1 tahun lalu · 697 view · 7 min baca · Filsafat 36496_58035.jpg

Mengapa Kita Perlu Mempelajari Definisi?

Ngaji Mantik Bag. 28

Dunia keseharian kita tak jarang diwarnai dengan ragam diskusi dan perang kata baik yang melibatkan orang-orang biasa, ulama, maupun tokoh-tokoh bangsa yang kerap menghiasi layar kaca.

Diskusi dan perdebatan yang berlangsung itu kadang membangun dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, tapi tak jarang juga berujung dengan percekcokkan tidak jelas yang diwarnai dengan amarah dan kata-kata penuh laknat.

Di antara sebab yang paling berperan besar dalam menyuburkan tradisi berdebat yang tidak sehat itu ialah kesalahpahaman. Atau, lebih jelasnya, ketidakmauan untuk saling memahami.

Seringkali orang berdebat tentang suatu persoalan, tapi mereka sendiri belum mampu memperjelas dan mempersamakan tafsiran mereka tentang istilah-istilah kunci yang sedang mereka perdebatkan itu.

Misalnya, sebagai contoh, beberapa bulan belakangan ini kita pernah terlibat dalam perdebatan serius soal khilafah, yang kemudian berakhir dengan pembubaran salah satu ormas yang mengusung ide tersebut.

Satu kelompok memandang bahwa ide khilafah itu bertentangan dengan pancasila dan konsep negara bangsa. Namun, kelompok lain meyakini bahwa mendirikan khilafah itu justru perintah Agama, sekaligus solusi nyata bagi problem kemanusiaan yang melilit negeri kita.

Karena itu, tidak heran kalau mereka pun mati-matian memperjuangkan ide tersebut. Karena bagi mereka memperjuangkan khilafah itu sama dengan memperjuangkan Islam.    

Tapi, yang kadang terasa lucu, ketika diajukan pertanyaan: apa itu khilafah? Masing-masing mengemukakan jawaban yang berbeda-beda. Dan jawaban-jawaban yang dikemukakan itu kadang tidak merujuk pada satu kaidah jelas yang bisa dipertanggungjawabkan secara rasional.


Pada akhirnya, masing-masing berbicara tentang khilafah sesuai dengan gambaran dan tafsiran yang ada di kepalanya. Karena tafsiran mereka atas khilafah itu berbeda, maka konklusi yang mereka jadikan rujukan tidaklah sama.

Perdebatan semacam ini tak ubahnya seperti dua orang yang sedang berjalan menuju satu tujuan—yang mestinya ditempuh dengan satu jalan—tapi masing-masing dari mereka memiliki panduan dan peta perjalanan yang berbeda-beda.

Artinya, mereka berdua tak akan sampai. Padahal, diskusi dan perdebatan itu seharusnya dapat mengantarkan kita pada kebenaran, bukan dijadikan jalan untuk menyesatkan apalagi menjatuhkan lawan.  

Prinsip yang sama berlaku ketika kita ingin mendiskusikan persoalan-persoalan lain selain khilafah. Misalnya beberapa bulan belakang ini kita juga dihebohkan dengan istilah Islam Nusantara. Banyak yang setuju dengan istilah tersebut, tapi tak sedikit juga yang menolak.

Terlepas apakah kita berada di barisan pertama, atau berada di barisan kelompok kedua, sebelum kita memeras kepala untuk mendiskusikan Islam Nusantara, tentu pertanyaan yang pertama kali harus kita jawab ialah: Apa itu Islam Nusantara? Karena tanpa menjawab pertanyaan tersebut, apapun yang akan kita diskusikan tentang Islam Nusantara hanya akan berakhir secara sia-sia.

Sebagian orang, misalnya, ada yang mengartikan Islam Nusantara sebagai Islam yang damai, Islam yang toleran, Islam yang terbuka, Islam yang tidak tekstualis, Islam yang moderat, Islam yang tidak ekstrem kanan, juga tidak ekstrem kiri, dan lain sebagainya.  

Tapi, hemat saya, itu bukan definisi yang tepat. Karena atribut dan sifat-sifat di atas bukan hanya dimiliki oleh Islam yang diikuti dengan kata Nusantara itu. Artinya, tanpa harus disertai dengan kata Nusantara pun, ajaran Islam pada dasarnya memang begitu. Mengajarkan toleransi, kedamaian, keterbukaan, moderatisme, dan lain sebagainya.

Definisi yang mungkin bisa kita terima dari para penggagas Islam Nusantara itu ialah “Islam yang diatribusikan dengan budaya nusantara”. Kata Islam menjadi jins (genus), dan kalimat selanjutnya diposisikan sebagai khasshah (proper aksiden).

Dengan demikian—seperti kata mereka—Islam Nusantara bukanlah mazhab baru dalam Islam, melainkan hanya corak keberislaman yang disenyawakan dengan kebudayaan nusantara.

Dan jika yang dimaknai itu demikian, maka sepenuhnya saya pun setuju dengan ide tersebut. Tidak ada masalah. Dan, saya kira, orang-orang yang menolak gagasan Islam Nusantara pun akan setuju dengan ide tersebut. Karena pada dasarnya Islam sendiri tidak menolak adanya budaya lokal, selama itu tidak bertentangan dengan nilai-nilai Agama.

Hanya saja, yang menjadi persoalan, masing-masing dari pihak yang berdebat itu menghukumi istilah Islam Nusantara dengan definisi dan tafsiran yang ada di kepalanya. Tidak peduli apakah definisi itu tepat atau tidak. Padahal definisi itu mestinya dibangun di atas kaidah yang benar.

Anda bisa bayangkan, betapa kacaunya diskusi dan percakapan intelektual kita jika setiap orang bebas sebebas-bebasnya dalam menggunakan istilah-istilah tertentu dengan definisi yang tidak jelas rumusannya. Dan itu sering terjadi.


Tidak heran kalau saban hari kita menyaksikan diskusi dan perdebatan yang tidak jelas, karena memang kita sendiri tidak begitu peduli dengan ketepatan definisi dari istilah-istilah yang kita perdebatkan. Padahal itu sangat penting. Dan karena ia sangat penting, maka mempelajari kaidahnya juga penting.  

Nah, yang jadi pertanyaan kita sekarang ialah: Dari mana kaidah itu bisa kita pelajari? Bagaimana caranya agar kita mampu membedakan mana definisi yang cacat, dan mana definisi yang tepat? Di sinilah pentingnya ilmu logika.

Salah satu pembahasan penting dalam ilmu mantik—seperti yang pernah saya singgung dalam tulisan pertama—ialah pembahasan mengenai ta’rif, atau definisi—di samping pembahasan-pembahasan lainnya, yang juga tidak kalah penting.

Dalam pembahasan mengenai ta’rif ini kita diperkenalkan dengan beberapa kaidah. Sebagian besar kaidah tersebut sudah penulis jelaskan dalam 27 tulisan sebelumnya.

Kaidah ini akan selalu kita butuhkan. Bukan hanya dalam konteks diskusi atau perdebatan ilmiah, tetapi ia juga dibutuhkan ketika kita ingin mengakses ilmu-ilmu yang lain.

Apapun jenis ilmu yang kita kaji—entah itu ilmu tafsir, hadits, fikih, teologi, sosiologi, politik, dan ilmu-ilmu lainnya—kita pasti akan selalui dihadapkan dengan istilah-istilah tertentu yang maknanya masih samar sehingga membutuhkan uraian dan penjelasan.

Nah, tumpukan istilah yang terserak dalam berbagai disiplin ilmu itu hanya bisa diperjelas oleh definisi. Dan, sekali lagi, kaidah mengenai definisi itu hanya dibahas dalam ilmu mantik. Tidak ada ilmu yang memiliki perhatian besar tentang hal ini kecuali ilmu mantik.

Karena itu, ilmu ini sudah selayaknya mendapatkan perhatian. Setidaknya ia sangat berguna untuk mendinginkan suasana keseharian kita yang kerap dihiasai oleh perdebatan-perdebatan yang tidak jelas itu. Di samping ia juga bermanfaat untuk memahami istilah-istilah tertentu yang terserak dalam berbagai macam disiplin ilmu.   

Bahkan tidak hanya sampai di situ. Pembelajaran tentang definisi ini juga sangat kita perlukan hatta dalam kehidupan beragama. Saya beri contoh sederhana. Kalau sekarang Anda sebagai seorang Muslim. Kemudian, misalnya, di suatu waktu ada orang non-muslim bertanya tentang Agama Anda: “Eh, Islam itu apa sih? Definisi Islam itu apa? Coba jelasin donk!”

Kira-kira Anda mau jawab apa? Bagaimana caranya membangun definisi yang benar tentang Islam, yang dalam hal ini adalah Agama Anda sendiri? Bagaimana mungkin Anda menjadi seorang da’i Muslim yang menyebarkan ajaran Islam kalau Anda sendiri tidak tahu definisi yang tepat tentang Islam?

Sering kita temukan orang yang bilang bahwa Islam itu adalah Agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Di satu sisi mungkin itu benar. Tapi, kalau mau lebih teliti lagi, definisi tersebut sejujurnya kurang tepat. Dalam bahasa ilmu mantik, definisi itu bukan definisi yang jami’, karena dia tidak menghimpun seluruh individu yang tercakup oleh kata Islam.

Anggaplah sekarang definisi itu sudah benar. Tapi ingat, ketika Anda mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah seorang nabi, nanti orang lain akan bertanya:

“Oke, kalau memang dia itu nabi, sekarang coba jelaskan, apa itu nabi? Dan mengapa orang yang Anda yakini sebagai nabi itu layak disebut sebagai nabi? Apa bedanya dia dengan tokoh-tokoh besar dunia lainnya? Apa itu wahyu? Apa bedanya wahyu dengan intuisi? Apa itu al-Quran, apa bedanya al-Quran dengan hadits qudsi? Apa itu mukjizat? Dan lain sebagainya.

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini pasti akan kita jumpai, apalagi kalau kita sering berinteraksi dengan orang-orang non-muslim. Nah, pertanyaanya: Bagaimana kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam ini, kalau kita sendiri tidak tahu bagaimana caranya membangun sebuah definisi yang benar?

Karena itu, pada akhirnya, ilmu mantik itu pasti akan selalu kita butuhkan. Baik dalam diskusi keilmuan, maupun dalam percakapan kita sehari-hari, hatta dalam kehidupan beragama sekalipun.

Anda bisa bayangkan seperti apa nyamannya dunia ini jika semua orang menggunakan logikanya dengan benar sebelum mereka berucap, bersikap dan bertindak. Meski pun itu rasanya mustahil. Tapi, poinnya: ilmu logika itu sangat penting.  

Baca Juga: Ngaji Logika

Itulah salah satu alasan mengapa para ulama sering mengatakan bahwa ilmu mantik itu termasuk salah satu ilmu alat yang berguna untuk semua ilmu. Meminjam ungkapan Imam Tajuddin al-Subki, ilmu mantik merupakan “salah satu ilmu terbaik dan yang paling bermanfaat dalam segala bidang kajian” (min ahsan al-Ulûm wa anfa'ihâ fi kulli bahtsin).

Karena setiap ilmu pasti memiliki terma-terma tertentu yang membutuhkan uraian dan penjelasan. Penjelasan yang tepat hanya bisa dihasilkan melalui definisi. Dan definisi itu baru bisa kita bangun dengan benar kalau kita mempelajari ilmu mantik. Dengan demikian, kalau kita ingin merangkai sebuah definisi yang tepat, dan berpikir dengan benar, maka kita harus mempelajari ilmu mantik.

Setelah menguraikan masing-masing dari kulliyyat khamsah, sebagai unsur-unsur yang merangkai ta’rif, maka pada tulisan-tulisan selanjutnya kita akan memasuki pembahasan puncak dari bab tashawwurat, yaitu mengenai ta’rif itu sendiri, beserta contoh-contoh dan macam-macamnya. Sekian, wallahu ‘alam bisshawab.

Artikel Terkait