Baru-baru ini Microsoft mengeluarkan laporan mengenai tingkat keadaban, keamanan dan interaksi daring pengguna internet. Yang mengejutkan, dalam laporan tersebut Indonesia menempati peringkat terbawah di Asia Tenggara, tingkat keadaban Indonesia disebut memburuk sebanyak 8 poin hingga angka 76. Hasil laporan ini seolah langsung terkonfirmasi, karena banyak warganet Indonesia yang menyerang postingan Microsoft dengan nada kasar dan negatif. Akibatnya, Microsoft menutup komentar dalam postingannya tersebut.

Brutalnya sikap warganet juga bisa kita lihat dari cara para pendengung (buzzer) membungkam kritik para intelektual.  Pandu Riono, seorang epidemolog UI yang kritis terhadap penanganan pandemi Covid-19 sempat diretas dan data-data pribadinya disebarkan dengan pembingkaian yang negatif. Peretasan dan doxing ini dilakukan untuk mempermalukan korban sehingga diharapkan pandangannya tidak lagi kritis.

Bentuk kebiadaban dalam dunia maya lainnya adalah perundungan daring. Dari laporan Microsoft tersebut, 5 dari 10 responden mengaku terkena perundungan daring. Sebagian besar yang menjadi sasarannya adalah generasi milenial (54%) dan generasi Z (47%).

Temuan ini tidak bisa dianggap sepele. Pasalnya, sikap kasar, perundungan, doxing dan segala tindakan tidak menyenangkan di dunia maya pada dasarnya berpengaruh pada kesehatan mental seseorang yang menjadi sasarannya. Danny Wallace, dalam bukunya yang berjudul F*** You Very Much: The Surprising Truth About Why People Are So Rude, menjelaskan bahwa dampak dari sikap kasar yang diterima di dunia maya seperti sebuah neurotoxin. Itu seperti substansi beracun yang berdampak negatif pada sistem saraf kita.

Efeknya bisa menimpa fungsi eksekutif yang berpengaruh pada kesehatan otak kita. Bahkan dia menyebut sikap kasar di dunia maya sebagai pembunuh tidak tampak dan jika tidak ditangani secara serius maka dampaknya bisa mengganggu fungsi otak bagian depan (frontal lobes) yang mengatur cara kita mengingat, konsentrasi dan pemecahan masalah.

Mengapa warganet Indonesia mudah bersikap kasar, melakukan perundungan, dan seperti tidak beradab ketika berinteraksi di dunia maya? Padahal orang Indonesia dikenal ramah dan murah senyum. Kesan ini utamanya melekat di mata orang asing. Lalu kenapa di dunia maya kesan ini seolah berkebalikan.

Salah satu jawabannya adalah karena interaksi di internet sifatnya virtual. Karena kita tidak bertemu langsung, bertatap muka dan melakukan kontak mata, maka mudah untuk merendahkan, mencaci, merundung dan berlaku tidak menyenangkan. Seandainya interaksi itu dilakukan di dunia nyata dengan bertatap muka, apakah kita berani bersikap kasar, merundung, menghina dan mencaci maki? Tentu kita akan berpikir berkali-kali untuk melakukannya. Kita masih dibatasi oleh norma kesopanan dan sikap menjaga perasaan orang lain.

Komunikasi di media sosial juga tidak dalam waktu-nyata (real time). Artinya kita bisa meninggalkan proses komunikasi kapanpun kita mau. Berbeda dengan tatap muka yang mengharuskan kita konstan berkomunikasi dan terbatasi oleh tempo waktu, interaksi daring memberi justifikasi bagi warganet untuk berkata kasar kemudian meninggalkan percakapan.

Selain itu, dalam dunia maya otoritas seperti lenyap. Dalam virtualitas, hirarki otoritas, entah itu berdasarkan usia, kepakaran atau otoritas hukum seperti menghilang. Setiap orang merasa tidak dibatasi oleh otoritas apapun. Dalam suasana anarkis sedemikian, orang menjadi gampang untuk bersikap kasar kepada orang lain. Karena pada dasarnya dia tidak mengenal lawan bicaranya.  

Terakhir, kata-kata kasar dan perundungan berlindung di balik jubah anonimitas atau akun-akun tanpa nama. Dengan identitas palsu, atau paling tidak dikenal secara dekat, mereka bisa dengan mudah melontarkan komentar kasar terhadap pihak lain. Akun-akun anonim juga banyak ditemukan di Twitter. Beberapa pendengung yang mengungkapkan data pribadi sesorang untuk kemudian dipermalkukan juga adalah akun anonim. Di balik akun tanpa nama, mereka tidak memiliki beban untuk menyerang pihak lain karena sulit untuk diserang balik.

Pada akhirnya, upaya mengatasi kebiadaban di dunia maya tidak bisa hanya mengandalkan penegakan hukum. Untuk peretasan, doxing, dan ancaman-ancaman yang mengarah pada kekerasan dan penghilangan nyawa mungkin bisa ditangani oleh penegak hukum sehingga memberikan efek jera kepada yang lainnya. Tetapi aparat penegak hukum tidak mungkin menangkap semua pelaku-pelakunya.

Dari sisi masyarakat, literasi digital semestinya dimulai sedini mungkin di institusi pendidikan. Selama ini, literasi digital masih dominan dalam aspek teknis penggunaan komputer. Belum menyentuh pada aspek sosial dan etis. Kedepan program-program literasi digital harus diperluas. Sehingga perluasan akses teknologi tidak hanya soal akses terhadap teknologi sebagai alat, tetapi juga perluasan kecapakan dan kebijaksanaan dalam menggunaan teknologi.

Platform digital juga bisa berkontribusi dengan melakukan pencegahan dengan menghapus konten-konten yang bersifat abusif, doxing, dan perundungan daring. Pemerintah bisa mendorong perusahaan media sosial untuk berkolaborasi untuk menciptakan ekosistem internet yang aman dan nyaman.

Pada dasarnya perilaku warganet Indonesia akan terus menjadi sorotan dunia. Dengan jumlahnya yang mencapai 202 juta pengguna dan merupakan ke-6 terbesar di dunia, maka percakapan warganet Indonesia akan cukup berpengaruh dalam dunia maya global. Semestinya dengan jumlah tersebut, Indonesia bisa lebih terdengar di dunia maya, tentu seharusnya dengan unggahan konten positif dan budaya yang apresiatif, bukan dengan kata-kata abusif.