Lebih baik memiliki cinta kemudian kehilangannya, dari pada tidak pernah memiliki cinta sama sekali— Groucho Marx

Tak ada topik yang begitu sering dibahas dalam sejarah manusia seperti cinta. Dalam sejarah, cinta adalah tema-tema yang begitu menginspirasi banyak hal. Ribuan karya seni, film, musik, buku, puisi atau tragedi, lahir karena cinta. Banyak monumen juga lahir dari cinta, sebagaimana banyak juga orang yang merelakan nyawanya untuk cinta..

Cinta adalah tema klasik, yang akan selalu mendapat tempat dalam sejarah perjalanan kehidupan manusia. kita mengenal karya-karya seperti Layla-Majnun, Romeo-Juliet atau Sayap-sayap Patah karangan Kahlil Gibran. Kita juga akrab dengan syair-syair cinta spiritual Jalaluddin Rumi. Monumen semacam Taj Mahal, Piramida di Mesir adalah bukti bahwa cinta telah menginspirasi umat manusia selama beribu-ribu tahun. Bahkan di zaman modern, kita menggandrungi begitu banyak karya-karya dalam bentuk musik, film dan puisi yang mengangkat tema cinta.

Mengapa ada cinta? Atau mungkin, mengapa manusia mencintai?

Kutipan dalam awal tulisan ini seolah ingin menegaskan, bahwa cinta adalah bagian dari diri dan jiwa manusia. meskipun pada akhirnya kita harus kehilangan, masih lebih baik dari pada kita tak pernah memiliki cinta sama sekali dalam hidup.

Ketika orang bertanya tentang Cinta, apa itu cinta? Itu adalah pertanyaan yang hingga hari ini tak pernah bisa dijawab atau dijelaskan dalam definisi dan pengertian-pengertian sempit. Cinta tak bisa didefinisikan, diartikan dalam bahasa-bahasa yang terbatas. Cinta tak juga bisa ditafsirkan, karena maasing-masing orang memiliki pengertian akan cinta. Memberikan definisi terhadap cinta, justru akan mengecilkan makna cinta itu sendiri.

Ada banyak macam bentuk cinta. Ada cinta dari orang tua kepada anak. Cinta antara sahabat. Ada juga cinta antara laki-laki dan perempuan. Ada cinta kepada Tuhan, yang sifatnya lebih spiritual. Banyak juga orang yang cinta terhadap harta benda, bahkan cinta terhadap pekerjaan. Cinta tidak bisa hanya dipersempit kepada hubungan antara laki-laki dan perempuan. Cinta adalah kecenderungan hati seseorang kepada orang lain atau kepada sesuatu. Kecenderungan itulah yang membuat kita kerap ingin selalu dekat, bersama-sama dan terkadang terus menyebut nama yang kita cintai.

Ketika orang tua mencintai anaknya, dia ingin terus berada dekat bersamanya, melihat wajahnya, bermain-bermain, bercanda dan akan ada rasa rindu ketika tidak berjumpa. Begitu pun halnya dengan rasa cinta antara suami-istri atau cinta antara sahabat. Ada pula cinta sebagaimana yang diajarkan oleh agama-agama.

Bagi remaja dan anak muda, tidak ada yang lebih indah selain pengalaman jatuh cinta. Pengalaman ini merupakan sesuatu yang ajaib terjadi di antara dua orang. Kita pasti pernah mengalami perasaan jatuh cinta ini; tertarik dengan orang lain, kemudian setiap saat kita teringat terus dengannya, ingin terus bersama. Dan ketika mengingat ini semua, kita merasa ada   energi yang membuat kita bahagia. Kadang kita merasa senang tanpa alasan. 

Ada perasaan ingin memiliki. Namun ketika keinginan kita tidak seperti yang diharapkan, kita kemudian kecewa dan merasa sedih. Kita merasa ada yang tidak beres. Kadang kita juga merasa sakit hati, ketika kehilangan cinta. Itu adalah hal yang wajar dan normal. Kita bahagia ketika bersama dengan orang atau sesuatu yang kita cintai, tapi kita juga akan rindu dan sedih ketika jauh dari orang yang kita cintai atau sesuatu yang kita cintai.

Tidak hanya cinta di antara lelaki dan perempuan, kita  bahkan bisa menemukan ajaran-ajaran tentang cinta dari agama-agama. setiap agama pasti memiliki ajaran tentang cinta. Dalam Islam, Jalaluddin Rumi adalah salah satu sufi yang terkenal karena ajarannya tentang cinta pernah berkata “Jika engkau bukan seorang pencinta, maka jangan pandang hidupmu adalah hidup”. 

Dalam Al-qur’an kita juga akan menemukan bahwa “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik”. (Ali Imran:14) 

Dalam Alkitab, ada ayat yang berbicara tentang “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.” (Korintus 13: 4-8). 

Dan dalam ajaran Budha “Cinta kasih adalah bagaikan seorang ibu yang mempertaruhkan nyawanya, melindungi putra tunggalnya. Demikianlah terhadap semua makhluk, dikembangkannya pikiran cinta kasih tanpa batas, ke atas, ke bawah, dan ke sekeliling, tanpa rintangan, tanpa benci dan permusuhan.” (Mettā Sutta, Khuddakapāñha, Khuddaka Nikāya).

Dari sini kita dapat memahami bahwa Cinta adalah sesuatu yang universal. Cinta menjangkau siapa saja, agama apa saja, laki-laki maupun perempuan. Dalam ajaran setiap agama, cinta bahkan menjadi inti pokok dari agama itu. bagaimana kita harus berbuat penuh cinta kasih kepada sesama manusia.

Mengapa ada cinta? Mengapa kita mencintai? Cinta membuat hidup kita lebih berarti, membuat kita mempunyai tujuan dalam hidup. Kita mencintai, karena kita membutuhkan cinta. Kita membutuhkan kasih sayang, tidak sekedar untuk kebahagiaan pribadi. Cinta adalah bagaimana kita mengasihi orang lain, mengasihi sesama, mengasihi lingkungan dan alam, sehingga kita pun akan dicintai dan dikasihi. Kita mencintai, maka kita akan dicintai. 

Kita akan diperlakukan sebagaimana kita memperlakukan orang lain. jika kita mencintai sesama, maka kita juga akan dicintai dengan cinta yang sama atau bahkan mungkin dengan cinta yang lebih besar. cinta lah yang akan membuat dunia lebih damai dan lebih berarti. Kita mencintai, karena kita ingin agar dunia menjadi tempat yang lebih baik untuk kita tinggali, hari ini dan di masa mendatang. Untuk kita dan generasi mendatang.