Ada adik tingkat penulis di kampus yang berdiskusi bahwa dirinya tidak pernah merasakan jatuh cinta sepanjang umurnya kini. Sepanjang hidupnya kini hanyalah soal karir dan kesuksesannya, soal prestasi dan sebagainya. Kemudian, di tengah perbincangan tersebut dia berkata: “Kenapa manusia harus jatuh cinta?”. Pertanyaan tersebut bukan pertanyaan yang original, karena jelas sudah ribuan tahun para filsuf dan ilmuwan menanyakan hal yang sama. Tapi, tetap itu adalah suatu pertanyaan yang menarik.

Jika kita bertanya kenapa seseorang bisa jatuh cinta, entah dengan mudahnya atau melalui proses pilih memilih yang ketat, tentu banyak sekali jawaban yang bisa diberikan. Berbagai macam mazhab pikiran, sudut pandang serta pencarian kebenaran memiliki jawaban yang beragam atas satu pertanyaan itu. Alangkah baiknya memang sebelum kita menjawab satu pertanyaan tersebut, kita mencoba memahami apakah sebenarnya cinta itu.

Cinta adalah sesuatu yang menggetarkan perasaan kita, membuat sanubari terdalam kita tumpang tindih dan jungkir balik. Cinta membawa kebahagiaan yang teramat tinggi dan adiluhung, namun juga bersamaan dengannya datang kepedihan dan kegetiran karena rasa rindu yang teramat sangat. Cinta memporakporandakan akal kita, namun membuai perasaan kita. Cinta adalah soal emosional yang teramat sangat, sehingga merasionalisasikannya sangat susah kecuali cinta mulai mereda dibandingkan awal-awal kita kasmaran.

Dari sini kita melihat bahwa cinta didasari oleh perasaan positif atas sesuatu atau seseorang. Perasaan ini pada dasarnya hanya muncul ketika menghadapi keindahan-keindahan. Saat kita menghadapi sesuatu yang menjijikkan, kotor, atau menyakitkan, tentu hati kita tidak akan menanggapinya dengan perasaan tersebut. Sehingga, dapat kita katakan bahwa cinta adalah menyoal estetika. Ada keindahan yang didapati dalam hal yang kita cintai. Keindahan inilah perlambang kebaikan dan kehidupan.

Kebudayaan sering kali tergambar dalam karya-karya manusia, seperti lukisan, patung, masakan, dan sebagainya, yang tentu indah-indah sifatnya. Karena manusia pada dasarnya hidup untuk keindahan dan kebaikan, maka itulah kenapa kita mencintai. Cinta adalah ekspresi penghargaan atas keindahan yang dimiliki pada sesuatu di luar dari kita. Seseorang yang mencinta dan tidak mencinta akan berbeda persepsi tentang suatu hal. Mereka yang mencinta akan menganggap sesuatu yang mereka cintai itu indah, meski yang tidak mencinta akan berkata sebaliknya. Artinya, bukan kesempurnaan yang mutlak yang membuat seseorang mencintai, tetapi mencintai menciptakan kesempurnaan atas sesuatu pada pikiran seseorang.

***

Dalam esainya, I and Thou, filsuf Martin Buber mengatakan bahwa keberadaan manusia di kehidupan ini terdiri atas dua keadaan, yakni keadaan yang bersifat I-It (Ich und Es) and yang bersifat I-Thou (Ich und Du). Hubungan yang pertama, yakni antara kita manusia (I) dengan segala sesuatu yang ada di sekeliling kita sebagai obyek yang bersifat terpisah dari diri kita (It). Sementara, yang kedua, yakni antara kita manusia (I) dengan sesuatu yang berada di luar dirinya, namun memiliki keintiman perasaan atasnya (Thou).

Ada perbedaan yang signifikan antara “itu” (It) dengan “dia” (Thou), yakni kita memersepsikan yang pertama sebagai benda yang terpisah dari kita baik secara perasaan ataupun jasmani, sementara pada yang kedua sebagai hal yang terpisah, di luar dari diri, namun kita memiliki afeksi atasnya. Pada benda seperti matahari, awan, batu, pohon, mobil, pakaian dan lain-lainnya, kita tidak memiliki perasaan yang mendalam atasnya. Kita mengapresiasi keindahan obyek-obyek kebendaan tersebut, baik yang bersifat  natural atau yang dari kreasi kita sendiri, namun tiada timbal balik perasaan itu kepada kita.

Keindahan yang muncul dari obyek mati yang alamiah atau hasil kreasi manusia datang dari kesempurnaan bentuk. Bentuk yang indah adalah bentuk yang sempurna, yang bersih dan tiada cacat. Kita mengapresiasi seseorang yang kita cintai dengan cara yang sama. Kita melihat pada orang yang kita sukai dan cintai sebagai sesuatu yang indah, sempurna dan tiada cacat, atau jika meminjam bahasa remaja tongkrongan komplek, “mantap dipandang”. Ini bukan obyektifisasi atas manusia, tapi memang itu adanya. Kita tertarik dengan seseorang pastilah pertama-tama karena penampilan fisiknya.

Akan tetapi, cinta melampaui ketertarikan fisik tersebut. Kita mencintai ketika kita merasakan hubungan emosional pada seseorang tersebut. Mungkin saja hubungan itu karena kesamaan pandangan dunia, kesamaan hobi dan minat atau kesamaan pengetahuan. Kita merasakan ada sesuatu yang istimewa pada orang tersebut dibandingkan orang lain. Di sinilah sesuatu yang berada di luar kita tersebut menjadi bagian dari kehidupan kita, namun tetap dalam keadaan yang terpisah. Terpisah secara jasmani, namun bersatu secara batin.

Proses mencintai itu seperti itu. Dari hubungan yang bersifat I-It menjadi I-Thou, dari sesuatu yang kita yang apresiasi secara fisik menjadi sesuatu yang memiliki hubungan secara batin dengan kita. Inilah kenapa kita yang jatuh cinta menjadi kasmaran bukan main-main. Bayang-bayang dan gambaran seseorang yang kita cintai mengambang di awang-awang, selalu kita ingat di manapun dan kapanpun. Kita tidak merindukan matahari yang terbit tiap pagi ataupun rembulan yang muncul di gelap malam, tapi kita akan selalu terbayang wajah sang kekasih, entah jauh atau dekat kehadirannya. Jika kita belum mencapai kegandrungan semacam ini, berarti itu belum cinta.

***

Erich Fromm dalam bukunya, Art of Loving, berusaha menjawab alasan kenapa seseorang mencintai. Manusia pada hakikatnya takut hidup sendiri dan tercerai dari orang-orang di sekitarnya. Cinta pertama kita adalah ibu kita, begitu dalil terkenal Freud yang disepakati juga oleh Fromm. Namun, seiring kita dewasa, kita memerlukan keterhubungan yang jauh lebih lagi, dengan masyarakat yang lebih luas dan lingkup yang jauh lebih besar. Dorongan untuk membangun keterhubungan inilah yang menjadi manusia sebagai makhluk sosial, menciptakan hubungan yang bersifat politik, ekonomi dan kebudayaan.

Keterhubungan dengan masyarakat yang lebih luas ini adalah bentuk yang paling dasar, namun itu belum cinta. Ini adalah hubungan yang bersifat I-It, karena antara kita dan masyarakat tidak ada keintiman perasaan di atasnya. Hubungan ini didasarkan pada kebutuhan untuk hidup, seperti untuk makan, pakaian dan persoalan-persoalan lainnya. Sebagai contoh, kita tidak membangun hubungan dengan tukang nasi goreng karena kita memiliki ikatan batin yang mendalam dengan dia, namun karena kita perlu mengatasi perasaan lapar kita.

Cinta melampaui hubungan yang semata-mata karena soal pemenuhan kebutuhan, dan memang seharusnya melampaui itu. Menurut Fromm, cinta itu melibatkan kegiatan memberi (giving), sehingga sudah tepat jika kita berkata bahwa cinta adalah soal berkorban. Kita berkorban bukan karena ingin sesuatu yang bersifat pemenuhan kebutuhan mendasar, seperti seks, makan dan sebagainya, pada orang yang kita cintai, akan tetapi karena kita ingin membahagiakan orang yang kita cintai.

Kenapa kita ingin membahagiakan orang yang kita cintai hingga ke titik kita melakukan sesuatu untuknya? Inilah yang disebut oleh Fromm sebagai “cinta dewasa” (mature love), di mana runtuh sudah dinding penyekat antara kita dan mereka, aku dan dia. Di sinilah cinta melampaui hubungan sosial yang biasa, dari I-It menjadi I-Thou. Kebahagiaan pasangan kita telah menjadi kebahagiaan kita, sehingga memberi sesuatu yang membahagiakannya, entah dalam bentuk perbuatan atau materi, tidak akan merugikan kita, malah akan membuat diri kita sendiri bahagia.

***

Kau tarik diriku dalam cinta dengan sekejap mata, 

Kau tunjukkan padaku bagaimana hari-hari yang manis.

Malam sebelumnya yang aneh, kini ku rasakan damai atasnya. 

Dan hidup yang bagaikan gurun (yang gersang) kini telah menjadi taman (yang subur). 

– Umm Kulthum, Alfi Layla wa Layla (Seribu Satu Malam)

Pengalaman mencintai dan dicintai pada diri manusia adalah pengalaman transendental sifatnya. Cinta melampaui soal-soal yang sepele dan mendasar, karena menjadikan dua orang individu yang terpisah, unik dan berbeda menjadi satu kesatuan namun tidak menghilangkan individualitas masing-masing. Cinta juga bukan juga sekadar soal yang bersifat ekonomis, yakni karena dasar pemenuhan kebutuhan semata.

Ketika ada seseorang yang mengatakan dia menikah karena memerlukan sosok yang dapat membantunya hidup, seperti membuatkan makanan (bagi laki-laki) atau mencarikan nafkah (bagi perempuan), maka hubungan itu bersifat ekonomis, karena soal hubungan semata. Begitu juga dengan mereka yang menikah atau berpacaran karena semata-mata tujuan pemenuhan nafsu seksual, itu juga menyangkut kebutuhan. Cinta tidak sesepele itu, namun ia jauh lebih lagi, lebih dalam dan lebih tinggi derajatnya.

Cinta tidak bisa dan tidak mungkin terbagi karena sifatnya yang intim dan timbal balik. Seseorang yang berselingkuh tapi tidak bisa berpisah dengan pasangannya yang sebelumnya akan berkata bahwa ia sama-sama mencintai kedua orang dalam hidupnya tersebut. Tapi, itu tidak mungkin. Tentu saja ada derajat kebutuhan pada masing-masing yang tidak bisa dipenuhi satu dengan yang lainnya yang membuat seseorang itu tidak bisa berpisah atau memilih. Jelaslah itu tidak mungkin cinta.

Tapi, bisa saja orang tidak bisa mencintai seperti itu, mungkin dia hanya perlu menikah karena pemenuhan kebutuhan saja. Dan, mungkin saja juga seperti adik tingkat penulis yang seperti di awal tulisan berkata bahwa ia tidak pernah mengalami perasaan jatuh cinta, tidak semua orang merasakan kedalaman perasaan itu. Mungkin mereka lebih merasa bahwa kebutuhan mereka bisa dipenuhi dalam bentuk hubungan-hubungan yang lebih sederhana atau tidak terlalu kompleks.

Inilah yang sebenarnya tidak orang sadari, bahwa semua hal yang kita kira itu cinta sebenarnya bukan cinta. Beberapa masih sebatas nafsu, beberapa lagi karena tanggung jawab dan lain sebagainya. Cinta ternyata lebih langka dan lebih dalam lagi sifatnya, makanya cinta itu sifatnya luhur. Untuk itulah, jika kita merasakan perasaan yang mendalam kepada seseorang, bersyukurlah karena itu cinta. Lebih indah dan lebih baik lagi ketika perasaan itu bersifat timbal balik.

Jika kita sudah merasakan pengalaman yang terakhir, cinta yang dewasa dan sesungguhnya, seperti yang dikatakan oleh Fromm, maka berbahagialah. Tidak semua orang mengalami itu. Dan lebih penting lagi, jika itu memang betul cinta, jagalah baik-baik perasaan itu, karena cinta menggerakkan kehidupan dan mendorong dua orang sekaligus secara berpasangan ke arah pengalaman dan pembelajaran hidup yang lebih baik dari sebelum-sebelumnya.***