Gonjang-ganjing rumah tangga Meghan-Harry kembali ramai menjadi buah bibir penduduk dunia setelah pertemuannya dengan Oprah Winfrey. Meghan-Harry duduk tidak hanya untuk menceritakan urusan internal keluarga dan prahara rumah tangganya, namun lebih dari itu. Mengingat kasus diskriminasi perlakuan kerajaan terhadap anggota keluarga yang keluar dari mainstream telah terjadi beberapa kali, Meghan-Harry mengangkat isu penting mengenai tindakan rasisme, seksisme, dan kesehatan mental mereka yang menjadi dampaknya.

Pertanyaannya, mengapa kita harus sangat jauh membicarakan keluarga Kerajaan Inggris di seberang sana, kalau di Indonesia sendiri banyak kondisi kerajaan dan kesultanan yang tidak stabil dan mirip rumah tangga artis, salah satunya Kesultanan Ternate?

Apa yang Salah dengan Membicarakannya?

Sejak awal, pernikahan Meghan-Harry banyak mendapat perhatian media Inggris. Terutama, pada sosok Meghan Markle. Media melihat Meghan dari segala sudut. Utamanya, bagaimana kehidupannya bak Princess Cinderella. Media Inggris menarasikan kehidupannya seperti gadis remaja pada umumnya, yang penampilannya sangat casual, hangout bersama teman-temannya, dan aktifitas lainnya yang sangat jauh dari dunia kerajaan.

Setelah memasuki The World of Married, gaun pernikahannya dikupas habis, cara berpakaian dan tata rambut Meghan disorot tajam. Sampai akhirnya semua semakin pecah setelah Meghxit, Meghan-Harry mengumumkan keluar dari Istana.

Isu yang diangkat oleh Meghan-Harry pasti bukan tanpa tujuan. Dengan memanfaatkan keadaan media Inggris yang mengobjektifikasi kehidupan Kerajaan, Meghan-Harry bersama Oprah ingin menyadarkan dunia mengenai diskriminasi yang mereka alami. Rasisme, bahkan tidak hanya meletakkan orang tuanya sebagai korban, tapi juga kepada seorang anak yang datangnya dari keluarga sendiri.

Namun, sayangnya yang Meghan-Harry hadapi tidak hanya anggota keluarganya, tapi justru media itu sendiri. Pada kenyataannya, media tidak pernah benar-benar peduli dengan apa yang diperjuangkan mereka berdua. Media (hanya) tahu bahwa berjualan kehidupan keluarga Kerajaan sebagai oplah.

Tidak cukup menjadikannya sebagai barang jualan, media Inggris dengan sedemikian rupa mengeksploitasi pemberitaan mengenai kehidupan Kerajaan. Alih-alih mengedukasi, mereka kerap menulis yang tidak sebenarnya. Terlebih, melihat pihak Kerajaan seakan tidak mampu untuk menampik, meluruskan, atau melakukan kontra narasi. 

Pada akhirnya, seperti pemberitaan yang sampai pada pengguna internet di Indonesia, mengonsumsi pemberitaan Meghan-Harry sama seperti gosip dan tindakan ghibah belaka ketimbang membicarakan isu yang juga cukup kencang terjadi di Indonesia. Kita patut berduka bahwa perjuangan Meghan-Harry masih panjang dan berliku, dan kita (yang hanya melihatnya sebagai infotainment) ikut menyumbang kesulitan tersebut.

Disinilah letak kesalahan kita membicarakan Royal Family, melihat bahwa “mereka” adalah topik yang seru dan enak untuk dibicarakan, tapi lupa bahwa mereka adalah “kita” yang juga sedang diperlakukan tidak adil, menerima perlakuan rasisme, ditambah diobjektifitkasi oleh media seakan-akan kita adalah hiburan.

Apa yang Benar dengan Membicarakannya? 

Mengapa untuk mengambil pelajaran tersebut harus dipetik dari halaman Istana Inggris? Bukankah konflik kesultanan-kesultanan di Indonesia juga tidak kalah penting untuk kita ambil hikmahnya?

Tulisan ini terinspirasi dari cuitan @auliasoebardi, “Kok orang Indonesia demen ngomongin royal family Inggris sih?" Yah mau ngomongin Sultan Jogja kurang menarik soalnya, nanti ditanya KTPnya darimana :(“. Dari replynya, banyak yang menyinggung soal sulitnya membicarakan kehidupan kesultanan di Indonesia karena kerap dianggap tidak berhak dan tidak mumpuni.

Walaupun begitu bukan berarti tidak pernah ada yang membicarakannya. Dari seluruh kesultanan di Nusantara, barangkali Kesultanan Yogyakarta yang sering dibicarakan. Kesultanan yang lain memiliki porsi yang sangat sedikit dibahas di media sosial dan media online, paling banter jadi pemberitaan portal online lokal.

Salah satu yang porsinya mungkin kurang dari 12 kali dalam satu tahun di portal media adalah Kesultanan Ternate. Selain sebagai sejarah peradaban Islam yang sangat penting di Indonesia, Kesultanan Ternate tidak pernah menarik untuk diketahui. Bahkan, (selain orang Indonesia Timur) ada berapa orang yang tahu bahwa Ibukota Provinsi Maluku Utara bukan lagi Ternate, melainkan sudah dipindahkan ke Kota Sofifi? Siapa pula yang tahu bahwa Sultan Ternate sudah lama wafat dan proses pergantiannya masih menjadi konflik sampai saat ini?

Membicarakan Maluku Utara tidak pernah menarik, sepi click dan pemasang iklan. Sedramatis apapun kehidupan keluarga Kesultanan, sulit untuk mengemasnya menjadi barang jualan yang menarik. Masalahnya, pangsa pasarnya tidak ada.

Meskipun itu menjadi nasib buruk yang harus dialami oleh kesultanan dan daerah Indonesia Timur, namun media setidaknya tidak mengeksploitasi kehidupan seseorang dan merenggut ruang privasinya. Kesultanan yang tidak memiliki tanggung jawab politik karena tidak memiliki kuasa administratif di wilayahnya, memiliki ruang privat dan ruang gerak yang lebih bebas dibandingkan nasib Royal Family.

Dengan cara kita tidak tertarik pada infotainment yang mengeksploitasi kehidupan seseorang dan melanggar privasinya, media tidak akan pernah cari mati dengan membuang waktu dan tenaganya untuk informasi yang tidak akan terjual. Melihat sebuah informasi sebagai bahan kritik mengenai isu sosial dan politik, hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan publik, akan membuat media menjual barang yang berkualitas dan bermutu.

Hal yang benar dengan kita membicarakan kehidupan duniawi Royal Family dibandingkan Keluarga Haji Mudaffar Sjah II adalah mengurangi pekerjaan sia-sia media dalam menginformasikan kehidupan privasi seseorang, tidak melihatnya sebagai oplah, dan tidak mengeksplotasinya untuk mendapatkan klik.

Penutup

Media tidak akan memberikan effort lebih untuk sesuatu yang tidak pasti akan laku. Menjual pemberitaan mengenai Kesultanan Ternate, Kesultanan Tidore, Kesultanan Jailolo, dan Kesultanan Bacan minim klik karena minim dicari. Hal ini tidak hanya berarti baik, namun juga memiliki arti sirkulasi informasi hanya berarus dari Jawa dan Sumatera, Maluku Utara dan  Indonesia Timur lainnya masih terus disisihkan oleh media. Akhirnya, tidak hanya sepi gosip, tapi juga sepi dari segala pemberitaan. Pemberitaan penting yang bersifat publik juga ikut terpinggir.

Pada prinsipnya, apa yang dijual adalah apa yang dicari oleh pasar. Media Inggris tahun bahwa apa yang dicari dan diinginkan oleh pembacanya adalah apa yang terjadi di balik kemegahan Istana Inggris. Barangkali, melihat kucingnya yang berseliweran di halaman Istana pun kita ingin tahu apa yang ia makan dan minum.