1 tahun lalu · 3366 view · 6 menit baca · Filsafat 68705_52395.jpg
www.mominoun.com

Mengapa Kita Perlu Belajar Ilmu Mantik?

Ngaji Mantik (Bag. 1)

Ketika pertama kali bersentuhan dengan Ilmu Mantik, saya tidak pernah tahu sejauh mana urgensi dan relevansi ilmu tersebut dalam konteks kehidupan kita sehari-hari. Di Pesantren, saya mengenal ilmu mantik hanya sebatas nama saja. Soal apa yang menjadi pembahasan utama dalam ilmu tersebut, bagaimana kaitannya dengan ilmu-ilmu yang lain, dan apa relevansinya dalam konteks kehidupan nyata, saya tidak paham.

Yang menggelayut di kepala saya ketika itu ialah: Ilmu Mantik itu hanya sebatas ilmu yang mengawang-ngawang di atas udara saja; tidak ada relevansinya dengan realitas kehidupan umat manusia. Sama halnya dengan Ilmu Filsafat, atau Ilmu Matematika. Paling jauh, ilmu-ilmu semacam itu hanya sekadar untuk olah nalar saja.

Beda halnya dengan Ilmu al-Quran, Hadits, Fiqh, Tasawuf dan ilmu-ilmu keislaman lainnya. Manfaatnya jelas. Di samping manfaatnya jelas, kategori ilmu yang kedua ini erat kaitannya dengan agama yang kita peluk. Sementara Ilmu Mantik? Filsafat? Apa kaitannya dengan agama kita? Apalagi ilmu tersebut tidak pernah dikenal di zaman sahabat. Kalau generasi awal yang dijunjung tinggi oleh Nabi saja tidak mengenalnya, untuk apa kita repot-repot mempelajarinya?

Begitulah kira-kira bayangan yang mendarat di atas batok kepala saya pada waktu itu. Namun, semakin ke sini saya semakin sadar bahwa ilmu yang dipelopori oleh Aristoteles ini ternyata sangat penting, bahkan—hemat saya—perlu untuk dipelajari oleh semua kalangan, termasuk mungkin orang awam.

Ya, sekalipun ada sebagian ulama yang melarang, tapi ulama lain juga ada yang mewajibkan, meski hanya wajib kifayah. Yang dilarang juga hanya bagian tertentu dan untuk kalangan tertentu. Tidak berlaku bagi semua orang.  

Lepas dari itu, pertanyaan yang sekarang harus kita jawab ialah: Mengapa ilmu ini harus kita pelajari? Jawaban singkatnya: Karena ilmu ini mengajarkan kita kaidah-kaidah berpikir yang benar. Ilmu ini mengajak kita untuk berpikir secara sistematik, terukur dan mendalam. Dengan mempelajari ilmu ini, kita dituntut untuk berpikir sebelum berucap, merenung sebelum bertindak, dan menelaah sebelum menghakimi orang yang berbeda paham.

Nalar semacam ini penting dibentuk karena kita semua tentunya sepakat bahwa kemajuan suatu bangsa atau negara tak mungkin bisa dicapai kecuali jika cara berpikir masyarakatnya sudah teratur dan terukur. Jika pola pikir mereka kacau, maka potret kehidupan yang ditampilkan pun pasti akan kacau. Dan itu sering kali kita saksikan.

Sebagai contoh sederhana, Anda tentu masih ingat dengan peristiwa Aksi Bela Islam satu tahun silam. Saya tak bermaksud untuk mengungkit-ngungkit kembali kisah masa lalu itu. Tapi coba Anda bayangkan, berapa banyak dana yang harus dikeluarkan untuk meletuskan peristiwa politis itu? Jawabannya tentu sangat banyak.

Bahkan, selain ongkos material, moralitas kita juga hampir terkuras. Dinding-dinding media sosial penuh sesak dengan ujaran kebencian. Sesama Muslim saling menghujat, saling mengafirkan, bahkan saling ancam-mengancam.

Anda tahu apa sebab utama dari itu semua? Ya, itu semua sebenarnya bukan hanya gara-gara Ahok yang diduga menista agama. Tapi itu semua adalah kesalahan kita yang terburu-buru dalam menghakimi orang. Semua itu bermula dari ketidakmampuan kita untuk mendudukkan terlebih dahulu makna atau definisi yang tepat dari istilah yang kita perdebatkan saat itu. 

Ketika itu, seperti yang kita ketahui, kita semua berdebat keras seputar penistaan agama. Ahok adalah penista al-Quran, Penista Agama, musuh Islam dan sebagainya. Tapi, jika ada yang bertanya: Apa itu definsi penista Agama? Apa yang dimaksud musuh Islam? Apa yang dimaksud al-Quran? Apa perbedaan antara al-Quran dan penafsiran atas al-Quran? Kadang kita sendiri menjawab seenaknya.

Pada akhirnya kita hanya berdebat mengenai sesuatu yang kita sendiri tidak mampu untuk memaknainya secara mendalam. Konsekuensinya, kita melihat potret kehidupan sosial yang tidak sehat. Alih-alih menampilkan wajah agama penuh rahmat, yang kita tampilkan justru adalah wajah agama yang mudah menaburkan kata-kata sesat serta laknat-melaknat.

Nah, persis pada titik inilah ilmu mantik itu diperlukan. Ilmu ini bukan saja memiliki kaitan erat dengan ilmu-ilmu yang lain, tapi juga memiliki relevansi yang kuat dalam konteks kehidupan sehari-hari kita. Setidaknya ada dua alasan mengapa kita perlu untuk mempelajari Ilmu ini. 

Pertama, seperti yang saya kemukakan di awal, selama ini kita sering kali terjebak pada debat kusir yang kontra-produktif bahkan kerap menimbulkan kerusuhan dan keresahan di lingkungan masyarakat luas. Perdebatan semacam itu biasanya bermula dari ketidakmampuan kita dalam merumusahan istilah-istilah kunci dari topik yang diperdebatkan. 

Misalnya, kita sering menuduh orang yang berbeda agama dengan sebutan kafir. Tapi sayangnya, kita sendiri tidak tahu apa definisi dari kata tersebut dan kepada siapa kata tersebut layak ditujukan. Kita juga kadang menuduh ulama tertentu dengan sebutan Syiah secara serampangan, padahal kita sendiri tidak tahu definisi Syiah itu apa dan oleh siapa saja sebutan tersebut layak disandang. 

Setiap ada orang yang membawa pikiran baru, dengan mudahnya kita melabeli yang bersangkutan dengan kata sekuler dan liberal. Tapi kalau ditanya "apa yang Anda maksud dengan dua kata tersebut?", biasanya kita juga menjawab seenaknya, tanpa harus repot-repot berpikir panjang.

Di saat negara-negara lain mengadopsi sistem demokrasi, kita malah ribut mengharamkan demokrasi. Padahal kalau ditanya apa itu demokrasi, dan mengapa ia bisa sesat? Lagi-lagi kita hanya bisa menyuguhkan jawaban seenaknya, tanpa peduli dengan kaidah-kaidah berpikir yang rasional dan dapat dipertanggungjawabkan. Contoh-contoh serupa saya kira cukup banyak.

Nah, ilmu mantik itu erat kaitannya dengan persoalan yang satu ini. Salah satu pembahasan penting dalam ilmu ini, misalnya, ialah pembahasan mengenai ta'rif, al-Qaul al-Syarih, atau definisi. Dalam bab ini kita diajarkan bagaimana caranya membangun definis yang tepat dan benar. Setelah sebelumnya kita disuguhkan bahasan pengantar seperti tashawwur-tashdiq, dalalah, pembagian lafaz, kulliyat khamsah, dan lain-lain. 

Dan ini sebenarnya sangat penting. Sebab, jika kita mampu memperjelas istilah-istilah yang sering kita perdebatkan itu, maka pembicaraan kita tentu akan lebih terarah. Dan jika pembicaraan kita terarah, maka diskusi dan perdebatan yang berlangsung pun tentu akan menghasilkan sesuatu yang baik dan bermanfaat.

Kedua, pembahasan kedua yang tak kalah penting dari ilmu ini ialah soal bagaimana caranya membangun qiyas (silogisme) yang benar. Qiyas atau silogisme ini sangat dibutuhkan, apalagi dalam pembahasan Ilmu Tauhid dan Filsafat. Tanpa memahami qiyasdengan benar, kita akan kesulitan dalam menalar argumen rasional yang terserak dalam kitab-kitab klasik Islam itu. 

Saya beri contoh yang sederhana. Membuktikan keberadaan Tuhan dengan akal. Bagaimana caranya agar kita sampai pada kesimpulan bahwa Tuhan itu ada, dan Dialah yang menciptakan alam semesta ini, dengan rumusan qiyas atau silogisme tadi? Dalam konteks ini, para teolog dan filosof Muslim, biasanya, menawarkan dua dalil. Pertama, apa yang disebut dengan dalil al-Huduts (dalil kebaruan alam). Kedua, dalil al-Imkan (dalil kemungkinan alam). 

Demi meringkas pembahasan, kita ambil dalil yang pertama, yakni dalil al-Huduts, sebagai contoh. Dalil tersebut biasanya dirangkai melalui rumusan sebagai berikut: 

Premis minor (al-Muqaddimah al-Shugra): al-'Alamu haditsun (alam itu baru, yakni ada dari tiada)

Premis mayor (al-Muqaddimah al-Kubra): wa kullu haditsin lahu muhdits (setiap yang ada dari tiada maka pasti ada yang mengadakan).

Konklusi (al-Natijah): al-'Alam lahu muhdits (alam ini ada yang mengadakan)

Contoh di atas mungkin terlalu sering kita jumpai dalam buku-buku tauhid dasar. Tapi, sekali lagi, ini hanya sekedar contoh. Rumusan yang sama akan kita butuhkan ketika kita ingin membuktikan bahwa Muhammad Saw itu Nabi, Mukjizat itu hal yang mungkin, Tuhan itu tak mungkin berbilang, hari kebangkitan itu bukan hal yang mustahil, minuman itu haram, makanan ini halal, dan persoalan-persoalan lainnya. 

Dan yang penting dicatat ialah: merangkai qiyas itu juga ada kaidahnya, tidak bisa sembarangan. Singkatnya, poros pembahasan kedua dalam ilmu mantik ini sangat berguna dalam membangun argumen yang kokoh dan mampu memuaskan nalar. 

Jika kita membaca buku-buku mantik yang agak sedikit tebal, pembahasan ilmu mantik itu sejujurnya tidak sesederhana itu. Tapi, setidaknya, melalui dua poin di atas kita akan sadar bahwa ilmu ini sangat penting dan harus kita pelajari.

Karena itu, tak heran jika sekelas Imam al-Ghazali, dalam salah satu bukunya, menegaskan bahwa orang yang tidak mempelajari ilmu mantik, kredibilitas keilmuannya patut dipertanyakan. Karena tanpa ilmu ini orang akan berpikir seenaknya, layaknya kaum sofis yang doyan membuat kerusuhan dan menyusahkan banyak orang.

Artikel Terkait