masa pensiun di pedesaan akan saya anggap mafhum.

Sayang sebagian dari kita saat ini kerap mengeksploitasi Jakarta dengan hanya melihatnya sebagai pusat gaya hidup dan hiburan semata. Sehingga jadi mengesampingkan aspek lain yang juga penting, barangkali kita harus mengubah sudut pandang kita terhadap Jakarta, dan mulai mengubah segala bentuk gaya hidup dan tentu saja kontribusi pemerintah daerah.

Akhir kata, Jakarta juga berhak untuk dilihat sebagai kota yang paling tidak aman dan nyaman untuk bisa ditinggali.

Baca Juga: Aku dan Jakarta